Sembilu Berlalu
Aku tak lagi memikirkan titik temu yang semu. Lantas memikirkan bagaimana bisa jalan pikiran sekerdil itu. Ia kerdil, dikerdilkan oleh ego dan nurani individu. Hingga, pada sia-sia kesekian, waktu menyadarkan, bahwa angin lalu tetaplah angin lalu. Ia berlalu begitu saja, sekejap maupun lama, ia menyapa sembilu, dan kini ia enyah dari kalbu.














