(Akhirnya) PENGANTAR FILSAFAT BARAT (Untuk Pemula seperti Saya)
-“Akhirnya setelah sekian lama”
Hari ini terjadi begitu saja dan terlalu banyak hal yang membuat hari ini begitu hidup.
Dan salah satu hal random terjadi saat saya baru saja selesai rapat himpunan, dan kembali lagi ke tiben. Dan rupanya di tiben sedang ada diskusi pengantar mengenai Pengantar Filsafat Barat yang dibawakan oleh Okie.
Saya yang setelah seharian sejak pagi tak sempat untuk istirahat, awalnya memang sengaja berniat ke tiben untuk istirahat saja sejenak, sebelum pulang ke rumah untuk tidur menutup hari. Sampai tiben sudah diniatkan, “Wah harus tidur sejenak dan istirahat setelah hari ini begitu banyak hal, relax dulu lah, sebelum pulang”
Taunya sampai tiben Okie dan beberapa anak sedang berkumpul membahas ini. Akhirnya karena begitu menarik, dan akhirnya terpanggil untuk menyimak Okie
Tadinya sambil pelan2 menutup mata, sekilas2 saja mendengar materi yang dibawakan okie. Dan kebetulan juga sudah sedikit membaca ttg nya, dan baru saja kurang lebih sebulan menyelesaikannya.
Ah yasudah nis istirahat lah
Rupanya setelah dengar2, wah yang okie bawakan lebih sederhana sih. Contoh2 nya juga lebih praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sementara saya kemarin2 membaca bukunya saja, padahal buku setipis itu, tapi karena dipahami sedikit2 dan lumayan sulit bila tidak dijelaskan contohnya dalam kehidupan sehari2, jadi terasa lama sekali untuk mempelajarinya dan sering kali jenuh. Baru sedikit baca, udahan. Dan karena jenuh, jangankan berniat untuk membuat resensi. Meresensinya rasanya jadi ogah-ogahan karena bingung sendiri dan masih banyak yang kurang dimengerti...
Akhirnya tanpa pikir panjang bergabung menyimak okie dan kawan-kawan.
Kawan-kawan lain pun memberikan contoh juga bertanya tentang contoh-contoh dalam sehari-hari. Alhasil diskusi pengantar yang berlangsung hampir 2 jam ini dapat dipahami dengan lebih baik dibanding sekedar membaca saja, tanpa memahami betul bentuknya dalam kehidupan sehari hari
Untuk menghindari pengantar yang lebih panjang, mari kita mulai pada gambaran yang didapat dari hasil diskusi tadi (23/11/2016):
Jadi tadi Okie memberi pengantar yang cukup mudah dipahami
Bahwa sederhananya filsafat berasal dari berasal dari bahasa latin yang artinya philein (mencintai) atau philia (cinta) atau philos (sahabat, kekasih) dan sophia (kebijaksanaan, kearifan).
Filsafat bila kita kenali dalam kehidupan sehari-hari semudah kita berkeinginan untuk mencari tahu apa yang sedang kita fikirkan, apakah yang menjadi keresahan kita, berhastrat untuk mencari tahu jawabannya, mencari kebenaran-kebenaran yang selama ini tertutupi, kurang lebih seperti itu.
Jadi (menurut saya), sebenarnya bila kita penasaran akan suatu hal dan kita berniat untuk mencari tahu jawabannya, kita sebenarnya sedang berfilsafat.
Hanya saja rasanya selama ini, kita yang menilai filsafat ini seperti ilmu yang rumit, sangat sulit dipelajari, perlu dipikirkan mendalam dan terus menerus, serta tak jarang beredar isu bahwa dengan mempelajari filsafat kita bisa saja jadi menganggap tuhan tidak ada, pindah keyakinan dan sebagainya, menjadi takut untuk mempelajari atau bahkan berkenalan dengan filsafat.
Padahal, sebenarnya filsafat itu sendiri sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Atau mungkin salah satu contoh yang paling lekat dengan generasi saat ini adalah bahasa “KEPO”
Hanya saja kita tidak menyadarinya
Dan menganggapp filsafat itu harus tertulis
Merupakan hasil pemikiran yang berat yang dihasilkan oleh filsuf
Quotes-quotes tentang kehidupan yang ditulis dengan kalimat yang berat dan istilah-istilah aneh, bahasa-bahasa epik
Balik lagi ke Okie, dia menjelaskan bahwa Filsafat terbagi 2, yaitu Metafisika dan Episteme
Nah Metafisika ini adalah cabang filsafat yang menanyakan/menjelaskan bagaimana suatu benda/makhluk bisa ada dan diakui keberadaannya. Diantaranya bagaimana kita bisa dibilang manusia. Dianggap hidup. Terlihat beraktifitas. Karena kita dilihat oleh orang lain bergerak. Dilihat atau dirasakan oleh indera. Oleh karena itu keberadaan kita diakui. Kita benar2 ada.
