Kisah Generasi Terbaik: Wanita Terbaik
Bismillahirrahmanirrahim,
"Ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku."
Ungkapan tersebut terucap jujur dari lisan suaminya, ketika ditanya tentang istrinya; yang mana sosoknya merupakan seorang wanita terbaik, sedang kiprahnya adalah kiprah seorang muslimah paling mulia.
Beberapa tahun sebelumnya.
Gadis kecil itu menjalani dan menghabiskan masa kecilnya di jalan dakwah yang penuh lika-liku juga luka; termasuk beberapa tahun bersama keluarganya harus menjalani hidup di sebuah padang gembalaan akibat pemboikotan. Tidak cukup hanya itu, gadis kecil itupun juga turut merasakan duka mendalam karena sejak kecil ditinggalkan oleh ibundanya yang sangat mencintainya. Gadis kecil itu pun tumbuh menjadi pribadi yang pemberani, teguh, dan mandiri. Pernah di suatu hari, ketika ayahnya mendapat perlakuan jahat dari orang-orang yang jahat di sekitarnya hingga dahinya mengucurkan darah. Gadis itupun bergegas mendatangi sekumpulan orang jahat tersebut. Ia lantas menyatakan amarah dan rasa tidak terimanya kendati yang dihadapinya adalah orang-orang dewasa dan jahat pula. Sebakdanya, ia segera bergegas pulang dan merawat luka ayahnya.
Seiring berjalannya waktu, gadis kecil itupun tumbuh menjadi sosok muslimah sejati yang benar-benar menjaga kehormatan dirinya. Beliau lebih memilih untuk menghabiskan waktunya untuk beribadah di dalam rumah. Tidak hanya itu, masa kecilnya yang dijalani beliau tanpa sosok serang ibu membuatnya tumbuh menjadi seorang muslimah yang ahli ibadah tapi juga pandai mengurus rumah tangga.
Sebagaimana seorang gadis yang mulai dewasa; beliau kini tiba masanya untuk menikah. Sudah cukup banyak laki-laki dan pemuda terhormat serta terpandang datang menemui ayahnya. Tidak hanya itu, sahabat-sahabat ayahnya pun juga mengajukan khitbah kepadanya namun ayahnya menolak dengan halus, karena memang putrinya belum mengiyakan. Hingga akhirnya, hari itu tiba.
Seorang pemuda sederhana namun telah memuliakan islam dengan pengorbanannya memberanikan diri untuk melamarnya melalui ayahnya. Pemuda itu tidaklah kaya, bahkan jauh dari kaya. Sehari-harinya pemuda tersebut bekerja sebagai pengambil air dan buruh menurunkan kurma. Pemuda itu sebenarnya telah lama beliau kenal, dan kesungguhan pemuda tersebut tidak diragukan lagi. Kali ini beliau menerima pinangan tersebut dan ternyata langkah yang beliau ambil benar-benar sesuai dengan kehendak Allah. Bahkan, jauh sebelum pernikahan mereka di dunia; Allah telah menikahkan mereka berdua di sebuah telaga nan indah di dekat sebuah teratai di surga. Tidak hanya itu Allah pun turut merayakan pernikahannya di dekat Baitul Makmur, menitahkan malaikat untuk mendoakannya, dan menitahkan sebuah pohon di surga untuk menghujani kedua pengantin tersebut dengan manik-manik nan indah.
Hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi seluruh makhluk Allah. Pernikahan tersebut seolah-seolah memupus segala anggapan yang salah tentang pernikahan. Bisa saja, ayah beliau memilihkan sosok menantu yang kaya, terhormat, tampan, atau putra pembesar negeri yang bisa menjanjikan kemewahan dunia yang melimpah mengingat ayahnya adalah sosok yang paling dihormati di negerinya. Tapi tidak!. Allah lebih rida, ayahnya lebih rida, ia menikah dengan seorang pemuda dengan status sosial yang tidak kaya. Pemuda itu tidak memiliki rumah, hartanya hanya mempunyai seekor unta untuk bekerja mengambil air, sebilah pedang, dan baju besi yang ia gunakan membela agama Allah; dan jika Allah dan ayahnya rida; baginya itu cukup, karena beliau memang telah menarik diri dari kenikmatan dunia dan lebih memilih akhirat sebagai orientasi hidupnya.
Dari pernikahannya yang hanya bermahar baju besi yang itupun kemudian dijual untuk dibelikan wewangian, perabotan rumah tangga sederhana, sebuah pakaian, sebuah kasur berisi sabut, dan kantung untuk tempat menyimpan air; beliau mengajarkan arti kesederhanan dan esensi pernikahan yang merupakan sebentuk bahtera yang dicipta di dunia untuk menuju ridha Allah, dan disatukan di surga. Pada pernikahannya yang sederhana tersebut, ayahnya turut memercikan air yang diberkahi, dan mendoakan mereka berdua agar senantiasa dilindungi dari syaitan dan senantiasa diberkahi Allah.
