Sejak dulu aku ingat betul Bapakku selalu bilang “tidak apa-apa punya pacar yang banyak, untuk pembanding, dan pilih satu yang paling bagus untuk dijadikan pasangan/suami”. Bahkan aku ingat, beliau tidak satu dua kali menasehati itu, melainkan sering. Hingga suatu ketika di kemudian hari aku tersadar bahwa hal itu membuatku terlihat seperti wanita murahan.
This is a long sad, sad story
Melihat jejak hubunganku, aku memiliki histori perselingkuhan yang cukup banyak. O My Godness. Di mulai saat SMK, sewaktu berpacaran dengan cinta monyetku, Kh, aku juga membuka hati kepada Ms si vokalis di kelompok rebana kampung halamanku yang aduhai syahdu betul suaranya ketika mengumandangkan shalawat.
Ketika berada di bangku kuliah, aku didekati oleh adik angkatan 1 tahun lebih muda bernama Rz. Tingginya tidak lebih dari tinggiku namun, jiwanya besar. Seorang rider yang berpegang teguh pada prinsip safety riding. Aku masih ingat motornya Ia namai Jaletot. Sejauh yang aku kenang, tidak pernah ada official date kapan kami berpacaran, tapi yap, aku ingat rasa-rasanya aku banyak jatuh hati padanya. Saat itu aku malu mengakui bahwa aku berpacaran dengan laki-laki yang lebih muda walau sebenarnya sangat menyukai tawanya yang renyah.
Beberapa saat setelah aku bertalian hati dengan Rz, aku didekati juga oleh adik angkatan 2 tahun lebih muda, bernama Az.
Tak berapa lama berselang usai banyak drama cerita cinta ala anak kuliahan, Rz memilih pergi meninggalkan ketidakjelasan hubungan yang aku tidak bisa janjikan. Aku mengulang kesedihan yang sama seperti saat aku ditinggalkan Ms dan Kh karena mereka tidak bisa berkompromi lebih jauh dengan ketidakpastian dariku.
Saat Rz pergi dari kehidupanku, aku benar-benar terpuruk. Aku bersedih bukan karena tidak bisa meraih dua hati. Aku sedih karena aku baru sadar kalau aku adalah buruk, aku berbuat tidak baik, dan aku menyakiti hati orang lain. Aku menyesal tidak bisa berkata jujur bahwa aku ingin sepenuh hati meminta maaf kepadanya karena telah berbuat tidak baik. Sebuah keinginan yang datang di saat yang paling terlambat.
Hingga beberapa waktu di titik di mana aku bisa merangkum pemahamanku, aku menyimpulkan mungkin itulah bedanya karakter peselingkuh asli dengan peselingkuh palsu. Karakter peselingkuh asli akan selalu mencari celah untuk berselingkuh lagi di hubungan selanjutnya, karena mereka ingin. Karakter peselingkuh palsu akan mengulang kembali berselingkuh, namun karena mereka kebingungan. Rasa-rasanya aku membuka hati untuk dua orang sekaligus di waktu bersamaaan bukan karena aku bosan dengan satunya lalu mencari pelarian.Setelah kurenungi, aku dulu tidak pernah benar-benar meresapi kalau berbuat seperti itu adalah tidak benar.
Jauh di alam bawah sadarku, aku terbiasa mendengar Bapak mendorongku untuk punya banyak pilihan. Tapi di sisilain, setelah kualami sendiri, dekat dengan banyak laki-laki sebagai pilihan tidak dibenarkan juga.
Perjalanan mengenang kepergian Rz membuatku menyadari banyak hal. Betul yang Ia sampaikan, “kamu gak bisa jadiin nasehat Bapakmu itu panutan. Perempuan gak boleh punya lebih dari satu pasangan”. Aku paham maksudnya adalah laki-laki pun, tanpa terkecuali.
Semenjak itu, aku mencoba menjadi pribadi yang lebih jujur menyampaikan apa yang ada di pikiran dan hatiku. Sejauh yang bisa kuingat, aku berubah menjadi orang yang berbicara terlalu apa adanya dan mungkin orang lain menganggapku berhati dingin. Aku marah jika merasa ingin marah. Aku tertawa terbahak-bahak jika sedikit saja merasa bahagia. Aku tidak menahan tangis untuk hal-hal kecil yang menyentuh hatiku. Dan aku menerapkan aturan-aturan ‘setia’ kepada Az, sang pria yang memilih tinggal.
Namun sayangnya, perjalanan itu pun tidak berakhir mulus. Semula kukira aku akan berakhir dengannya, namun sepulang KKN, Az mempunyai cinta baru. Aku tidak apa-apa. Meskipun patah hati, aku tidak merasa sedih karena merasa sudah mengusahakan untuknya yang terbaik (jujur, mengerti, menyayangi, dan sebagian besar bersamaan dengan itu, aku juga, mengalah). Aku tidak menyakiti orang lain. Justru aku yang disakiti. Jadi alih-alih bersedih, aku lebih berlapang dada untuk memulai lembaran baru.
