"Sendiri tak selalu tentang sepi, dan berdua tak melulu berarti bahagia."
Aku pernah menuliskan tentang hal itu, lupa di postingan kapan. Yang kuingat adalah saat waktu telah menyadarkan bahwa "sendiri" bukanlah sebuah hukuman, sebab "Kamu tak akan pernah merasa kesepian, jika kamu telah nyaman sendirian".
Singgasana ketenangan bernama; "kesendirian"
Dahulu, sunyi adalah hantu yang kupaksa lari dengan suara-suara palsu. Aku memburu kerumunan, memohon pengakuan pada tatapan orang lain, hanya agar aku tak perlu mendengar detak jantungku sendiri yang menggigil, dan mencari detak jantung orang lain untuk merasa hidup.
Saat aku telah melewati fase memohon perhatian, melewati badai ekspektasi yang mengecewakan, melukai hati sendiri dengan harapan yang aku sandarkan pada orang lain, hingga akhirnya aku tersadar jika;
"Menggantungkan bahagiamu pada orang lain, berarti kamu sedang memberikan pisau kepada orang asing untuk menguliti ketenanganmu sendiri suatu hari nanti".
Setelah sekian lama aku menetap dalam sepi, aku tak lagi melihat dinding yang kosong sebagai penjara. Ia adalah kanvas hidup. Aku tak lagi melihat sunyi sebagai lubang hitam; kini bagiku ia adalah jeda yang membuat melodi hidupku terdengar lebih megah.
Kini, aku berdiri di puncak kesendirianku. Bukan karena tak ada yang ingin datang, tapi karena aku tak lagi "butuh" seseorang hanya untuk merasa utuh.
Aku sudah tidak lagi mencari "belahan jiwa" sebab aku sadar, aku tidak pernah terlahir dalam keadaan terbelah. Jiwaku utuh, hidupku penuh. Dan seharusnya tak ada lagi ruang bagi hantu bernama kesepian untuk duduk menetap.
Jadi, Jika suatu saat kau melihatku duduk sendiri di sudut sebuah kafe pada sebuah senja temaram, jangan kasihani diriku. Sebab bisa jadi, saat itu aku sedang merayakan pesta paling meriah di semesta ini:
Pesta kepulangan ke dalam diri sendiri.












