Pernah suatu kali kita melempar kesalahan yang seharusnya termaafkan; yang seharusnya menemui sebuah pemakluman dari bibir yang urung menahan kepergian. Hari di mana aku takmampu menghitung berapa butir air mata yang tak terselamatkan.
Kita pernah terjatuh di segara yang sama; saling menautkan meski raga takjua bertemu. Sampai suatu waktu, kata maaf menjadi harapan terbesar yang kamu labuhkan. Kata yang basah oleh gerimis di matamu itu.
Dan maaf itu seperti tidak lagi mampu membawa kepulanganmu. Kita tetap sama, hanya masa lalu menjadi beda yang paling kubenci. Mengapa mudah kuputuskan menemui pergi?
Pertanyaan itu telak menembus ruang pikiranku. Bagaimana bisa kepergian menjadi jawaban atas teka-teki rasa? Kita memang (masih) sama; tapi takcukup untuk takdir menyatukan kita.
Pertanyaan yang kamu simpan sendiri di kesepian-kesepian lainnya yang kerap kamu lewati, tanpaku, tanpa kita, dan tanpa keberadaan yang mungkin masih diinginkan. Bila semua ini menyakitimu, berhentilah,. Tak layak kamu dihakimi mereka yang takmengerti.
Tidak, aku masih ingin berlari. Mencapaimu yang berdiri di ujung sana. Melewati deras hujan untuk menemukan langkah yang satu. Sama-sama diinginkan, namun takpernah melahirkan pertemuan.
Di antara luka yang pernah ada dari kepergian itu, aku hanya ingin bergerak seadanya. Aku mencintai kamu yang menginginkan aku. Taklebih dan takkurang.
Aku merasakan hal yang sama. Tapi mengapa masih saja kita dijeda oleh detik yang seakan menggebu untuk memisahkan? Mengapa Takdir takjua mempersatukan saat kedua hati sudah mantap saling menautkan? Sungguh, aku tidak tahu apa-apa lagi.
Jawaban itu masih saja bersembunyi setelah tahun-tahun meretas kehilangan. Kita takpernah tahu selain tetap memiliki ingin yang sama. Ini begitu menyakitkan sebab tiada pernah berpikir kita berdua lebih dari sekadar pecundang.
Aku tidak ingin kalah oleh spasi yang seenaknya hadir memecah perasaan menjadi serpihan-serpihan yang kemudian basah oleh hujan. Di matamu, aku takingin pergi. Namun ternyata, apa yang kita jalani sekarang telah menerbitkan perih—hidup sebagai pengecut.
Di pelukmu aku ingin menemukan rumah yang seharusnya memulangkan ketabahan ini. Tak peduli bagaimana kata-kata memaki kita. Denganmu, aku ingin menjumpai cukup.
Dan di keningmu, ingin kulabuhkan kecupan hangat yang menyibak dingin malammu—tanpa ragaku di sampingmu. Denganmu, aku ingin memeluk cukup.
12 Agustus 2017 | #KolaborasiAgustus edisi 4
Dialog perihal rasa yang takpernah sampai,
Oleh @menatapmu dan @ariqyraihan