Itulah makanya jangan iya saja karena orang bilang. Gede kali resikonya. Apalagi nyesal nya kan. Kayak gitulah pembimbing ku nasehatin tentang decision making dan thought process.
Karena dampak dari semua keputusan yang kita ambil itu kita sendiri yang menanggung resikonya, gak papa orang bilang ini, bilang itu, nyuruh ini nyuruh itu, tapi keputusan akhir kita yang ambil. Begitu kata beliau di sore hari, ketika itu ku lagi pusing hampir mau nangis karena semua orang desakku untuk maju sidang skripsi, ku ndak siap. Tapi seolah-olah mereka menekan ku, emang kamu mau ketinggalan? Orang-orang semua sudah wisuda, yang sama-sama kita ajuin judul skripsi tinggal kamu saja. Ditekan kayak gitu siapa pula yang ndak gundah gulana gelisah pengen nangis kan?
4 tahun 2 bulan ku terhitung sebagai mahasiswa, itulah pelajaran yang paling berharga sampai sekarang. Pelajaran yang prakteknya tak akan ada habisnya sampai nanti.
Ya kan diumur segini siapa pula yang ndak di desak tentang pernikahan? Ku pegang erat kata pak pembimbingku! Bangga kali rasanya waktu itu ku memutuskan untuk mundur ndak ikut sidang skripsi di waktu yang didesakkan itu. Karena itulah pilihan ku, jadi lebih lega dan lebih matang saja persiapannya, walaupun gagap juga pas sidang wkwkwk
Kayak gitu pula nanti, jika kao didesak tentang pernikahan misalnya, sudah banyak yang ditolak, sudah banyak desakkan sampai sesak kali kepala ini rasanya, JANGAN berani-berani kao bilang 'iya'! Jika kao sudah siap pasti kao tau waktunya itu, Allah pasti kirimkan sinyal itu kepada kao.
-catatan untuk pengingat diri, karena ku sering kali iyakan saja apa kata orang-















