Pernah sekali aku berpikir tentang kamu yang jauh disana. Tentang kamu yang tidak ingin memulai sebuah hubungan.
Aku masih ingat, dulu ketika aku mengatakan bahwa aku sayang kamu, kamu memilih untuk mengabaikan perasaanku. Kamu bahkan menganggap semua ucapanku adalah angin lalu. Kamu juga selalu mengatakan bahwa kamu tidak ingin membebani dirimu dengan sebuah hubungan yang hanya main-main. Tidak jarang kamu juga menegaskan bahwa kamu sangat tidak mau terbebani oleh perasaan sayangku.
Sampai suatu hari, kamu yang jarang mem-posting kehidupan pribadimu, tiba-tiba mencuat membagikan kisah romantismu dengan wanita yang katamu kamu sayangi itu. Kamu seolah-olah abai dengan perasaanku, kamu membagikannya disorotan ceritamu melalui akun pribadimu. Kamu mengenalkannya sebagai wanita yang katamu kamu sayangi.
Kemana rupanya kamu yang dulu selalu mengagung-agungkan kehidupan tanpa komitmen? Kemana rupanya kamu yang dulu selalu tidak ingin terbebani oleh sebuah hubungan yang katamu hanya main-main?
Aku tahu dan aku sangat menyadari itu, bahwa perasaan sayangku memang bukan tanggung jawabmu. Tetapi bolehkah aku memintamu untuk menghargai setidaknya kehadiranku. Aku juga ingin kamu menghargaiku sebagai temanmu yang menaruh hati padamu. Bukan malah mengikutsertakanku ke dalam bagian dari 'teman dekat' yang terpilih, untuk kemudian kamu jadikan prioritas dalam membagikan kebahagiaanmu dengan pasangan barumu. Melalui akun pribadimu, aku mengetahui semuanya. Aku melihat semuanya.
Rasa sakit yang sudah aku persiapkan sebelumnya, ternyata tidak mampu menanggung semuanya ketika hal yang paling aku hindari malah terjadi. Sekarang biarkan aku lepas dari kamu. Lepas dari bayang-bayangmu. Bukan malah semakin kamu hantui dengan kebahagiaanmu, yang harusnya dengan aku kamu merasakannya.

















