Cerpen: Hujan Jum’at Sore
Menuliskan tentangmu seperti tidak ada habisnya. Selalu saja ada topik yang menarik untuk ditulis. Seperti hujan di Jum’at sore ini di awal November. Berkah yang berlipat bukan? Hari jum’at dengan hujan seperti perpaduan luruhnya segala lelah, menyambut segarnya akhir pekan.
Yang tidak pernah kuduga dari hujan jum’at sore ini, kamu tiba-tiba muncul dalam sebuah aplikasi chat dengan sebuah pesan singkat. “Ini beneran dia?,” gumamku.
Semesta seakan sedang menarikku ke dalam sebuah scene film romansa. Ketika aku bersama rekan-rekan kerja menikmati derasnya hujan jum’at sore dengan senandung lagu-lagu sendu bertema hujan. ‘Desember’ dari Efek Rumah Kaca lagu yang diputar. Kemudian entah apa yang membuat tangan ini membuka aplikasi chat ditengah suasana syahdu dan sendu, seketika itu juga aku melihat namamu ada di daftar chat masuk. Perlahan kubuka pesan singkat itu, “Hai Tania, apa kabarmu? Di kotamu hujan kah? ‘Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu”
Beberapa menit aku membeku membaca pesan singkat ini. Bingung harus menjawab apa. Sudah terlalu lama tidak chattingan dengannya dan kini dia muncul dengan kalimat puitisnya.
“Hai Tom, Kabarku baik. Ya di sini hujan datang tiba-tiba begitu derasnya,” jawabku canggung.
Setelah kukirim jawaban ini, tidak ada balasan lagi darinya. “Sudah kuduga, klasik,” gumamku.
Kamu selalu seperti ini. Selalu singkat, seperti kehabisan topik perbincangan. Aku tidak tau apa maksudmu menanyakan kabarku saat hujan turun. Setelah sekian lama kita tidak berkomunikasi tiba-tiba kamu muncul dan memberikan kalimat puitis tentang hujan dan masa lalu. Kukira sudah jelas semuanya ketika kamu mengirim surat balasan pada Agustus lalu. Bahwa kamu tidak siap melangkah lebih serius dan masih ada impian yang ingin kamu raih.
Pesanmu ini seperti seseorang yang takut kehilangan, namun belum siap berjuang. Egois. Ingin rasanya aku membalas seperti ini, tapi aku gak mau memperpanjang urusan ini denganmu.
Biarlah yang lalu menjadi kenangan dan pembelajaran untuk tidak menaruh ekspektasi pada raga yang lain. Biarkan aku menyimpan cerita masa lalu kita pada tempat yang seharusnya dan terus melanjutkan hidup, tanpamu.
Jakarta, 3 November 2019