Menjalani kehidupan sebagai pengantin dengan usia yang masih muda dan dalam kondisi perekonomian yang tidak mudah membuat beliau menjadi sosok yang begitu tabah. Tak pernah sekalipun beliau mengeluhkan pendapatan suaminya atau menggerutu ketika menerima uang hasil kerja keras suaminya. Sedikit gambaran dari rumah tangga beliau; beliau tinggal bersama suaminya di sebuah rumah kecil yang merupakan hasil hutang. Rumah tersebut sangat sederhana, di dalamnya hanya beralas tanah dan berbatu kecil yang sering membuat telapak kaki sakit yang kemudian oleh suaminya di timbun dengan pasir halus sebelum istrinya pindah kesana agar istrinya bisa tinggal dengan nyaman.
Beliau menjalani hidup dengan penuh kesyukuran dan kesabaran hingga akhirnya beliau dikaruniai oleh 5 orang anak, satu diantaranya meninggal karena beliau mengalami keguguran. Keseharian beliau sebagai seorang ibu benar-benar layak menjadi teladan bagi siapapun, terutama kaum wanita yang pada waktunya nanti akan menjalankan peran sebagai seorang ibu. Kendati beliau merupakan sosok muslimah paling tabah, namun beliau juga masih seorang manusia dengan sifat-sifatnya yang juga manusiawi terutama tersebab karena kelelahan dalam menjalankan kewajibannya sebagai ibu dari 4 orang anaknya.
Suatu hari, ayahnya menjenguk beliau. Ketika itu beliau sedang membuat tepung dengan alat penggiling sambil menangis.
“Kenapa menangis, putriku?” Tanya Ayahnya, “Mudah-mudahan Allah tidak membuatmu menangis lagi.”
“Ayah,” beliau menjawab, “aku menangis hanya karena batu penggiling ini, dan lagi aku hanya menangisi kesibukanku yang silih berganti.” Sang Ayah kemudian mengambil tempat duduk di sisinya. Beliau berkata, “Ayah, demi kemuliaanmu, mintakan kepada suamiku supaya membelikan seorang budak untuk membantu pekerjaan-pekerjaanku membuat tepung dan menyelesaikan pekerjaan rumah.”
Setelah mendengar perkataan putrinya, sang Ayah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat penggilingan. Beliau memungut segenggam biji-bijian gandum dimasukkan ke penggilingan. Dengan membaca bismillahir rahmanir rahim maka berputarlah alat penggiling itu atas ijin Allah. Beliau terus memasukkan biji-bijian itu sementara alat penggiling terus berputar sendiri, sambil memuji Allah dengan bahasa yang tidak dipahami manusia. Ini terus berjalan sampai biji-bijian itu habis.
Ayahnya berkata kepada alat penggiling itu, “Berhentilah atas ijin Allah. Seketika alat pengiling pun berhenti. Beliau berkata sambil mengutip ayat Al-Qur’an, Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya, dan mereka selalu mengerjakan segala yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).
Merasa takut jika menjadi batu yang kelak masuk neraka, tiba-tiba batu itu bisa berbicara atas ijin Allah. Ia berbicara dengan bahasa Arab yang fasih. Batu itu berkata, “ Demi Dzat yang Mengutusmu dengan hak menjadi Nabi dan Rasul, seandainya engkau perintahkan aku untuk menggiling biji-bijian yang ada di seluruh jagat Timur dan Barat, pastilah akan kugiling semuanya.” Dan aku mendengar pula, kata Abu Hurairah yang meriwayatkan kisah ini, bahwa Nabi Saw. bersabda, “Hai Batu, bergembiralah kamu. sesungguhnya kamu termasuk batu yang kelak dipergunakan untuk membangun gedung putriku di surga.” Seketika itu, batu penggiling itu bergembira dan berhenti. Sang ayah kemudian berpesan kepada putrinya, “Kalau Allah berkehendak, hai putriku, pasti batu penggiling itu akan berputar sendiri untukmu. Tetapi Allah berkehendak mencatat kebaikan-kebaikan untuk dirimu dan menghapus keburukan-keburukanmu, serta mengangkat derajatmu.
Wahai putriku, setiap istri yang membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah mencatat baginya memperoleh kebajikan dari setiap butir biji yang tergiling, dan menghapus keburukannya, serta mengangkat derajatnya.
