🔻Revolusi Dalam Diri: Menumbangkan Hegemoni Slave to Self
(Syair atas Gagasan James Allen, versi M. Ismail Yusuf)
Sebelum kau menuduh dunia menindasmu, tanyalah dulu: siapa penguasa di kepalamu?
Kapitalisme bicara kebebasan— tapi menjualnya dalam bentuk iklan. Komunisme bicara kesetaraan— tapi memenjarakan hati dalam dogma negara. Fasisme menjanjikan kekuatan— tapi menumbuhkan ketakutan. Oligarki tersenyum di balik demokrasi— menyebut penindasan sebagai “stabilitas.”
Sebelum kau menuntut revolusi sosial, adakah kau sudah menggulingkan diktator kecil bernama takut, malas, dan nafsu kuasa diri?
Kita sering teriak: “turunkan tiran!” padahal tiran sejati sedang duduk manis di balik dada— mengatur jam makan, jam tidur, bahkan jam kita berpikir.
Kawan, penjara tak selalu punya jeruji besi, kadang hanya berbentuk kebiasaan yang kita sebut kenyamanan.
Rantai tak selalu berbunyi nyaring, kadang berupa notifikasi layar yang membuatmu tunduk setiap lima menit.
Kita menuduh kapital menghisap, diktator merusak tapi lupa: ego pun bisa jadi korporasi besar, menghisap tenaga nurani, mengiklankan kesombongan, memproduksi kemalasan dalam skala massal yang merusak.
Maka, sebelum kau bicara tentang revolusi, belajarlah menumbangkan penjajahan di kepalamu. Sebelum kau mengusung manifesto rakyat, tulislah deklarasi kemerdekaan dirimu sendiri.
Karena tak ada proletar yang benar-benar bebas selama pikirannya masih diperbudak oleh rasa takut, dan tak ada penguasa yang benar-benar berdaulat selama egonya masih mengemis validasi dunia.
Kau bisa menurunkan presiden, tapi jika hawa nafsu masih bertahta, rezim lama hanya berganti nama.
Kau bisa mengganti sistem, tapi jika keserakahan masih jadi ideologi, maka kapitalisme akan lahir dari hatimu sendiri.
Kawan, revolusi bukan sekadar senjata dan slogan, tapi keberanian menatap cermin dan berkata:
“Tirani pertama adalah aku sendiri.”
Dan ketika tiran itu tumbang— saat kau tak lagi diperintah oleh syahwat, tak lagi tunduk pada ketakutan, tak lagi disuap oleh kenyamanan— saat itulah kau bisa bicara tentang kebebasan sejati.
Karena revolusi sosial tanpa revolusi batin hanyalah pergantian warna bendera di ladang yang sama tandusnya.
Maka bangunlah, bukan untuk berteriak, tapi untuk berpikir.
Bangkitlah, bukan untuk berperang, tapi untuk melawan diri sendiri.
Sebab hanya mereka yang menaklukkan batinnya yang pantas memimpin dunia luar.
















