Aku letakkan pedangku. Aku tak akan mengangkatnya untuk menusukmu. Dan jangan harap kutaruh bunga di makam segala ulahmu.
seen from United States

seen from Italy

seen from Greece
seen from China
seen from Singapore
seen from China
seen from Japan

seen from Greece

seen from United States
seen from Germany
seen from Italy
seen from Malaysia

seen from Italy
seen from Indonesia

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from China
seen from Japan
seen from United States
Aku letakkan pedangku. Aku tak akan mengangkatnya untuk menusukmu. Dan jangan harap kutaruh bunga di makam segala ulahmu.
Sebuah Luka Yang Telah Pulih
Setiap rasa yang bersemi dan setiap emosi yang bergejolak tak pernah hadir tanpa alasan, ntah disadari ataupun tidak, Ia perlahan menggerogoti jiwa, hingga siapapun tidak sadar sudah sejauh apa diri berubah karenanya.
Sejak SD aku selalu memendam, aku tidak berani, aku takut, tidak suka bercerita, tidak memiliki inisiatif, dan aku menjadi semakin diam. Padahal saat balita aku cukup menjadi anak yang riang, suka berceloteh dan berani. Semuanya berpikir aku bertransformasi karena faktor usia, namun tidak, harusnya di usia demikian aku bisa tumbuh memiliki kekokohan diri yang terpenuhi hingga bisa percaya diri.
Jadi kalau menurutku, aku pikir aku berubah karena adanya konflik yang terjadi kala itu. Tepatnya saat aku duduk di bangku TK, aku memiliki sahabat perempuan yang ia sangat dekat denganku, tetangga sebelah rumah, kami sekelas di TK, juga teman bareng di ngaji sore, namun ia lebih mudah dariku setahun, Ega namanya. Ternyata hubungan pertemanan ini sangat singkat, aku tidak tau kapan ia memiliki dendam padaku karena aku lebih unggul darinya dimana-mana (kalau kata ibuku, itu dari ibunya yang memang iri padaku yang selalu bisa dan jadi juara di TK), lambat laun sikapnya kepadaku berubah, ia menjadi teman yang aneh, berkata kasar, egois, dan marah dan terjadi sesuatu konflik besar diantara kami yang aku lupa detailnya intinya seperti ditindas atau lebih😭, hingga aku takut padanya dan sangat tidak ingin melihatnya.
Lama kelamaan aku sangat tidak nyaman namun tetap aku tutupi dari ibuku, pernah sekali sepertinya ibu melihat gelagat aneh karena aku selalu menghindar kalo ingin pergi sekolah dengannya sehingga bertanya, "kakak sama Ega baik kan, kok mamak tengok ga pigi sama lagi ?" tanya ibu, dan aku jawab "baik kok mak, gapapa kakak mau duluan aja" kataku. Sampai suatu saat ini semua tercium, ibuku tau aku tertindas dibuatnya dari kakak-kakak yang ngaji MDA di TK kami. Karena hal itu ibuku mencoba bilang kepada ibunya serta mau tidak mau kami harus tidak berteman lagi demi kebaikan keduanya, ia sempat minta maaf dan ingin berteman lagi namun aku tidak bisa, sampai² beberapa hari sekolah aku selalu diantar dan ditunggu ibuku agar memastikan aku tidak dekat dengannya.
Tau rasanya anak usia 5 atau 6 tahun yang memendam cerita perselisihan dengan temannya kepada ibunya ? aku jujur tidak ingat namun cerita inilah yang paling aku tutup rapat, hingga akhirnya aku trauma untuk berteman dekat sekali dengan siapapun termasuk hingga sekarang. (Bisa kenal dan memiliki teman atau sahabat namun susah untuk memiliki hubungan yang lebih dalam dan masuk ke sesama kehidupan orang dan tidak memiliki trust yang besar untuk cerita, untuk hubungan yang lebih dekat, canggung, dan lain-lain Contohnya saja aku dan Dita A.P (Ape Lu), kami bersahabat (mungkin tak terlihat wkwk) namun sebenernya memiliki banyak ruang masing-masing, dan aku nyaman dengan hubungan seperti ini).
Aku pernah tidak memaafkan Ega dan pernah bersyukur karena dia pindah rumah ketika SD, sehingga aku tak perlu bertemu dengannya. Waktu telah menjawab dan aku telah memaafkan.
Mungkin benar itu memang menjadi salah satu faktor dari pertumbuhanku yang menjadi lebih tertutup dan takut, dari situlah aku sangat tidak suka konflik dengan siapa-siapa hingga sekarang, rasanya jika bersalah dan ada bermasalah dengan orang lain ingin menjadi orang yang terus minta maaf dan dimaafkan adalah sesuatu yang lebih indah.
