Musim Yang Belum Sampai
Teman-temanku telah menanam musim Di ladang rumah tangga yang mulai menghijau Sementara aku masih menakar benih Di tangan yang sibuk menulis rindu pada Allah dan waktu.
Anak-anak mereka mulai pandai membaca doa sedang aku, masih membaca diri sendiri dalam kesunyian yang gaduh oleh target dunia dan doa-doa yang belum sempat aku cukupi.
Pekerjaan ini tak kenal jam pulang rencana-rencana hanya numpang lewat di kepala Aku menunda banyak hal, termasuk istirahat terutama menunda memberangkatkan orang tua ke tanah haram
Aku percaya, Tuhan tidak tidur dan setiap jengkal usaha pasti bernilai di sisi-Nya Tapi ya..namanya manusia, aku sering bertanya: “kapan akan datang musimku yang damai?”
Bukan.. bukan ingin menyalahkan takdir Aku tahu, yang tercepat belum tentu terbaik dan yang tertunda belum tentu ditolak Mungkin ini waktu untuk menyiapkan diriku agar tak merusak anugerah.
Aku tak bohong, aku ingin ada seseorang yang bisa kudongengi tentang hari ini kutitipkan tawa receh dalam sisa malam sebelum kita tidur di bawah atap yang dibangun dari syukur dan iman.
Aku tak bohong, aku ingin bertemu dengan perempuan yang teduh dalam sabar yang berjalan di jalan Tuhan dengan ringan Meski jalan itu kadang berbatu dan penuh liku kehidupan.
Bersama dia, aku ingin shalat bukan hanya berdampingan tapi juga seirama dalam tujuan Bersama dia, aku ingin melahirkan keturunan yang memuliakan nama-Nya, juga menyayangi sesama manusia.
Namun andai maut lebih dulu datang dan musim itu tak kunjung datang menghampiri Semoga penantianku tak sia-sia Karena niatku tetap pulang kepada-Nya.. dengan hati yang setia.