Wahai putriku, setiap istri yang berkeringat di sisi alat penggilingnya karena membuatkan bahan makanan untuk suaminya, maka Allah menjauhkan antara dirinya dan neraka sejauh tujuh hasta.
Wahai putriku, setiap istri yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisirkan rambut dan mencucikan baju mereka, maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang yang memberi makan seribu orang yang sedang kelaparan dan seperti orang yang memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
Wahai putriku, setiap istri yang mencegah kebutuhan tetangganya, maka Allah kelak akan mencegahnya (tidak memberi kesempatan baginya) untuk minum dari telaga Kautsar pada hari kiamat.
Wahai putriku, tetapi yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhaimu, tentu aku tidak akan mendoakan dirimu.
Bukankah engkau mengerti, wahai putriku, bahwa ridha suami itu bagian dari ridha Allah, dan kebencian suami merupakan bagian dari kebencian Allah.
Wahai putriku, manakala seorang istri mengandung, maka para malaikat memohon ampun untuknya, setiap hari dirinya dicatat memperoleh seribu kebajikan, dan seribu keburukannya dihapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Apabila telah melahirkan, dirinya terbebas dari dosa seperti keadaannya setelah dilahirkan ibunya.
Wahai putriku, setiap istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, maka dirinya terbebas dari dosa-dosanya seperti pada hari dirinya dilahirkan ibunya. Ia tidak keluar dari dunia (yakni mati) kecuali tanpa membawa dosa. Ia menjumpai kuburnya sebagai pertamanan surga. Allah memberinya pahala seperti seribu orang yang berhaji dan berumrah, dan seribumalaikat memohonkan ampunan untuknya hingga hari kiamat.
Setiap istri yang melayani suaminya sepanjang hari dan malam hari disertai hati yang baik, ikhlas, dan niat yang benar, maka Allah akan mengampuni dosanya. Pada hari kiamat kelak dirinya diberi pakaian berwarna hijau, dan dicatatkan untuknya pada setiap rambut yang ada di tubuhnya dengan seribu kebajikan, dan Allah memberi pahala kepadanya sebanyak seratus pahala orang yang berhaji dan berumrah.
Wahai putriku, setiap istri yang tersenyum manis di muka suaminya, maka Allah memperhatikannya dengan penuh rahmat.
Wahai putriku, setiap istri yang menyediakan diri tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, maka ada seruan yang ditujukan kepadanya dari langit. ‘Hai wanita, menghadaplah dengan membawa amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang berlalu dan yang akan datang.
Wahai putriku, setiap istri yang meminyaki rambut suaminya, demikian pula jenggotnya, memangkas kumis dan memotong kuku-kukunya, maka kelak Allah akan memberi minum kepadanya dari rahiqim makhtum (tuak jernih yang tersegel) dan dari sungai yang ada di surga. Bahkan kelak Allah akan meringankan beban sakaratul maut. Kelak ia akan menjumpai kuburnya bagaikan taman surga. Allah mencatatnya terbebas dari neraka dan mudah melewati sirath (titian).
Semenjak saat itu, beliau semakin menjadi seorang istri yang begitu tabah dengan segala kondisi hidup keluarganya. Beliau benar-benar menjadi teladan bagai wanita yang ingin meraih ridha Alah semata. Beliau meneggelamkan diri dalam ibadah yang khusyuk lagi mesra tanpa melupakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Hingga akhir perjalanan hidup beliau di dunia ini tiba. Beliau berpulang ke haribaan Allah tak lama setelah ayah tercinta meninggalkannya. Tanggal 3 Ramadhan di tahun 11 hijriyah, beliau akhirnya benar-benar kembali ke haribaan Ilahi setelah di hari itu, beliau menyisiri kedua putranya dan meminta kedua putranya untuk berziarah ke pemakaman Baqi agar kedua putranya tidak bersedih melihat ibunya tengah bersiap menyusul kakek mereka. Tidak hanya itu, beliau juga meminta halal kepada suaminya, agar kesalahan beliau selama ini dimaafkan dengan penuh keikhlasan seraya meminta suaminya untuk bersabar menghadapi kehilangan. Beliau juga berpesan kepada anak-anaknya agar tidak berpaling dari jalan Al Quran, jalan RasulNya, dan jangan melawan ayahnya setelah ibu tiada. Tidak hanya itu, beliau meminta suaminya sendiri yang memandikan dan mengebumikan beliau di malam hari agar tidak ada orang yang melihatnya. Beliau akhirnya benar-benar kembali ke haribaan Illahi ketika beliau meminta untuk waktu untuk menyendiri di kamar beliau sembari melantunkan dzikir dan ayat-ayat suci; apabila suaranya dzikir dan tilawahnya tak terdengar lagi; maka berarti beliau sudah tiada.
