Tulisan ini saya dedikasikan untuk salah seorang sahabat saya.
Januari lalu, saya datang ke Jogja untuk menghadiri walimah seorang sahabat. Sebelum menghadiri walimah saya sengaja menemui beberapa sahabat lama semasa kuliah.
Alhamdulillah saat itu saya dijemput di stasiun oleh seorang sahabat dan ditraktir pula. Mengalirlah cerita kami senja kala itu. Cukup panjang isi cerita-cerita kami.
Tapi yang paling mengena dan kini cerita itu menginspirasi saya untuk menulisnya.
Hari itu, sahabat saya bercerita tentang ikhtiarnya untuk menikah. Taaruf. Sudah dua kali dia gagal taaruf. Iya dua kali. Itu taaruf yang ia niatkan, yang tidak diniatkan? Lebih dari dua kali tentunya orang-orang terdekatnya membantu ikhtiarnya. Masih gagal.
Waktu itu jelas saya menyalahkan beberapa orang tentang kegagalan dia dalam ikhtiarnya. Sebab saya tahu, rasanya sahabat saya itu pantang untuk ditolak, pantang gagal, dan saya yakin banyak laki-laki yang siap meminangnya, dan saya juga tau bahwa sahabat saya itu tidak akan mempersulit diri.
Nyatanya dia belum sukses langkah ikhtiarnya. Mengapa?
Sahabat saya memang patah hati, tetapi saya yakin Allah telah mempersiapkan waktu untuk dia memahat hati.
Kini saya rasa dia perlu bersyukur atas ketidaksuksesan langkah Ikhtiarnya. Sebab Allah yang paling tau apa-apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Sebab Allah tau bahwa seseorang yang sedang di-ikhtiarkan sahabat saya itu adalah bukan jodohnya.
Kini saya juga jadi bisa memaknai tangisan-tangisan patah hati orang-orang. Iya memang tidak enak patah hati itu. Tapi sekali lagi, Allah Maha Tahu apa-apa yang tidak diketahui hamba-Nya.
Allah tahu kepada siapa kita harus dan kapan memahat hati. Menambatkan hati kepada dia yang tertulis di Lauhul Mahfudz.
Tangerang, 12 Mei 2019 - 7 Ramadhan 1440 H