Setelah lulus dan memasuki dunia kerja, aku berpacaran dengan orang dari timur yang penyabar dan penyayang. Namanya Fh. Tidak pernah membentak dan marah. Berkulit hitam dan manis. Aku sudah memposisikan hatiku untuk tidak main-main lagi, jadi aku tidak pernah peduli ketika didekati laki-laki lain.
Babak hubungan baru memberikanku kesempatan untuk belajar kembali. Menyadari dan mempraktekkan dengan tekun bahwa aku harus punya pendirian sebagai perempuan. ‘Jangan mau dekat dengan beberapa orang sekaligus’. Sesuatu yang aku sesalkan tidak aku dapat dari rumah, dari nasehat-nasehat orang tua. Sesuatu yang aku dapat justru dari pengalaman hidup, yang terasa buruk.
Namun perjalanan pendewasaan dan menemukan karakter diri ini juga membawaku pada pemahaman bahwa tidak apa-apa mementingkan diri sendiri sebelum orang lain. Hingga aku berakhir tidak memilih Fh karena tidak bisa menunggu terlalu lama. Untuk tau kapan harus memperjuangkan sesuatu dan kapan berhenti berharap.
Suamiku, Er, adalah lelaki istimewa yang mengenalkanku pertama kali, untuk lebih mengenali diri sendiri. Mencintai diri sendiri. Bagaimana mudahnya memberi dan menerima cinta. Apa yang aku inginkan, dia dukung. Apa yang aku harapkan, kejarlah, katanya. Apa yang aku tidak suka, aku boleh katakan. Apa yang aku tidak nyaman, kami diskusikan.
Pelan-pelan, bersamaan dengan mencintainya, aku belajar mencintai diri sendiri.
Banyak tulisan-tulisanku sebelumnya yang menyebutkan karakter Er. Dengan melihatnya mempunyai banyak hobi, dan tidak sekedar itu, he is so into it, aku jadi mengerti kalau semua manusia berhak memperhatikan dirinya sendiri dulu dibanding orang lain. Berhak memiliki wadah untuk aktualisasi diri. Mencintai bukannya mengosongkan diri sendiri untuk menampung apa-apa yang pasangan kita berikan. Alih-alih, merasa penuh terlebih dahulu agar bisa memberikan cinta untuk orang lain. Aku berakhir memilihnya sebagai yang terakhir karena perjalanan hubunganku dengan yang sudah-sudah membuatku berani memilih, berani mengutarakan bahwa dia yang aku inginkan.
Kalau dipikir-pikir, beliau adalah sebaik-baik partner. Jawaban atas doa-doaku saat dulu aku mengangkat kedua tangan memanjatkan “semoga ada seseorang merindukanku seperti aku merindukannya”.
Terimakasih kepada para mantan yang sudah mengajarkan banyak hal, baik besar ataupun kecil ku maknai dengan tekun. Juga teman-teman yang suka mencemooh kebodohan kisah perselingkuhanku di balik punggungku. Aku tau dan aku maafkan. Semoga yang terbaik yang hanya tercurah untuk kalian semua.
Aku merasa sudah berubah menjadi pribadi yang lebih jujur.
So let me break the trauma.
Aku dengan pengalaman burukku menyakiti orang lain. Merasa bersalah dan menyesal hingga sekarang. Aku yakin kedepannya aku akan baik-baik saja. Aku akan hidup dengan lebih terhormat hari ini dan esok hari. Aku akan menyampaikan pada anakku bahwa tidak hanya karena menjadi perempuan, laki-laki pun tidak terkecuali, tidak boleh menyakiti orang lain.
Aku akan mengajarkan anakku bahwa tidak menjadi penting untuk orang lain tidak apa-apa, asalkan menjadi penting untuk diri sendiri dan keluarga.
Aku akan mengajarkan anakku bahwa mencintai orang lain itu diperbolehkan, tapi menyakiti orang lain demi itu adalah tidak baik.
Aku akan pastikan selalu bilang padanya bahwa dia berharga dan aku menyayanginya dan dia boleh jadi apa saja yang dia inginkan sehingga tak ada suatu hari pun terlewati tanpa dia merasa dicintai oleh kedua orang tuanya.
Semua orang secara naluri ingin berbuat baik. Cinta itu murni dan ketulusan. Cinta itu perayaan dan bukanlah kebohongan.
Ataupun Nak, apabila umur tidak sampai pada Mama dan Ayah untuk mengajarkan ini dan itu, semoga suatu saat kamu membaca tulisan ini dan belajar. Terimakasih ya sudah menjadi anak Mama. Dengan segala keterbatasan Mama di masa kini dan masa lalu.