Bersyukur tanpa Membandingkan
Ada satu doktrin dalam kehidupan yang menurut saya susah sekali untuk dilakukan, yaitu adalah Bersyukur.
Bersyukur, atau berterima kasih sungguh sangat mudah ketika kita diberi Karunia, Anugerah, Berkat, Bakat bahkan rejeki. Tetapi sungguh lah sulit ketika mengucap syukur dari ketiadaan. Ketiadaan makanan, uang, pekerjaan dll adalah momen yang sulit untuk mengucapkan rasa syukur. Tidak usah dibahas mengapa, pasti kita sudah pernah mengalaminya.
Tetapi bukan itu yang saya ingin bicarakan, melaikan ucapan syukur dengan "membandingkan-bandingkan" ini lah yang menjadi keresahan saya. Sebelum lebih jauh mari tinjau kata bersyukur dari KBBI. Syukur/syu·kur/ 1 n rasa terima kasih kepada Allah, bersyukur/ber·syu·kur/ v berterima kasih; mengucapkan syukur, mensyukuri/men·syu·kuri/ v mengucapkan terima kasih kepada Allah; berterima kasih karena suatu hal, syukuran/syu·kur·an/ 1 n ucapan syukur; 2 v mengadakan selamatan untuk bersyukur kepada Tuhan (karena terhindar dari maut, sembuh dari penyakit, dan sebagainya).
Contoh di atas adalah definisi-definisi kata "Syukur" berserta afiks dan prefiksnya. Ucapan syukur dalam fenomena hidup adalah seperti doa berterima kasih kepada Sang Ilahi, Sang Kuasa, Sang Empunya, sungguh sangat trasendental. Tetapi, makna bersyukur saya rasa mulai terkikis akibat perilaku sang pengucap syukur tersebut. Bersyukur dengan membanding-bandingkan yang saya maksud adalah bersyukur kepada hidup / memiliki sesuatu yang orang lain tidak miliki.
Kita mungkin sering berdoa atau mengucap dalam hati "Ah, syukurlah aku masih bisa bernafas dibandingkan dengan orang-orang yang bernafas dengan alat bantu!", atau pun kita sering berseru dalam hati ketika melihat seorang pengemis yang berpakai compang-camping seperti ini: "Ah, beruntungnya hidupku, meski aku tak kaya raya, paling tidak aku masih lebih beruntung dibandingkan dengan pengemis tersebut."
Ada apa dengan manusia? mengapa Dasein (Isitlah yang dipakai Heidegger untuk menggambarkan Manusia) tidak bisa mengucapkan syukur tanpa harus membandingkan. Coba renungkan, ketika kita berdoa, termenung, atau pun bergumul sendiri tentang bersyukur, kita selalu saja mencoba membanding-bandingkan diri kita dengan orang yang tidak seberuntung dengan kita. Sebagai contoh, "Beruntungnya diriku yang berada di dalam rumah, masih bisa berteduh dari panas terik matahari di luar sana", dalam kalimat tersebut kita pasti sedang menerka bagaimana menderitanya orang-orang yang tidak memiliki rumah untuk berteduh dari sinar matahari yang begitu menyengat. Kelihatannya sangat biasa-biasa saja bukan? Padahal sejatinya kita seperti sedang mengejek orang lain yang tidak memiliki sesuatu yang kita punya.
Banyak contoh lain yang sering kita lakukan, pun dari saya kecil juga dididik oleh orang tua untuk bersyukur dengan membandingkan, coba saja kita kilas balik, pasti anda pernah mendengar nasehat seperti ini--kurang lebih--sewaktu masih anak-anak, "Kamu itu harusnya bersyukur, kamu masih bisa sekolah, makan dan tidur di tempat yang nyaman, coba kamu tengok anak-anak lainnya yang hidup di pinggir jalan sana, mereka tidak seberuntung kamu, kamu patutnya bersyukur!" Saya tidak menampik bahwasannya kita memang harus bersyukur terhadap rejeki yang Tuhan beri kepada kita, tetapi apakah kita tetap harus membahas penderitaan orang lain?
"Mengucap Syukurlah dalam Segala Hal..." sebuah potongan ayat kitab suci umat Kristen. Sudah banyak agama atau pun aliran-aliran yang mengajarkan untuk bersyukur, tetapi mengapakah kita tidak bisa bersyukur tanpa membandingkan? Apakah dengan membandingkan, kita memperoleh "penghiburan diri sendiri" dengan menilik penderitaan orang yang tidak kita alami, sehingga kita bisa bersyukur karena kita luput dari masalah, atau sebegitu susahnya kah bersyukur sehingga kita sangat harus melihat orang lain menderita dahulu?
Saya rasa ini yang harus kita ubah bersama-sama, ketika kita tidak memiliki sesuatu yang orang lain punya, disitu kita diuji sebenarnya, apakah kita bisa bersyukur dengan apa yang kita punya, atau mulai membandingkan apa yang orang lain tidak punya tetapi kita punya. Contoh kasus, si A memiliki ponsel merk terbaru dan mahal, si B memiliki ponsel merk dan model lama, dan si C tidak memiliki ponsel sama sekali. Biasanya, dalam sudut pandang kita sebagai si B, pastilah kita bersyukur karena masih bisa memiliki ponsel meskipun model lama dibandingkan dengan si C, benarkan? Ya itulah yang namanya "penghiburan diri" tersebut. Naluri kita untuk selalu melihat orang lain menderita dibandingkan dengan kita, sehingga kita seakan-akan layak untuk bersyukur. Padahal ini adalah pola pikir yang menyesatkan.
Mengapakah kita selalu berpikir "ada orang lain yang lebih menderita dari kita" sehingga kita patut bersyukur, mengapakah kita tidak bisa bersyukur begitu saja. Sekonyong-konyongnya ketika kita melihat orang lain tiba-tiba terkena serangan jantung pun, kita pasti akan bersyukur masih dapat hidup dengan jantung yang sehat dibandingkan dengan orang tersebut!. Ada apa dengan hidup kita? Fenomena apa yang terjadi, mengapakah kita selalu bersyukur dengan membandingkan? Apakah ketika kita bersyukur, kita sebetulnya hanya menghibur diri kita dari keluputan penderitaan? Bukan kah makna bersyukur adalah trasenden, yaitu bentuk rasa berterima kasih karena sudah diberi "hidup" oleh Yang Maha Kuasa?
Pergulatan ini yang selalu menyentil saya ketika seseorang mengajak saya untuk bersyukur. Sudah pasti berpola seperti hal-hal yang di atas tadi. "Bersyukur saja, kita masih memiliki ini, dibandingkan bla, bla, bla". Pola tersebut harus kita hilangkan! sungguh, bersyukur dengan membandingkan adalah hal yang paling tidak tulus yang pernah saya dengar! lihat saja, kita bersyukur yang pada awalnya memiliki makna berterima kasih, mengapa jadi makna "penghiburan diri sendiri" yang dibalut dengan eufemisme kata syukur tersebut.
Akhirnya, saya ingin mengajak, siapa pun, agama apa pun, aliran apa pun, dengan latar belakang apa pun. Mengucap syukurlah dengan tidak membandingkan apa yang orang lain tidak miliki, Bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki sekarang, tidak usah menilik hidup orang lain, hidup kita saja yang kita pikirkan ketika bersyukur. Agar makna bersyukur, kembali suci sebagai makna rasa berterima kasih kita kepada Sang Khalik, bukan sebagai "penghiburan diri sendiri".