Trilogi Arti Nyeri: Waktu
Tulisan ini adalah tulisan tentang sepersekian hikmah yang saya dapat ketika mendalami nyeri dan bagaimana ia mengikat kita semua dalam hidup bersama. Saya kemas menjadi trilogi; gagasan ini terbagi menjadi tiga abstrak besar.
Abstrak yang pertama, perihal waktu.
Mas, Mbak, kalau dipikir, dari lahir hingga akhir hidup, nyeri banyak ikut andilnya, ya.
Ibu kita, tanpa adanya rasa nyeri, mustahil untuk mendapat dorongan yang cukup ketika melahirkan kita. Pun jika tidak cukup, nyeri tetap dibutuhkan untuk membantu keputusan lahir secara caesar apa tidak. Kita lahir karena rasa nyeri mereka.
Begitupun anda, Mbak, kelak jika anda dititipkan Allah untuk mengandung dan melahirkan, sadari kalau nyeri itu niscaya, untuk mengantar kehidupan yang baru.
Photo by Patricia Prudente
Sekian bulan, akhirnya kita yang baru hidup itu belajar banyak hal. Salah satunya belajar jatuh ketika berjalan. Sadar dengan nyeri yang ada ketika berjalan dan terjatuh, kita semakin berhati-hati ketika berjalan. Lalu tidak lama kita dapat berlari. Terjatuh, nyeri, lalu bangkit dan semakin berhati-hati.
Begitupun ketika belajar bersepeda dan terjatuh ke dalam parit; belajar masak dan terkena cipratan minyak; belajar untuk ujian dan harus rela nyeri kepala berkali-kali.
Lalu memasuki quarter life crisis. Banting tulang untuk lulus dari universitas. Tertatih-tatih dalam mencari jati diri. Sering overthink dengan ketidakpastian. Irama tidur pun terasa tidak beraturan. Ada nyeri di situ, mengena ke fisik dan mentalnya, membuat kita terbentur dan terbentuk untuk menjalani kehidupan.
Pun akhirnya menginginkan keseriusan dalam hal cinta, ada nyeri yang bermain dan harus dibayar. Ada ketakutan ketika pasangan merasakan nyeri, berkorban demi kenyamanannya. Ada pula nyeri dalam dada ketika mengetahui hal-hal yang tak berkenan di hati. Dan segudang pengalaman lain karena cinta memang mustahil tanpa nyeri.
Fase berkeluarga; ada luka yang niscaya. Dia hadir dalam bentuk keresahan perencanaan keuangan. Hadir pula dalam ketakutan masa depan anaknya yang akan lahir. Hadir pula ketika sang anak, pasangan, atau orang tua yang tidak memenuhi ekspektasi. Ia hadir pula dalam juangnya ibu dan bapak bekerja untuk keluarga, yang nyerinya mereka tahan agar sang anak dapat hidup tanpa terbebani. Dan nyeri-nyeri lain yang dapat membuat keluarga bertumbuh bersama.
Hingga akhirnya tiba di penghujung usia; nyeri hadir dalam bentuk yang berbeda-beda. Fisiknya nyeri akibat penyakit kronis, gula darah tinggi membuat luka susah sembuh atau mungkin darah tinggi yang membuat stroke. Hadir pula nyeri berupa sepi ketika ditinggal pasangan wafat lebih dini.
Lalu di akhir, ada nyeri ketika meninggalkan dunia. Nyeri yang sama, yang dirasakan manusia termulia. Bahkan sahabatnya, malaikat yang mulia, tidak kuat untuk melihat prosesnya.
“Nyeri itu niscaya, ya. Tapi jika tidak nyeri, tidak manusia,”
Nyeri itu diciptaNya ada dari kita lahir hingga wafat, untuk mengajari banyak hal. Banyak sekali. Berhati-hati dalam melangkah, berpikir dalam mengambil keputusan, bersabar dalam mencinta, hingga bersyukur dalam berkasih sayang.
Sebagian dari kita bahkan sudah terlebih dahulu dicukupkan merasakan nyerinya hidup, entah pada usia muda ataupun senja. Mereka sudah dapat melihat arti di balik nyeri itu sendiri, lebih dulu daripada kita.
Selagi ingat, yuk kita doakan mereka agar tenang bersama Yang Maha Tenang.
Susah terkadang untuk melihat pelajaran yang ada, terutama ketika nyeri itu masih hadir di dalamnya. Tapi jika bersabar, insyaaAllah hikmah itu akan semakin tampak, bukan?
Saya yakin, dalam penantian yang baik, dibersamai dengan syukur dan sabarnya, pasti ada yang indah pada ujungnya. Nyeri itu tidak lama, kok. Ada saatnya untuk istirahat, pada sela-selanya, dan yang pasti di istirahat terakhir kelak bersamaNya.
Bersabar dulu, ya.
Hidup ini tidak lama, kok.
Yuk jalani sebaik mungkin,
sekuat mungkin,
sebermanfaat mungkin.
Hidup ini memang penuh nyeri, ya.
Tapi, nyeri tidak selamanya hidup, kan?
7 Mei 2020, dalam heningnya shubuh.