Sudut Pandang (Point of View) dalam Fiksi
Secara garis besar, sudut pandang atau Point of View dalam fiksi diartikan sebagai posisi pengarang terhadap karya atau tulisannya. Di mana sang pengarang berdiri untuk menuturkan sebuah kisah? Apakah dengan menjalani kisah itu menggunakan tubuhnya sendiri (sudut pandang orang pertama: aku, saya, gue, kami, dll), seolah menjadi pengamat yang menuturkan kisah milik pembaca, mirip seperti mengobrol (kamu, kau, kalian), atau dengan menjadi Tuhan di luar cerita yang mengetahui segalanya atau sebagian saja (Dia, ia, nama).
Dalam nonfiksi, perihal sudut pandang ini sering disebut angle. Para jurnalis biasanya menentukan angle sebelum menulis sebuah berita. Bedanya, jika dalam fiksi sudut pandang cukup diwakilkan dengan perbedaan penyebutan subjek, pada nonfiksi, sudut pandang lebih ke gagasan, opini, atau sikap sang penulis terhadap tulisannya. Kalau kita bicara di luar konteks penulisan, sudut pandang adalah hal yang lumrah untuk banyak karya seni. Bisa kita serempetkan ke amanat yang terkandung dalam sebuah karya. Amanat ini timbul dari sudut pandang sang seniman terhadap sesuatu yang menginspirasinya dan akhirnya tertuang dalam karyanya.
Contohnya gini. Sebuah lagu tentang perselingkuhan akan terasa garing kalau di dalamnya sang pencipta lagu nggak beropini apakah dia mendukung perselingkuhan, terluka karena perselingkuhan, mengejek perselingkuhan, atau justru menyukainya.
Mari kita bangun perspektif yang kuat sebelum melangkah ke hal teknis. Salah satu hobi saya adalah membaca resensi-resensi para penikmat buku di Goodreads. Komentar-komentar pedas memberikan saya pelajaran dan motivasi untuk nggak berbuat serupa. Sedangkan komentar-komentar baik memberi saya pelajaran tentang selera pembaca dan ciri khas yang baik dari para penulis.
Kuncinya adalah: memilih sudut pandang yang tepat untuk sebuah cerita.
Pada dasarnya, pemilihan sudut pandang bisa terserah penulis. Asal si penulis menguasai tekniknya, dia bisa cas cis cus lancar tanpa jeda, akhirnya selesai deh. Tapi menurut saya pribadi, terserah kalian mau percaya atau enggak, sebuah kisah yang hadir di kepala kita dan terwujud menjadi sebuah karya lewat tangan-tangan kita, punya ruh sendiri. Tokoh-tokoh di dalamnya berusaha menyampaikan. Sudut pandang adalah sebuah suara. Gunakan intuisi kamu, dengarkan kata hati kamu, dan pilih, suara bagaimana yang terasa lebih merdu dan membuat hati kamu kenyang ketika membacanya.
Tanyakan dua pertanyaan ini:
Kira-kira cerita ini akan bagus jika saya tuturkan dari sudut pandang mana?
Kira-kira, pesan yang saya miliki akan tersampaikan ke pembaca dengan cara terbaik sekaligus dramatis melalui pikiran siapa?
Kamu bisa mencoba menulis awal cerita dengan beberapa sudut pandang, lalu baca keras-keras. Mana yang rasanya lebih tepat? Yang paling tepat itulah suara cerita tersebut!
Cerita jelek yang dituturkan dengan baik lebih bisa diterima daripada cerita bagus yang dituturkan dengan jelek. Saya lupa itu kata-kata siapa. Yang jelas, bukan cuma pemula yang kadang merasa bingung menentukan sudut pandang. Para penulis yang sudah punya buku juga kadang masih terlihat kagok. Pada akhirnya tulisannya jadi terasa kurang pas, kurang bernyawa, bahkan terkesan kaku. Sepenting itu sebuah sudut pandang.
Untuk saya, sudut pandang ada di nomor dua terpenting setelah gaya bercerita. Karena dalam fiksi, dari dua hal inilah narasi terbentuk. Narasi yang lincah adalah modal penting yang memudahkan kamu menerbitkan karya-karya kamu. Nggak percaya? Cobain deh. Entah itu di koran, majalah, penerbit, atau lomba. Para pelaku dunia literasi pertama mencari yang enak dibaca. Biarpun gagasan atau ide ceritanya kurang bagus, ini lebih bisa diterima daripada yang punya ide brilian tapi nggak tahu cara menyampaikannya.
Bayangin aja, kalau kamu punya gagasan untuk menangani banjir di Jakarta dan kamu berusaha memaparkan ide kamu tapi bahasa kamu berlepotan dan nggak jelas. Siapa yang mau dengar?
