Ruang bagimu untuk berbicara, tentang mimpi dan harapan.
Seringkali, kita terbelenggu dengan perkataan orang lain. Tenggelam karenanya. Seakan diblokade oleh dinding tebal; hanya lewat perkataan saja.
Itu kerap kali terjadi saat kita berbicara tentang mimpi, dan harapan yang ingin kita ukir. Entah untuk setelah hari ini, esok, sebulan ke depan, setahun atau bahkan... sepuluh tahun kemudian.
Tidak jarang, perkataan seseorang yang sederhana malah membunuh mimpi-mimpi dan harapan yang sudah kita tanamkan di hati kita. Memang, ada kalanya kita perlu berpikir futuristik; tentang semua itu. Tapi bagaimana jika kita menemui orang-orang yang selalu meremehkan mimpi dan harapan yang berada dalam satu garis itu?
Dear, jangan patah semangat. Jangan bersedih, jangan putus asa. Ketika mimpi dan harapanmu dipatahkan, dilenyapkan bak angin lalu. Tersenyumlah dahulu.
Mari memahami konsep mimpi (kali ini segaris dengan harapan).
Bukankah ketika kita bermimpi; kita menggunakan daya pikir kita. Kita menggunakan ruang pikir kita, bukan orang lain.
Kita merancang mimpi dan harapan kita sendiri. Kita merangkai mimpi demi mimpi dalam kedamaian di ruang pikir kita.
Apakah kita menggunakan ruang pikir orang lain? Tidak.
Apakah kita menyulitkan orang lain, dengan menggunakan ruang pikir mereka? Tidak.
Lantas, mengapa kita perlu menyulitkan diri kita dengan perkataan orang lain akan mimpi dan harapan yang kita punya sendiri; yang kita susun sedemikian rupa di ruang pikir kita sendiri?
Pada akhirnya, mimpi kita adalah milik kita. Pun, kita punya hak sendiri untuk memiliki mimpi.
Bangkit, dan teruskan mimpi kita agar menjadi kenyataan. Satu lagi, jangan lupa tersenyum.