Episteme, lebih tentang bagaimana kita mengetahui suatu hal. Intinya epistemologi ini adalah ilmu yang mempelajari tentang “ilmu”
Sesuatu yang sifatnya ilmu, yaitu ilmu alam dan ilmu sosial
Ilmu alam tentu setidaknya kita mengenalnya berupa Sains
Dimana didalamnya terdiri dari data-data yang telah diuji
Dilakukan berapa kali percobaan
Hingga akhirnya karena suatu pola tertentu
Dituliskanlah pola tersebut
Hingga akhirnya pola yang mirip disimpulkan dalam suatu pernyataan ilmiah ataupun rumus
Sesuatu yang dianggap pasti karena sudah diuji beberapa kali hasilnya cenderung “sama” atau kurang lebih demikian.
Nah, imu “pasti ini” didapatkan dari pengalaman atau pola pikir EMPIRISME dan POSITIVISME. Apakah itu?
Jadi, Empirisme ini adalah keyakinan bahwa suatu ilmu disimpulkan sedemikian rupa berkat percobaan atau pengalamann yang diulang berkali-kali dengan sedemikian rupa dan hasilnya selalu mirip hingga disimpulkan dengan kesimpulan akhir berupa suatu pernyataan tertentu.
Intinya si empirisme ini dia belajar BY EXPERIENCE
Orang2 yang mendapatkan ilmu setelah belajar atau mencoba berkali2, dia termasuk orang yang mempercayai EMPIRISME ini.
Sedangkan POSITIVISME, adalah pemahaman yang mempercayai bahwa suatu ilmu atau rumus atau teori atau sebagainya dianggap sebagai “kebenaran”, bila sudah disepakati atau disetujui oleh banyak orang. Kurang lebih seperti itu.
Misalnya bahwa warna daun adalah hijau. Dan banyak orang juga berkata dan melihat daun hijau. Maka daun memang berwarna hijau
Dan kemudian IDEALIS, ini adalah pemahaman yang berangkat dari sudut pandang manusia yang berbeda-beda satu sama lain dalam memahami suatu permasalahan atau gejala. Idealis ini sangat berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan manusia, dimana data yang didapat tidak dapat sama atau serupa seperti data yang ditemukan melalui pemahaman empirisme dan positivisme.
Data yang didapat di empirisme dan positivisme bisa dibilang data yang “pasti”, yang sudah disepakati banyak orang. Di iya kan.
Sementara data ini, berbeda2 hasilnya tiap masing2 objek yang diteliti
Sebagai contohnya idealis ini mempelajari tentang manusia, dalam cabang ilmu alah satunya adalah Sosiologi, dan ilmu2 sosial humaniora lainnya.
Manusia tiap individu nya berbeda2, oleh karena itu pendekatan dalam memahaminya pun berbeda2.
Sekarang akan saya coba ingat2 lagi lanjutan yang Okie jelaskan.
Ttg Filsafat berdasarkan beberapa kategori. Ada ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, dan AKSIOLOGI.
Saya akan menjelaskan meng-analogikannya sebisa saya
ONTOLOGI ini sesederhana mempertanyakan bagaimana proses suatu hal atau suatau fenomena atau suatu gejala bisa ada.
Contohnya pulpen, Kenapa pulpen ini bisa ada atau harus ada?
Lalu EPISTEMOLOGI, mempertanyakan Bagaimana proses membuatnya? Bagaimana fungsi kerjanya?
Dan AKSIOLOGI, mempertanyakan, Lantas kalau si pulpen ada, gunanya buat apa?
Ontologi itu kurang lebih Metafisika, mempertanyakan bagaimana bisa dianggap “ada” nya suatu hal atau benda atau gejala
Lalu Epistemologi mempertanyakan ilmu atau prosesnya
Dan Aksiologi mempertanyakan tentang dampak yang dihasilkannya, cara menggunakannya, atau ETIKA/NORMA dari sesuatu yang sudah ada itu.
Kurang lebih begitulah yang disampaikan Okie dan kawan2 lainnya.
