Laten
Aku berdiri di dalam ruangan saat pintu itu dibanting. Aku merasakan getarannya merambat di lantai, melihat serpihan debu beterbangan di bawah cahaya lampu. Aku mendengar isak tangis yang tertahan setelahnya, dan keheningan yang memekakkan yang datang kemudian.
Aku ada di sana. Selalu.
Aku adalah mata kamera yang tak pernah berkedip. Aku merekam tangan yang gemetar saat menuang teh ke cangkir yang salah. Aku melihat senyum yang dipaksakan saat kabar buruk diterima. Aku menangkap kilat benci sesaat di mata seorang sahabat, dan tatapan rindu yang terlalu lama pada seseorang yang bukan miliknya. Aku melihat semuanya, setiap detail yang tak terucap, setiap kebenaran yang disembunyikan di balik helaan napas.
Aku adalah cermin di dinding lorong. Aku memantulkan punggung mereka yang pergi tanpa pamit, dan wajah mereka yang menunggu tanpa harapan. Aku menyaksikan kesepakatan rahasia yang dibuat dalam bisikan, dan janji-janji yang diucapkan hanya untuk diingkari. Mereka melewatiku setiap hari, melihat pantulan diri mereka sendiri, tapi mereka tidak pernah melihatku.
Mereka menyeretku ke dalam setiap babak cerita mereka, memintaku untuk memegang lilin di tengah badai. Mereka butuh cahayaku untuk melihat kehancuran mereka sendiri. Tapi tak seorang pun yang pernah bertanya, apakah tanganku terbakar. Mereka hanya butuh saksi.
Dan aku, entah bagaimana, selalu terpilih untuk peran itu.
Roni. | 8 Agustus 2025