Namun setelah dipikir-pikir sekarang, mengapa setelah konflik tersebut aku juga tidak memiliki perbaikan untuk keberanian dan kepercayaan diri ? Padahal itu terjadi ketika TK, sementara aku bisa bertumbuh di SD, SMP, SMA dan seterusnya untuk lebih baik. Dan ternyata yang menjadi penyebabnya tak jauh dan tak bukan adalah rumah. Aku memang sangat bersyukur hidup dengan keluarga yang utuh, ibu di rumah, ayah juga bekerja sebagai wiraswasta berdagang di rumah, tidak pernah merasakan salah satunya jauh dalam sehari. Namun hadir belum tentu berperan, begitu kira-kira.
Hingga sekarangpun aku tak dekat dengan ayah, ingin berubah pun bingung memutus rantainya, aku malu dan tidak berani. Tetapi aku memiliki momen rutin yang selalu bikin aku terharu karena ayah adalah segalanya, ia yang selalu mengantarku mengajar di mesjid, mengantar pagi-pagi ke simpang untuk kuliah, hingga sekarang untuk pergi kerja. Rasanya untuk mengucap terima kasih atas hadirnya selama ini aja aku malu dan selalu ingin menangis seperti saat ini menuliskan hal ini aku juga menangis :). Aku sayang ayah🖤
Aku sebenarnya tak pernah menyalahkan hal-hal lalu dari rumah yang menjadikan aku bertumbuh menjadi seperti sekarang ini, aku selalu menormalisasikan dan mewajarkan "oh iya ayah kan memang gini, oh iya mamak kan gini", namun seiring berjalannya waktu semakin dewasa semakin belajar, dan mengetahui bagaimana psikologi anak yang baik agar terpenuhi sejak dini, dan ya aku sangat jauh dari setiap tingkatan fasenya, banyak beban yang aku bawa hingga sekarang. Pelajarannya adalah peran kedua orang tua memang sangat diperlukan demi anak yang sehat secara lahir dan batin. Untuk kita kedepan.
Aku sadar bahwa semua orang punya salah, orang tua bersalah namun anak juga lebih banyak salah, belum lagi aku juga salah terhadap diriku sendiri, banyak sekali kekesalan terhadap diriku sendiri yang selalu terpendam, dan selalu aku buang dan lupakan. 'Denial' kata ini yang tepat untuk diriku.
Dear semuanya yang tak pernah sengaja membuat luka namun nyatanya aku terluka, terima kasih sudah hadir menjadi perjalanan hidup, maafkan aku, aku sudah memaafkan semuanya. Semoga kita baik yaa
Disclaimer, sekarang adeknya Ega itu murid ngajiku di mesjid sini, dan ia sangat akrab denganku, rasanya lega tidak ada dendam yang terasa. Happy for it
~Faa
Garis yang Sepi
Di banyak panggung, riuh menyambut mereka yang tiba, pelukan jadi mahkota, tepuk tangan jadi irama; sementara aku, ketika garis finish kulewati, hanya bayang tubuh sendiri yang jatuh di aspal panas.
Mungkin beginilah cara waktu mengajar, bahwa tak setiap pencapaian harus disertai sorak sorai; kadang sepi pun guru yang setia, menempa dada agar tahan saat dunia menutup mata.
Namun aku berjanji, esok berbeda, anak-anakku tak akan berlari sendirian; akan kutanamkan hangat dukungan sejak awal, agar mereka paham arti ditemani hingga ujung lintasan.
Dan bila kelak lampu sorot menyoroti langkah mereka, biarlah aku jadi cahaya pertama yang menyalakan, menyambut, mengiring, mengabadikan momen kecil itu, agar mereka tak pernah tahu sepi yang kini kualami.
Patah Pucuk
"Seharusnya pertemuan kita tidak seperti ini Jul", ucapku kepada Juli.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, memang sudah seharusnya kita bertemu sekarang. Ceritamu dengan Juni bukan urusanku", balas Juli.
"Kalau begitu, biarkan aku sendirian. Pergilah secepatnya. Semua yang ada di dunia ini hanya peduli dengan dirinya masing-masing. Persetan dengan kemanusiaan."
Dengan begitu kesal langkah kakiku meninggalkan jalan rindang dekat tukang es kelapa.
Untuk bisa seperti ini fokus kita memang hanya perlu ke Allah semata, bukan manusia. Fokus pada yang Allah beri, reward kita sebagai muslim berupa pengurangan dosa dari rasa sakit dan juga pahala jika menerima, bersabar dan memaafkan. Dan sadari bahwa ini ketetapanNya, bukan random, bukan karena Allah lupa atau skip. Dan Dia adalah Yang Memiliki hidup kita. Bukan sekadar menciptakan lalu dibiarkan dan dilupakan.
Bukan fokus ke manusia, karena kalau ke manusia kita masih memikirkan seolah kalah, lemah, ngga penting, dll. Padahal untuk bisa memaafkan hal yang begitu dalam menyakitkan itu butuh kekuatan besar dan langka pada umumnya. Belum lagi dukungan syetan yang selalu siap jika ada kejadian menyakitkan seperti ini, dukungan negatif untuk merasa marah dan ingin balas dendam. Walau membalas yang setimpal itu dibolehkan dalam islam, tapi apakah membuat kita tenang dan pikiran serta kesehatan kita baik untuk ke depannya? ini kan bicara sakit yang dalam ya, bukan yang biasa.