Saya coba ketik kembali dan dipublikasikan, karena sudah sejak lama ingin sekali menjelaskan pada kawan2, bahwa sebenarnya untuk mempertanyakan sesuatu atau mempelajari sesuatu, khususnya filsafat, dan mungkin berbagai hal lainnya, kita tak perlu terbatas atau terhalang oleh persepsi bahwa hal tersebut sulit dipelajari, atau tidak bisa dipelajari. Karena belum tentu demikian. Bisa saja sebenarnya sangat dekat dengan apa yang kita alami atau kita lakukan sehari2, tapi karena kita takut, kita jadi membatasi masukan atau pengetahuan yang padahal seharusnya bisa kita ketahui, dan mungkin saja mempermudah kita untuk memahami sesuatu atau bahkan hidup kita.
Seperti misalnya kita sering galau merasakan suatu hal, tidak bisa kita jelaskan karena tidak tau padanan kata yang tepat untuk menjelaskannya. Kita cuma bisa merasakannya. Tapi lama-lama kita jadi resah dibuatnya.
Akhirnya kita mencari tahu fenomena/gejala/hal yang kita rasakan,dan akhirnya kita mengetai istilah dan bagaimana cara menanggulagi gejala tersebut, Kita pasti senang dan lega bukan!?
Kira2 begitulah kerja filsafat, menjabarkan perasaan atau keraguan yang sulit dijelaskan selama ini. Kurang lebih begitu
Dan sejujurnya, dengan bahasa yang sangat tidak formal, dan ilmu yang serba pas-pasan ini, kenapa saya memberanikan diri untuk menulis catatan ini, karena berangkat dari pengalaman pribadi, yang sebenarnya sering bertanya dalam diri, sering merasakan perasaan yang tertentu tapi susah dijelaskan.
Hingga akhirnya saya mencoba belajar pada beberapa teman di tiben, mendengarkan percakapan mereka, mengamati bagaimana cara mereka menggunakan pemahaman filsafat yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, hingga akhirnya hidup mereka terlihat “hidup” dan lebih “hidup”.
Saya tidak serta merta langsung membaca buku filsafat, Karena saya sadar, kalau saya paksakan, otak saya belum tentu bisa mencernanya dengan mudah.
Selain itu saya juga tipikal orang yang sangat empiris. Belajar sesuatu dari pengalaman.
Hingga akhirnya mempelajari dalam keseharian dulu.
Kalau merasakan atau melihat gejala/fenomena/hal tertentu yang baru, saya tanyakan pada teman2 yang sudah lebih paham
Hingga sedikit2 setelah paham, barulah mulai meminta saran bacaan yang sesuai dengan karakter dan prinsip saya pribadi.
Disitu saya baru mengerti, mengapa beberapa teman saya yang sudah mempelajari filsafat tidak langsung merekomendasikan buku atau teori tertentu.
Karena, jawaban akan pengalaman atau hidup ataupun sekedar pengalaman dan ilmu yang ingin kita dapatkan, dapat kita dapatkan dengan cara yang mudah dulu. Dimulai dari cara bertanya. Lalu merasakannya.. Memahami gejalanya. Setelah mulai mengerti, barulah ke tahap selanjutnya, untuk mempelajari lebih jauh. Selain itu hal ini juga bertujuan untuk menjadi “batasan” pada diri, untuk apa saja ilmu atau hal berikutnya yang harus/perlu/ingin kita pelajari dan hal yang tidak perlu dipelajari. Semacam efisiensi stock pengetahuan/pemahaman berdasarkan minat/prinsip/ideologi.
Jadi rupanya filsafat adalah ilmu atau pemahaman yang berguna untuk memahami hidup dengan lebih bijak rupanya...
Filsafat juga ada untuk memfasilitasi kita bebas bertanya, setelah selama ini kita terbatas oleh hal-hal yang sifatnya ABSOLUTIVISME (hal-hal yang sudah fix dan tidak bisa dibantah)
(Kurang lebih) SEKIAN. TERIMAKASIH
1. Apabila ada kritik atau saran, dipersilahkan untuk segera disampaikan, agar konten tulisan dapat lebih baik dan lebih maksimal untuk dibaca/ dibagikan. Terimakasih
2. Sekalian promosi! Buku yang saya pajang di foto atas, dibeli di teman saya Asra Wijaya. Bagi yang berminat bisa pesan di Asra atau di kawan saya lainnya Kukuh Samudra. Harga bersahabat sekitar 30 ribuan. Lumayan bukunya bahasanya cukup sederhana dan sangat bermanfaat bagi yang ingin belajar filsafat. Tapi saya sarankan lebih baik ikut diskusi Pengantar Filsafat Barat spt yang Okie bawakan dulu sih. Biar ga kesulitan memahami atau membayangkan isi dan contoh yang ada di bukunya