"Aku ingin menghindari hujan, malah berjumpa hujan, terkena hujan dan jiwaku malah ikut menghujan, di tengah hujan"
Beberapa jam yang lalu adalah pertama kali acara festival kuliner bandung di jalan braga dilaksanakan, judulnya "Braga Culinary Festival" yang kuhadiri dengan sengaja bersama beberapa teman satu angkatan. Acaranya secara keseluruhan lumayan baik, menyenangkan, dan sukses. Mungkin akan menjadi lebih sukses jika tidak dibuka dengan hujan.
Sangat menyenangkan bagiku bisa melihat sang walikota kreatif hadir langsung di tempat tersebut, biasanya aku hanya membaca kicauannya yang jenaka di timeline twitterku, dan sesekali melihat fotonya bersepeda ke kantor, atau aktivitas lainnya. "Luar biasa!", itu yang bisa kukatakan pada pak walkot yang satu ini. Ridwan Kamil, adalah salah satu contoh paradoks yang ada diantara keadaan negeri yang semakin keruh oleh pemimpin-pemimpin kotor dan ortodoks, Tua dan Korup.
Semakin malam pengunjung semakin ramai menyesaki jalan braga yang aku rasa lain dari yang lain di seluruh penjuru jalan di Bandung, klasik, itu kesan terkuat yang bisa kulukis dengan satu kata sederhana. Namun, segala hiruk pikuk disana membuatku terlamun dalam frekuensi yang tak sedikit. Aku menjadi resah, gelisah. Orang bilang "galau", sebenarnya lebih dari itu. Apa karena kekasih hati tak menemani bersabtu malam karena sibuk dengan penelitiannya? sesungguhnya lebih dari itu, persoalannya lebih kompleks dari sekedar kehadiran pacar diantara sahabat-sahabatku.
Entah sedari kapan, aku tak pernah menyukai kerumunan banyak orang, manusia yang terlalu banyak itu memuakkan. Mungkin aku akan lebih suka dikerumuni kucing-kucing, mereka menentramkan. Manusia, khususnya kualamatkan kepada Manusia Indonesia kebanyakan di hari ini adalah biang kerusakan, penghasil polusi sampah dan suara. Katanya Bangsa beradab, katanya bangsa beragama, mungkin itu dulu, julukkan itu sudah tidak relevan lagi rasanya di masa ini. Keramaian manusia selalu berhasil membuat aku merasa sepi, lebih sepi dari kuburan paling yang sepi di waktu yang tersepi, selalu seperti itu. Entah mengapa begitu.
Maksud hati ingin melepaskan diri dari keterasingan, yang terjadi di sana adalah kenyataan bahwa aku lebih merasa terasing di festival jajan tersebut daripada di tempat pengasinganku sendiri, kamar kosan.
Kalau biasanya pikiran seorang pria didominasi oleh logika, aku sedikit beranomali dari keadaan mainstream tersebut. Aku melibatkan perasaan dalam pikiranku sedikit lebih banyak dari pria kebanyakan. Banci? kurasa tidak, hanya saja untuk tipe lelaki yang emosional seperti aku, "perasaan" lebih mudah mengkontaminasi jalannya logika.
Aku melihat dan merasakan sejumlah paradoks yang terjadi selama aku berkeliling dengan para sahabatku yang hangat di jalan klasik yang ramai. Aku masih merasa sepi dalam keramaian yang kubenci, aku masih merasa dingin ketika dikelilingi beberapa sahabat yang hangat, aku tersenyum tapi hatiku sebenarnya sedang tersedu, bingung sampai menangis seperti bayi menginginkan ibunya. Kalian tak mengenalku, atau belum mengenalku atau bisa juga aku yang terlalu menutup diri sehingga kalian tak sempat mengenalku lebih dalam lagi.
Semakin aku mencoba melupakkan segala tentangmu, semakin jelas bayangmu dan segala cerita aneh kita menghadiri sesi lamunan di alam benakku. seorang kamu yang kupikir dan kurasa lebih mengenalku lebih dari aku mengenal diriku sendiri, bahkan aku sendiri terkadang tak bisa mengenali diriku sendiri.
Semakin aku mencoba untuk tidak peduli, semakin aku mengkhawatirkan keadaanmu, jiwa juga ragamu. Semakin aku mengkhawatirkanmu, semakin aku berkriminal. Bagaimana bisa seperti itu? ya, tapi itulah kenyataannya, kenyataan yang membuat malam minggu-ku di jalan braga dipenuhi oleh berbagai paradoks yang mungkin hanya aku rasakan sendiri.
Wahai sahabat, kalian sangat hangat, tapi tak cukup hangat untuk bisa memahami dan mengerti isi hati ini, beserta tragedi yang terjadi. Kurang cukup hangat untuk membuat aku yang dingin ini tidak merasa kedinginan dan terasingkan.
"Jika kalian bisa mengenalku lebih dalam, kalian akan menemukan lusinan paradoks yang melebur ke dalam jiwaku, diantara hari-hariku."
Terima Kasih Sahabat Hangat...
Subuh dingin Jatinangor, 12 Januari 2014