Kenapa kebanyakan penerima beasiswa adalah mahasiswa privileged?
Jauh sebelum video Dwi Sasetyaningtyas viral, saya sudah bertanya-tanya di dalam hati: apakah semua anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan beasiswa negara lewat LPDP? Tapi kenapa justru banyak penerima beasiswa tersebut berasal dari kalangan orang2 kaya? Diantaranya ada lusinan anak pejabat dan artis yang menerima beasiswa LPDP yang ini pernah dikritisi banyak pihak.
Salahnya dimana? Tidak salah. Beasiswa LPDP diberikan bukan berdasarkan taraf ekonomi. Ia bukan bantuan sosial. Beasiswa ini diberikan pada mereka yang memiliki potensi akademik yang bagus yang diharapkan bisa berkontribusi.
Masalahnya bukan di sana. MASALAHNYA ADA PADA KETIMPANGAN SISTEM PENDIDIKAN DAN PROSES BELASAN TAHUN SEBELUM MENERIMA BEASISWA ITU.
Tapi di benak kita selalu ada narasi seragam: semua orang punya kesempatan yang sama. Kalau dia bisa, siapa pun pasti bisa. Narasi yang terdengar indah. Heroik. Menggetarkan. Seolah hidup ini lomba lari 100 meter. Semua berdiri di garis start yang sama. Tinggal siapa paling rajin, paling disiplin, paling gigih.
Padahal hidup tidak pernah sesederhana itu.
Mari kita jujur. Mengapa banyak “orang pintar” lahir dari keluarga berpunya?
Bukan semata-mata karena genetik. Tapi karena ada infrastruktur yang menopang kepintaran itu sejak kecil. Nutrisi yang cukup. Buku bacaan yang melimpah. Les tambahan. Bimbingan belajar. Lingkungan kompetitif. Guru-guru terbaik. Sekolah unggulan dengan kurikulum mutakhir. Semuanya butuh banyak uang! Dan yang sering luput dibicarakan: orang tua yang well educated dan punya waktu untuk mengarahkan.
Sementara itu, di sisi lain negeri, ada anak yang berhenti sekolah karena orang tuanya tak mampu bayar seragam. Ada yang sekolah di madrasah pinggiran dengan fasilitas sekadarnya. Ada yang bahkan tidak pernah mendapatkan informasi tentang cara mendaftar kuliah, apalagi beasiswa.
Saya pernah berada di titik itu.
Saya bersekolah di sekolah swasta untuk dhuafa. Gedung sederhana. Guru terbatas. Informasi minim. Menjelang kelulusan, tak ada pendampingan serius tentang prospek studi lanjut. Tidak ada sesi khusus tentang cara mendaftar perguruan tinggi, apalagi strategi berburu beasiswa. Seolah setelah lulus, ya sudah, hidup masing-masing.
Hasilnya bisa ditebak. Banyak teman yang sebenarnya cerdas hilang arah. Mereka masuk dunia kerja bukan karena itu cita-cita, melainkan karena itu satu-satunya pintu yang terlihat.
Saya sendiri pernah menganggur setahun setelah lulus SMA. Lalu kuliah di jurusan yang bukan passion, dengan beasiswa yang saya cari sendiri. Itu pun lebih karena kebetulan daripada terencana. Alhamdulillah.
Kita sering lupa bahwa kemiskinan itu bukan sekadar ketiadaan uang. Ia adalah jaringan keterbatasan yang saling terhubung.
Pertama, ada keterbatasan informasi. Banyak siswa dari sekolah pinggiran tidak tahu jalur SNBP, tidak tahu perbedaan beasiswa A dan B, tidak tahu bahwa ada tenggat yang harus dikejar jauh hari. Bagi mereka, dunia kampus seperti diliputi kabut tebal.
Kedua, ada kemiskinan relasi. Anak orang kaya punya jaringan. Ada senior, kolega orang tua, komunitas profesional, yang bisa memberi arahan. Sementara anak miskin sering berjalan sendirian. Kalau tersandung, ya bangun sendiri.
Ketiga, ada kemiskinan waktu. Ada anak yang sebenarnya pintar, tapi harus bekerja karena menjadi tulang punggung keluarga. Ia tahu alurnya, paham peluangnya, tapi realitas menuntutnya memilih antara mimpi dan makan.
Keempat, ada kemiskinan mental akibat pewarisan pola pikir. Tidak semua orang tua miskin tidak peduli pendidikan, tentu saja tidak. Tapi tak bisa dimungkiri, ada keluarga yang sejak awal tidak melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Ketika kebutuhan hari ini mendesak, visi lima tahun ke depan terasa seperti kemewahan.
Inilah yang sering disebut sebagai kemiskinan struktural. Sebuah situasi ketika sistem sosial, ekonomi, dan pendidikan saling mengunci sehingga mobilitas sosial menjadi sangat sulit.
Maka ketika kita mengatakan “semua orang punya kesempatan yang sama”, itu terdengar seperti lelucon. Secara aturan, iya. Secara kenyataan, belum tentu.
Mari kita bandingkan.
Anak dari keluarga mapan dan cerdas.
