Kita pernah mengenal pada suatu hari. Selanjutnya, kita menatap langit-langit kamar, kita membayangkan sebentuk wajah di jendela, dan kita tersenyum pada sebuah ponsel, masing-masing.
Obrolan itu pernah menyenangkan. Dulu, percakapan kita selalu membahagiakan. Hanya ada dua pilihan saat berhadapan denganmu: suka atau tidak suka. Dan jika kamu ingin tahu, aku termasuk kategori yang pertama.
Sebenarnya kita hanya perlu beberapa hal sederhana agar raga kita menyatu; kedai kopi, toko buku, bioskop, bandara, atau sekedar alam mimpi yang mampu menghadiahkan pertemuan teruntuk kita.
Sebelum sebuah perasaan mengacaukannya, kita pernah baik-baik saja.
Dua orang yang seharusnya beriringan dengan sangat sederhana, ternyata bisa saling menyakiti dengan sebegitu tenangnya. Kita diam, kita membiarkan sunyi menjadi jawaban atas resah yang ada, lalu kita tidak berbicara lagi.
Kita pernah mengenal.
Kita (mungkin) pernah saling cinta.
Kita (tidak) pernah bersama.