Berkali-kali aku selalu niatkan dalam hati, melupakannya mungkin adalah keputusan yang terbaik. Rasa di dalam dadaku ini bisa saja hanyalah ambisi yang belum tersampaikan, memilikinya. Tapi entah mengapa, dia selalu hadir di setiap jalan mimpiku. Saat aku memikirkannya atau tidak sama sekali, dia tetap datang.
Sayangnya, hampir di semua mimpi yang ada dia di dalamnya, kita tak pernah berbicara sedikitpun. Aku tetap menjadi aku di dunia nyata, yang hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Menatap rona senyumnya dibalik dinding bisu. Selalu begitu. Aku pun bingung, mengapa tidak berubah sedikitpun.
Kawan ku berkata, “apabila kamu memimpikan seseorang berkali-kali, tandanya kamu atau orang itu ingin sekali bertatap muka”. Ah, masa iya? Sepertinya hanya aku saja yang benar-benar ingin melihatnya lagi. Sementara dia tidak sama sekali dalam keinginan itu. Secara, dia tidak pernah mengenalku, memang kita berdua melewati masa SMA dalam satu masa, tapi aku ataupun dia tidak pernah membuka suara.
Pernah beberapa kali kita bertatap muka, tapi ya berlalu begitu saja. Kita melewati satu sama lain, tanpa sapa dan isyarat salam. Miris, bukan? Tapi meskipun begitu, dadaku selalu bergetar setiap ia ada, mataku selalu menuju padanya meski di tengah kerumunan orang. Cinta sehebat itu ya? Bisa datang tanpa sebuah kedekatan, bisa melekat tanpa ikatan.
Dulu juga aku pernah masuk tim basket sekolah, bukan karena aku suka basket, jelas-jelas tinggi badanku sepertinya tidak masuk kategori pemain ideal. Aku mengikuti ekstrakulikuler itu hanya untuk terus berada di sisinya. Meskipun kenyataannya, dia tidak pernah menganggap aku ada, Dia lebih sering berkumpul dengan kawan ku yang lain, yang skill-nya tidak diragukan lagi. Sedangkan aku, hanya menjadi bahan tertawaan mereka saat bagian ku bermain. Aku lebih sering jatuh dan menghabiskan waktu untuk berlari kesana kemari, sementara bola tidak pernah jatuh padaku. Kalaupun ada posisi untuk membersihkan keringat pemain, mungkin aku lebih pantas di posisi itu.
Tapi itu hanya sedikit kisah seputar aku dan dia, yang sampai saat ini menjadi deretan kalimat yang aku tulis selagi menunggunya. Entah sampai kapan waktu terus berjalan. Apapun itu, aku hanya bisa berdoa, semoga suatu saat nanti, dia sadar bahwa rasaku bukan sekedar ambisi. 8 tahun berselang, aku percaya ini bukan sekedar rasa.
Tangerang, 4 Desember 2019