Maka pertimbangkanlah untuk lapang dada, untuk melepas dendam itu walau tanpa diminta. Bukan demi mereka, bukan mengiyakan perilaku mereka melainkan demi ketenangan, pahala dan kesehatan kita. Jangan pedulikan penilaian orang yang hanya berpikir di permukaan saja. Ikhlaskan dan terima saja walau tidak perlu kita benarkan.
Amarah dan Benci
"Laa Taghdab" begitulah Rosulullah menasihati sahabatnya yang memiliki kebiasaan marah. Marah bukanlah karakter yang tak bisa dirubah, atau bahkan bawaan sejak lahir. Marah adalah karakter yang kita didik sendiri menjadi kebiasaan. Dan itu itu adalah kebiasaan buruk.
Amarah, saat ia muncul, ia memadamkan kebaikan, hati akan sirna dan mata akan buta. Ia tidak melihat kecuali kegelapan.
Banyak Ibadah tetapi tidak mampu mengontrol emosi membuat kebaikan yang dilakukan itu sirna begitu saja. Demikian Jalaluddin Rumi berkata "Sebelum kamu membasuh wajahmu dengan air, terlebih dahulu berwudhu lah kamu dengan cinta, karena Allah tidak menerima ibadah seseorang yang dipenuhi dengan kebencian".
Marah dan benci itu bukan dibentuk oleh orang lain. Kamu tidak akan pernah mampu mengakhiri amarah mu jika kamu hanya meminta orang lain agar tidak membuat mu marah. Itu hanya kesia-siaan.
Ali Bin Abi Thalib juga berkata bahwa marah adalah musuh mu, taklukkan dia. Semua orang tentu bisa marah, bahkan Nabi sekalipun, tapi mereka menahannya seperti menelan sesuatu dengan cepat. Sebab tidak ada yang didapatkan dari kemarahan selain kerugian.
Rasulullah bersabda "Jangan Marah, Maka Bagimu Surga"
.
.
@nidzomizzuddien
Memendam Dendam
I don't know if this is relate with you or not. Bagi saya, saya itu hobi memendam mungkin bisa jadi dendam juga. Mungkin juga itu bukan hobi tapi sifat yang terbentuk karena perjalanan hidup.
Jika ada orang yang dianggap bermasalah dengan saya, saya coba menghindar. Jika ia membuat saya marah, saya usahakan tidak berinteraksi dengannya lagi melalu bentuk apa pun, bahkan memblokirnya adalah jalan terbaik.
Memendam bukan berarti memelihara dendam dan ingin membalas. Dulu, ketika pemahaman Islam saya rendah, mungkin ada rasa, "Liat aja entar." saya marah, buang muka (tapi sekarang masih sih, meski yang buang mukanya di hati saja).
Sekarang, ketika saya sedikit demi sedikit paham Islam, marah itu coba saya olah, saya pahami, dan saya mengerti. Rasanya masih sama, tetapi keadaan diri saya jauh berbeda. Saya tetap marah, tetapi kali ini saya pendam hingga saya menemukan jawaban, yang saya harus sematkan pada diri saya, bahwa ia (yang saya anggap menyakiti hati saya) juga berhak masuk surga.
Kuncinya adalah tidak reaktif, tidak mudah tersulut emosi yang habis membakar diri. Lalu bagaimana? Jadilah manusia responsif, memahami masalah, bersabar, dan mengendalikan diri. Kita bisa saja puas saat kita mengungkapkan kemarahan kita, tetapi energi kita selesai di situ, tidak ada sisa kecuali luka. Mengendalikan energi marah inilah yang disebut manusia yang lebih kuat dari pegulat, ia mampu mentransfer energinya secara bertahap hingga ia bermanfaat bagi siapa saja yang ada di sekelilingnya. Seperti halnya mentari, jika mau ia mampu memecah panasnya dan menghancurkan planet di sekelilingnya, ternyata tidak. Ia mentransfer energi panasnya itu perlahan hingga panasnya mampu bermanfaat bagi makhluk hidup yang tak tampak oleh mata.
Saya masih belajar mengolah semua, masih menangis sendiri saat ada ujian menimpa, masih saja mengeluh banyak kepada Tuhan semesta alam, masih saja marah dengan hal-hal sepele.
Yang saya lekatkan pada diri saya, "Bersabarlah, karena kita tak tahu alasan dari semua ini".
Mungkin ini relate banget buat INFJ, yang marahnya gak kelihatan tapi bisa meledak kayak Gunung Tambora.
Siapa pun kamu, mengolah emosi adalah tugas kita sebagai khalifah di muka bumi yang akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
A little dot named Puspa
Segala sesuatu yang dipendam terlalu lama katanya akan menjadi penyakit. Entah itu memendam perasaan ataupun memendam dendam.