Bahkan setelah menikmati manisnya sirup, kita pada akhirnya membutuhkan air yang tawar sebagai untuk menetralkan rasa.
Apakah hidup juga begitu?


#iwtv#interview with the vampire#the vampire armand#assad zaman

seen from China
seen from Canada

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from China
seen from Singapore
seen from Italy
seen from Türkiye
seen from United States
seen from China
seen from Ireland
seen from Ireland
seen from Russia
seen from Italy
seen from Belgium
seen from China
seen from China
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Japan
Bahkan setelah menikmati manisnya sirup, kita pada akhirnya membutuhkan air yang tawar sebagai untuk menetralkan rasa.
Apakah hidup juga begitu?
hujan, & gemerisik rindu
hari ini hujan, dan kau tau? aku benar-benar merindukanmu.
gemerisik-gemerisik di atap yang berbunyi merdu karna jatuh bersamaan lalu bergantian, mengingatkanku pada hari dimana kita saling berdeketan di bawah satu payung yang sama.
Hari itu, bukan kah kita berjanji untuk selalu begini di hujan-hujan selanjutnya?
ku rasa tidak. Sebab hujan kali ini, aku malah duduk sendiri di sebuah halte bus depan kampus memandang lurus ke depan.
Bukan karna aku takmau menerobos dan berbasah-basah, Tapi lebih disebabkan aku tak mau kehujanan sendirian; bermandi rindu dan rasa sepi tanpamu.
Hai Juni,
Kita bertemu lagi untuk ke 21 kali nya
Tak terasa sudah pertengahan tahun saja ya, padahal seperti nya aku baru saja mendengar gemerlap kembang api di tahun baru.
Oh ya, banyak yang mengatakan kau adalah bulan hujan, hingga Eyang Sapardi pun menerbitkan karya spesialnya untuk mu "Hujan Bulan juni"
Aku juga tak tau apa sebabnya kau selalu dikaitkan dengan hujan. Lalu kemudian Hujan selalu dikaitkan dengan rindu.
Hahaha ada ada saja ya.
Pesan ku untukmu...
Semoga kau tetap kuat ya, seperti bulan-bulan sebelumnya yang penuh duka dari pada suka. Semoga kehadiranmu membawa angin segar bagi kami semua. Kata nya dibulan mu ini akan berlaku New Normal. Semoga saja dengan ada nya kebijakan ini bisa menstabilkan semua sektor yang sebelumnya terkena dampak dari pandemi.
Hmmm, kalau harapan ku sendiri
Semoga banyak kejutan baik di bulan ini. Mungkin saja dapat doi gitu, Hahaha tidak tidak maaf aku bercanda. Aku hanya ingin keadaan segera pulih agar semua bisa beraktifitas seperti biasanya.
Okeee, semangat bulan juni. Semoga tahun depan kita masih bisa saling bercengkrama lagi ya.
Untuk yang sedang berulang tahun dibulan ini. Selamat menempuh usia baru di bulan penuh rindu.
01 Juni 2020 | 19.23
Jogja tengah hujan deras.
Cuaca dingin. Jalanan sepi.
Ditengah hujan, terdengar tawa anak kecil berlarian menikmatinya.
Bahagia, sangat menikmatinya.
Sementara sore tenggelam, malam telah pasang.
Sayup-sayup terdengar suara tetesan.
Membasahi sepasang lensa pembantu.
Tak mau kalah dengan derasnya hujan malam itu.
Sayup-sayup kemudian menjadi sangat jelas.
Ternyata hujan telah deras mengalir di mataku.
Tenang, sudah reda.
Tenang, aku baik-baik saja karena terbiasa.
Malam ini, lagi-lagi aku memaklumi mu lagi.
Ukiran Hujan
Setiap hari aku terus bilang pada diriku sendiri, lupakan. Seperti tak ada arti, karena setiap kali aku mengingatmu, aku hanya bisa berkata pada tulisan. Rindu yang tak pernah tahu akan terbalas atau tidak dan rasa marah yang tak kunjung membuatku benar-benar membencimu. Aku tahu bagaimana aku benar-benar jatuh cinta, jatuh hati, atau apapun itu kepadamu. Aku hanya terkadang lelah meyakini diriku sendiri, menyadarkan diriku sendiri. Rindu yang datangnya setiap hari, lalu ku tepis bahwa kamu pergi tanpa kata, tak pamit walau harus membuatku berhenti. Kenapa kamu tak seperti itu ?