Nutrisi dan gizi optimal? ✅️.
Les bahasa Inggris sejak SD? ✅️.
Bimbel intensif UTBK? ✅️.
Sekolah favorit dengan guru berkualitas? ✅️.
Orang tua terdidik dengan rencana pendidikan matang? ✅️.
Menjelang lulus, mereka sudah punya roadmap. Mau ambil S1 di mana, lanjut S2 di mana, beasiswa apa yang dibidik. Bahkan dana pendidikan sudah dialokasikan jauh-jauh hari.
Lalu ketika mereka mendaftar beasiswa seperti LPDP, tentu peluangnya besar. CV mereka tebal. Prestasi mereka rapi. Esai mereka matang. Bahasa Inggris mereka fasih. Wawancara mereka percaya diri.
Apakah itu salah? Tidak.
Apakah itu hasil kerja keras? Ya.
Tapi apakah itu murni hasil kerja keras individual? Tidak juga.
Ada modal sosial, modal ekonomi, dan modal budaya yang bekerja di belakang layar.
Sebaliknya, anak miskin pintar mungkin harus berjuang lebih keras hanya untuk sampai pada titik yang sama. Ia mungkin harus belajar bahasa Inggris secara otodidak dari YouTube. Ia mungkin harus berbagi waktu antara kerja dan kuliah. Ia mungkin tidak punya mentor untuk mengoreksi esainya.
Kalau ia gagal, sistem tidak akan berkata: “Maaf, kamu kalah karena kurang privilege.”
Sistem hanya berkata: “Maaf, kamu belum memenuhi kriteria.”
Ironisnya, narasi yang dominan di media sosial justru menekankan aspek individual. Seolah semua adalah soal tekad dan disiplin.
Tentu tekad itu penting. Tapi ketika kita menghapus konteks struktural, kita sedang menyederhanakan realitas yang rumit.
Lebih jauh lagi, ada fenomena lain yang jarang dibicarakan: beasiswa sebagai simbol status. Bukan lagi sekadar alat mobilitas sosial, tapi juga lencana prestise. Feed Instagram menjadi etalase pencapaian. Tips dan trik dibagikan. Webinar digelar. Personal branding dirawat.
Padahal, kalau mau jujur, tidak semua awardee nantinya memberi dampak signifikan bagi negeri. Banyak yang setelah lulus hanya fokus pada karier pribadi. Itu hak mereka, tentu saja. Tapi jangan lagi membungkus semuanya dengan narasi pengabdian besar jika realitasnya biasa-biasa saja.
Di sisi lain, ada juga anak orang kaya yang memilih tidak mengambil beasiswa karena merasa lebih layak diberikan kepada yang membutuhkan. Mereka kuliah mandiri. Mereka tahu diri. Mereka tidak perlu validasi publik.
Ada pula anak miskin yang berhasil menembus segala keterbatasan dan meraih beasiswa penuh. Mereka ada. Tapi jumlahnya tidak sebanyak yang kita bayangkan. Dan keberhasilan mereka sering kali juga dipengaruhi satu faktor penting: keberuntungan bertemu informasi dan dukungan pada waktu yang tepat.
Pertanyaannya sederhana: dari sekian banyak anak miskin pintar, berapa yang sampai di panggung itu?
Esai ini bukan untuk meremehkan perjuangan awardee. Mendapatkan beasiswa, apalagi ke luar negeri, tetaplah pencapaian yang patut diapresiasi.
Tapi mungkin yang perlu kita ubah adalah narasinya.
Alih-alih berkata, “Kalau saya bisa, kamu juga pasti bisa,” mungkin lebih jujur jika berkata, “Saya bisa karena kombinasi kerja keras, dukungan, dan peluang yang saya miliki. Jika kamu ingin mencoba, saya akan bantu semampu saya.”
Kalimat kedua lebih rendah hati. Lebih manusiawi. Lebih sadar konteks.
Kita tidak sedang menolak mimpi. Kita hanya sedang mengingatkan bahwa tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada yang start dari lintasan empuk. Ada yang dari jalan berbatu.
Dan bagi kamu yang hari ini merasa tertinggal karena belum dapat beasiswa, belum kuliah di luar negeri, belum punya foto di depan kampus bergengsi—mungkin kamu tidak gagal. Mungkin kamu hanya sedang berjuang di medan yang lebih berat.
Kesuksesan akademik tidak selalu diukur dari stempel luar negeri atau label awardee. Kadang, bertahan kuliah sambil kerja sudah merupakan pencapaian luar biasa. Kadang, menjadi orang pertama di keluarga yang lulus sarjana saja itu sudah luar biasa.
Media sosial boleh saja merayakan senyum lebar di depan gedung universitas luar negeri bergengsi. Tapi kehidupan nyata jauh lebih kompleks dari satu frame foto.
Dan mungkin, yang lebih penting dari sekadar lolos beasiswa adalah bagaimana kita menyadari bahwa keberhasilan bukan hanya soal siapa yang paling keras berlari, melainkan juga siapa yang sejak awal diberi sepatu.
---
from Reddit u/makan-tahi














