Tentang Mimpi
Kali ini, berbicara tentang mimpi.
Mimpi yang segaris dengan harapan.
Ia abstrak; namun bisa dibayangkan.
Ia tidak terbatas di dalam ruang pikir.
Lagi-lagi, tentang mimpi yang satu arah dengan harapan. Tidak ada dinding yang membatasi mimpi, segala yang tak mungkin menjadi mungkin di dalam mimpi.
Jika ruang yang menjadi tempat sejati sang mimpi saja tidak berbatas; lantas mengapa kita mendengarkan batasan yang diciptakan orang lain?
Kita punya ruang sendiri untuk bermimpi.
Kita punya standar sendiri dalam bermimpi.
Kita punya mimpi kita sendiri.
Mengapa harus mendengarkan batasan yang diciptakan orang lain?
Mimpi kita, tak jarang menjadi hal yang sederhana di mata orang lain. Mimpi kita, tak jarang menjadi hal yang diremehkan oleh orang lain. Mimpi kita, tekankan kata ini; ini mimpi kita.
Bukan mimpi orang lain!
Kita bahkan tidak menyulitkan orang lain; dengan menggunakan ruang pikir mereka untuk bermimpi.
Kita bahkan tidak meminjam imajinasi mereka untuk menciptakan mimpi kita.
Kita tidak menyulitkan orang lain, lantas apa perlunya orang lain menyulitkan kita; membatasi mimpi-mimpi kita dengan kalimat racunnya?
Mimpi kita adalah milik kita. Mimpi kita adalah yang kita punya.
Teruslah membangun mimpi; betapa banyak hal-hal besar tercipta dari mimpi yang sederhana.
















