Saya seperti orang yang baru keluar dari goa yang terlalu polos dan tidak tahu-menahu tentang banyak hal, tentang realita, tentang apa sebenarnya yang terjadi di dunia luar, atau saya yang terlalu bodoh dan tidak peka?
Bisa dibilang di dalam goa saya mempunyai lingkungan yang cukup ideal. Cukup. Katakan saja seperti itu. Nyata, kehidupan di luar butuh tak hanya butuh kecerdikan akademik seperti yang tanamkan di dalam goa namun lebih dari itu. Kehidupan di luar juga butuh kercerdasan social yang termasuk di dalamnya kecerdasan pergaulan, kecerdasan penglihatan, kecerdasan persaaan, dan kecerdasan-kecerdasan lainnya.
Ternyata, di luar percaya dan kepercayaan adalah suatu hal yang rumit. Ketidakpercayaan bukan saja kepada orang yang tidak baik pun kepada orang yang baik. Who knows? Karena setiap kita memiliki kepentingan masing-masing baik individu maupun kelompok, motif yang berbeda-beda, serta tujuan yang berbeda-beda.
Who knows? Siapa yang tahu perihal niat? Hanya Allah yang lebih mengetahui yang nyata dan yang gaib. Bisa jadi awal melakukan sesuatu memang buruk dan terus buruk, bisa jadi awalnya buruk lalu berubah menjadi baik, bisa jadi awalnya baik dan terus baik, pun yang awalnya baik berubah dipertengahan menjadi tidak baik. Ada yang disengaja maupun tidak disengaja. Ada yang secara sadar maupun yang tidak disadari. Sekali lagi, who knows?
Di sini, pada saat ini, saya baru menemui orang-orang yang bertujuan sama tapi dengan jalan yang berbeda atau jalan awalnya sama tapi tujuan akhirnya berbeda. Dari hal-hal tersebut maka yang saya tangkap adalah kepentingan masing-masing itu berbeda. That’s the point. Kepentingan. Sejauh ini, begitulah. Oke, maafkan anak baru kemarin sore ini.
“Kita memang tidak seharusnya memiliki fanatisme golongan.”
“Janganlah, terlalu condong ke salah satu kelompok.”
“Persatuan itu menjadi tujuan akhir kita semua.”
“Bukankah, semuanya berniat baik?”
Informasi mengalir deras tidak bisa ditahan. Benar atau salahnya, who knows? Golongan ini begini, golongan ini begitu, golongan itu yang begini, bukan golongan itu yang begitu. Informasi mana yang valid? Sekali lagi, who knows?
See? Semua punya kepentingan masing-masing. Kepentingan menyelinap digolongan lain, kepentingan mempersatukan semua golongan, kepentingan menguatkan golongan sendiri, kepentingan ekspansi golongan, kepentingan menjatuhkan golongan lain, bahkan kepentingan mempertahankan golongan yang tidak punya golongan. Informasinya? Sesuai dengan kepentingan. Bukankah begitu?
Ada beberapa hal yang seringkali saya lupa. Hal itu adalah semua anggota golongan tersebut tidak lain hanyalah manusia biasa. Manusia yang seringkali khilaf, seperti juga saya. Manusia yang jangkauan pengetahuannya terbatas. Hal-hal yang nyata pun belum semua dikuasai apalagi hal-hal yang tak tampak seperti niat masing-masing. Masih banyak hal-hal yang jauh dari objektifitas. Banyak. Selagi itu manusia yang menilai. Sekali lagi, who knows? Siapa juga yang mengatahui kalau apa yang kita katakan itu benar? Apalagi menilai orang lain.
Maka, saat saya berada dalam suatu golongan yang menurut saya baik yang harus saya ingat adalah saya dan mereka semua hanyalah manusia biasa yang sering lalai, sering berbuat kesalahan. Sebaik-baik golongan ada di dalamnya yang belum tersingkap. Sebaik-baik golongan pasti punya kepentingan. Sebaik-baik golongan hanyalah penilaian subjektif manusia.
Hanya Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatunya baik yang nampak maupun gaib. Hanya Allah SWT yang mampu menilai baik-buruknya sesuatu dengan seobjektif mungkin. Hanya Allah SWT yang dapat dipercayai pasti kebenaran firmanNya. Tidak ada secuil pun ketidakpercayaan kepada-Nya.
“Ga bisa gitu, dong. Kita kan harus memenuhi kepentingan bersama.”