Nah, berikut saya lampirkan contoh pemakaian sudut pandang.
Sudut Pandang Orang Pertama (Umum digunakan pada sastra, tulisan populer, atau klasik)
Saat itulah aku melihat seseorang. Dia berdiri dekat perapian, menunduk memanggang batangan-batangan besi. Tampak belakang, sepertinya lelaki itu berusia kisaran lima puluh sampai enam puluh tahun. Mungkin salah satu penjaga tempat ini. Dia berpakaian batik dengan blangkon Sunda menutupi rambutnya yang sebagian telah beruban. Dandanannya mengingatkanku pada Pak Husen.
-Lunar Eclipse (Nindya Chitra)
Sudut Pandang Orang Pertama sebagai Pengamat (Sama seperti sudut pandang orang pertama biasa, hanya saja tokoh utamanya orang lain, bukan si AKU)
Ketika aku tiba di Baker Street, kulihat Holmes sedang melingkar di kursi malas dengan lutut terangkat, pipa rokok bertengger di mulut, dan alis mengerut. Jelas dia sedang menghadapi masalah yang membingungkan. Dia melambaikan tangannya agar aku duduk di kursi malas tua yang biasanya menjadi tempat dudukku. Tapi selama setengah jam berikutnya dia seolah-olah tak menggubris kehadiranku. Kemudian, secara sangat mengejutkan, dia tampaknya tiba-tiba sadar, dan dengan senyum misteriusnya menyambut kedatanganku kembali ke tempat yang dulu kami tempati bersama.
-Sherlock Holmes Episode Pria Merangkak (Arthur Conan Doyle)
Sudut Pandang Orang Kedua (Biasanya digunakan untuk sastra, sastra klasik, nonfiksi, syair, puisi, sajak, juga kini mulai banyak kutipan-kutipan inspiratif di media sosial yang memakai sudut pandang ini. Jarang novel populer yang memakainya)
Angkatlah tanganmu. Lihatlah ada cinta menggembung dalam bongkahan jemarimu. Cinta yang tumbuh bukan dalam waktu semalam. Cinta yang telah tumbuh di usia tiga tahun pertunanganmu dengannya. Bahagiakah engkau? Puaskah engkau telah menipunya? Engkau mengharapkan tak seorang pun menyentuhnya tetapi engkau adalah penyentuh ratusan wanita yang bersedia demi bayaran dari dompetmu.
-Camping Out (Ernest Hemingway)
Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas/Hanya dari Pikiran Satu atau Lebih Tokoh (Umum digunakan dalam fiksi jenis apa pun)
Kabar yang berembus, Ayumi meninggalkan rombongan timnya di bagian neurologi untuk mengejar brankar yang mengusung anak perempuan korban kecelakaan ke IGD. Menurut pengakuan seorang perawat, gadis berkartu identitas kuning itu mengamati si anak perempuan dengan tatapan linglung. Anak itu meninggal beberapa menit kemudian. Seorang dokter residen mengaku ditabrak Ayumi di depan IGD. Satu jam setelahnya, gadis itu ditemukan petugas kebersihan dekat ruang janitor dengan pergelangan tangan sobek yang meneteskan darah membentuk kubangan di lantai putih. Sebuah pisau bedah tergeletak dekat tubuhnya.
-Manuskrip Hujan (Nindya Chitra)
Sudut Pandang Orang Ketiga Serbatahu (Biasa digunakan dalam fiksi jenis apa pun)
Rose muncul menyusul para pendatang baru ini. Tanpa berkata-kata dia meletakkan satu gelas besar bir di depan Charvet dan nampan di depan Clémence, yang dengan tenang mulai menyiapkan grog†, menuangkan air panas ke sebutir lemon yang dihancurkannya dengan sendok, lalu menambahkan gula dan rum sedikit demi sedikit agar tidak melebihi takaran yang tepat. Gavard lalu memperkenalkan Florent kepada teman-temannya yang sudah berkumpul, khususnya kepada Charvet. Dia saling memperkenalkan mereka sebagai guru, beberapa orang amat berbakat yang pasti akan akur.
-The Belly of Paris (Emile Zola)
Sebagai penutup, jadilah penulis yang ibarat seorang koki, tahu bahan-bahan apa saja yang masuk ke pancimu supaya masakan kamu enak. Semua orang bisa menulis, tapi nggak semua orang bisa menulis dengan baik, bernyawa, bermakna, dan punya ciri khas. Rajin-rajinlah membaca, jangan takut mencoba, bereksplorasi, dan terus belajar.
Terakhir, jangan pernah merasa cukup.
Terima kasih sudah menyimak tulisan ini. Mohon maaf apalabila ada salah kata.