Di Timur Jakarta
bertemu sejenak lalu seketika berpisah denganmu.
ternyata tak semudah rencanaku,
tak secepat mauku.
hujan malam itu,
rintiknya kujadikan gugurnya lajuku.
menahanku untuk lekas meninggalkanmu.
aku masih ingin melihatmu, bersamamu
lebih lama dari waktu buka kedai kopi yang kita singgahi.
namun aku kehabisan cara menahanmu
merelakanmu adalah usaha terakhir yang aku bisa lakukan.
lambaian tanganmu,
jadi alasan senangku membalasmu, juga sedihku karna berpisah denganmu.
dipersimpangan jalan itu,
kebersamaan kita berlalu.












