Dalam novelnya, Camus menceritakan tokohnya dengan gaya sastra perancis kontemporernya. Kehidupan yang tak menentu ini digambarkan melalui tokoh Meursault, seorang pemuda yang mengalami keabsurdan hidup. Melalui segala konfrontsai yang terus berlangsung, Meursault memanjakan suatu ketidakpastian hidup, ketidakjelasan kehidupan Meursault digambarkan dengan berbagai konflik yang membuatnya harus menentukan sikap yang berujung pada kematian.
Camus menilai bahwa kematian adalah salah satu keadaan yang bisa menghentikan ketidakjelasan hidup. Namun, kematian dinilai bukanlah salah satu proses yang tepat untuk menghentikan ketidakjelasan yang ada. Manusia dituntut untuk mencari kejelasan yang ada di dalam ketidakjelasan yang hinggap pada kehidupan. Dalam novelnya juga digambarkan bahwa kebiasaan yang menjadi rutinitas akan membawa kita pada sebuah kejemuan, yang berujung pada pengikatan dunia absurd. Hasrat manusia yang tidak pernah puas pun semakin menambah ketidakjelasan yang belum tersingkap.
“Aku kemudian sering berpikir, seandainya aku disuruh hidup di dalam sebuah batang pohon kering, tanpa kesibukan lain selain memandang awan-awan di langit di atas kepalaku, sedikit demi sedikit aku akan terbiasa di situ…pada akhirnya kita akan terbiasa pada apa saja."
Dalama kutipan ini Meursault mengakui bahwa kehidupannya adalah sebuah rutinitas yang dikonstruksi secara sadar. Meursault berangapan hidup ini hanya masalah kebiasaan yang menjadi sebuah rutinitas yang berujung pada dunia yang absurd.
“Aku berpikir hari minggu itu telah lewat, bahwa saat itu ibu telah dikuburkan dan bahwa aku akan melanjutkan pekerjaanku dan bahwa, secara ringkas, tak ada yang berubah."
Dalam kutipan ini juga ditambahkan bahwa keterikan manusia pada rutinitas sulit terlepaskan. Kendala seperti ini yang mempererat manusia pada dunia yang absurd, rutinitas bisa dikatakan sebuah ketidakjelasan yang terpampang. Rutinitas adalah perwujudan tunduknya manuisa pada realita yang ada, realita yang mengharusakan manusia bertindak sesuai kebiasaan yang berakhir pada rutinitas yang menjemukan. Tiadak salah Camus menggap kehidupan ini hanya kesia-siaan belaka.
Manusia modern seakan sudah memperaktekan jelas kehidupan yang absurd. Sekarang ini, manusia hanya menyibukan dirinya oleh rutinitas untuk memenuhi hasrat yang ada, semua seakan tunduk pada realita yang terpampang. Manusia pada abad ini cendrung selalu berorientasi dengan dunianya sendiri, hasrat membahagiakan diri yang menjadi landasan dasar manusia berbuat sesuatu. Menjatuhkan satu sama lain adalah hal yang tidak dapat dihindari, selama kepentingan saling berbenturan semua itu teramat pasti.