Tentang keadaanmu, aku terus bertanya pada diriku sendiri, yang jelas tak bisa aku jawab. Cara kita berjarak membuatku tak bisa bertanya sepatah kata pun, walau lewat pesan yang mungkin bisa ku titipkan. Kita seperti orang lain dan untuk seperti itu aku seolah harus memperkenalkan diriku kembali. Hanya saja, jika benar tentang aku yang tak ada dalam ingatanmu lagi, untuk aku mendekat pun rasanya sudah tak ada arti bukan?
Menghapuskan perasaanku, ku kategaskan lagi, ini butuh waktu. Entah siapa yang harus aku salahkan, walau ku pikir ini salah. Aku ? Perasaanku melawan diriku sendiri sudah kulakukan, tapi tak berhasil. Penyesalan-penyesalan pun adalah cerita terbelakang yang hanya tak ingin ku lihat kenyataan saat ini.
Bagiku, kamu membuatku bahagia. Sebutan apapun itu, aku bahagia. Lewat tulisan, mata, dan hatiku, aku tahu bahagia ini bukan kebohongan. Hanya saja mungkin aku yang terlalu terburu-buru, dulu salah menafsirkan, kebahagian itu tak bisa ku bagikan denganmu. Walau sudah ku katakan, ku tahu kamu mengerti. Aku tahu ini hanya perjalananku sendiri.
Rindu seperti udara.
Terasa, namun tampaknya tiada.
Rindu adalah kita.
Yang menghilang, menyublim tak beraga.
— Untuk Hari Esok
Roda kehidupan akan terus berjalan. Hari ini kita di bawah, besok mungkin di atas. Begitu juga sebaliknya.
Maka, jalani hidup ini sewajarnya saja. Sebatasnya saja. Hingga tatkala kita berada dalam fase perubahan, kita tidak akan merasakan keterkejutan yang luar biasa.
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
― Untuk Hari Esok
Ruang bagimu untuk berbicara, tentang mimpi dan harapan.
Seringkali, kita terbelenggu dengan perkataan orang lain. Tenggelam karenanya. Seakan diblokade oleh dinding tebal; hanya lewat perkataan saja.
Itu kerap kali terjadi saat kita berbicara tentang mimpi, dan harapan yang ingin kita ukir. Entah untuk setelah hari ini, esok, sebulan ke depan, setahun atau bahkan... sepuluh tahun kemudian.
Tidak jarang, perkataan seseorang yang sederhana malah membunuh mimpi-mimpi dan harapan yang sudah kita tanamkan di hati kita. Memang, ada kalanya kita perlu berpikir futuristik; tentang semua itu. Tapi bagaimana jika kita menemui orang-orang yang selalu meremehkan mimpi dan harapan yang berada dalam satu garis itu?
Dear, jangan patah semangat. Jangan bersedih, jangan putus asa. Ketika mimpi dan harapanmu dipatahkan, dilenyapkan bak angin lalu. Tersenyumlah dahulu.
Mari memahami konsep mimpi (kali ini segaris dengan harapan).
Bukankah ketika kita bermimpi; kita menggunakan daya pikir kita. Kita menggunakan ruang pikir kita, bukan orang lain.
Kita merancang mimpi dan harapan kita sendiri. Kita merangkai mimpi demi mimpi dalam kedamaian di ruang pikir kita.
Apakah kita menggunakan ruang pikir orang lain? Tidak.
Apakah kita menyulitkan orang lain, dengan menggunakan ruang pikir mereka? Tidak.
Lantas, mengapa kita perlu menyulitkan diri kita dengan perkataan orang lain akan mimpi dan harapan yang kita punya sendiri; yang kita susun sedemikian rupa di ruang pikir kita sendiri?
Pada akhirnya, mimpi kita adalah milik kita. Pun, kita punya hak sendiri untuk memiliki mimpi.
Bangkit, dan teruskan mimpi kita agar menjadi kenyataan. Satu lagi, jangan lupa tersenyum.
― Untuk Hari Esok