..........................................................................
Sosok wanita dalam kisah diatas adalah Sayyidah Fathimah Az Zahra, putri yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW, keturunan Rasulullah SAW yang paling mirip dengan Rasulullah, baik cara bicara cara duduk, dan cara berjalannya. Beliau juga merupakan putri kesayangan ibunya, Khadijah At Thahirah, bahkan jauh-jauh hari sebelum kematian beliau ibunda Khadijah telah mempersiapkan seorang wanita bernama Asma’ binti Umais agar kelak menjadi seseorang yang membantu mempersiapkan dan menenangkan kegugupannya di hari pernikahan beliau dengan Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib. Dari rahimnya yang suci, Allah memberkahi beliau dengan kehadiran 5 orang anak; yaitu Hasan, Husain, Zainab, Ummu Kultsum, dan Muhsin --yang meninggal keguguran ketika masih berupa janin dalam rahim sucinya.
Kendati beliau adalah seorang putri Rasulullah SAW yang paling istimewa dan tidak sedikit orang yang menawarkan bantuan untuk membantunya mengurus rumah tangga; beliau lebih memilih untuk merawat sendiri keluarganya. Pernah suatu ketika Bilal bin Rabah, Muadzin Rasulullah bercerita. “Saya melewati Fathimah yang sedang menggiling,” kata Bilal,
“sementara anaknya menangis.” “Saya berkata kepadanya,” kata Bilal melanjutkan. “Jika engkau mau, biar aku yang memegang gilingan dan engkau memegang anak itu. Atau, aku yang
memegang anak itu dan engkau memegang gilingan.” Ia berkata, “Aku lebih dapat mengasihi anakku daripada engkau.”
Keteguhan dan kelembutan ibunda Fathimah dalam merawat serta mengurus rumah tangganya benar-benar menginspirasi siapapun yang berkenan untuk menderas kisah serta peri kehidupan beliau. Pernah Jabir Al-Anshari menceritakan bahwa Rasulullah SAW melihat Fathimah sedang
menggiling dengan kedua tangannya sambil menyusui anaknya. Maka mengalirlah airmata Rasulullah. “Anakku,” katanya, ”engkau menyegerakan kepahitan dunia untuk kemanisan akhirat.” Fathimah mengatakan, “Ya Rasulallah, segala puji bagi Allah atas nikmat-Nya, dan pernyataan syukur hanyalah untuk Allah atas karunia-Nya.” Lalu Allah menurunkan ayat, “Dan kelak Tuhanmu pasti akan memberimu karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.”
Sayyidah Fathimah Az Zahra, seorang putri kesayangan Rasulullah Muhammad SAW, di hari pernikahan beliau dengan Sayyidina Ali, Rasulullah SAW berpesan kepada Sayyidina Ali untuk jangan sekalipun menyakiti putrinya, karena Fathimah adalah bagian dari dirinya, dan dirinya adalah bagian dari diri beliau. Kepada putri yang paling beliau cintai, Rasulullah memperbolehkan sayyidah Fathimah untuk tidak memanggil beliau dengan sebutan Rasulullah, tetapi ketinggian adab Sayyidah Fathimah, membuat beliau tetap memanggil ayahnya dengan sebutan Rasulullah SAW. Beliau juga telah mendapat kabar bahwa kelak beliau akan menjadi pemimpin dan penghulu para wanita di surga.
Senarai perjalanan hidup, ibunda Fathimah Az Zahra teah mengajarkan, menunjukkan, dan sekaligus meneladankan sikap dan sifat seorang anak yang berbakti, seorang istri yang qonitat, shalihat, dan hafidzat, serta seorang ibu yang benar-benar menjadi madrasatul ‘ula bagi anak-anaknya. Perjalanan hidup beliau seolah-oleh menghadirkan kembali cermin permata yang memantulkan pantulan penuh ibrah dan hikmah bagi semua muslimah yang saat ini hidup di zaman yang tak lagi ramah dan penuh dusta. Sosoknya benar-benar menginspirasi; memberikan nyala dan pijar nan indah di dalam hati. Pertanyaannya, tak inginkah kita, istri kita, dan anak-anak kita nanti mengikuti langkah kecilnya di dunia yang bermuara di surga ?
*Ditulis dengan penuh kekurangan di Ruang Sederhana dari berbagai sumber, diantaranya:
- Kitab Uqudul Lujain karya Imam Nawawi Al-Bantani.
- Kado pernikahan untuk istriku, karya M. Fauzil Adhim.
-Gambar dari Google
“Teriring pesan kepada para muslimah agar senantiasa sabar, dan tabah dan benar dalam memilih dan meneladani teladannya”