no.vem.ber
ruang kontemplasi menuju ...
/1995/
aku bisa bayangkan wajah ibu, meredup bersinar dengan perut membuncit. pasti masih ibu yang harus menampung air dari sumur umum di desa. dua puluh tujuh tahun lalu, sepuluh hari sebelum aku lahir. adakah pernah ibu mengira, putrinya kelak akan seperti sekarang? nunjauh di pelosok negeri, saat perempuan usia dua puluh tujuh sudah menyekolahkan anak keduanya, seperti juga ibu, aku masih mengetik secarik kenangan, meminta semesta mengingatnya dengan baik. sebab aku, menjadi pelupa oleh luka.
-sepuluh hari sebelum dua puluh tujuh-
/1996/
melewati waktu di antara harga diri dan cinta, barangkali itulah yang ayah pilih kenapa akhirnya beliau bertolak dari desa yang telah memberinya kehidupan puluhan tahun lamanya. aku tahu itu bukan untuk mengubah nasib, ayah pernah gagah menjadi lelaki yang diinginkan banyak perempuan. itu adalah cinta, untuk harga diri kakaknya yang dihabisi karena menjadi janda dan untuk putri pertamanya yang akan mengeyam pendidikan. maka satu tahunku, menjadi pembuka melaratnya keluarga itu dalam kemiskinan. kadang aku bertanya, apakah ayah pernah menyesal untuk cintanya yang dibalas tuba? oleh ibu, oleh kakaknya juga oleh putri pertamanya.
-sembilan hari sebelum dua puluh tujuh-
/1997/
adik perempuanku lahir, pasti dengan wajah mungil. jauh sebelum november, bahkan saat usiaku belum genap dua tahun. seharusnya akulah yang paling tak sempurna karena berhenti minum asi sebelum genap berusia setahun. sedang ia memiliki tahunan waktu untuk asi dan kasih. tapi maha adilnya tuhan terkadang membuat dua saudara berselisih karena perbedaan paham. aku tumbuh menjadi yang paling cemerlang sedang ia meredup dan paling mudah mengalah. penyesalan yang tak pernah kunjung memiliki penawarnya, aku yang melek pendidikan kalah untuk keputusannya berhenti setelah sekolah dasar. pernahkah ia menyesali?
-delapan hari sebelum dua puluh tujuh-
/1998/
yang tercatat dalam sejarah apalah pengaruhnya bagi kami yang bahkan hidup tak bertetangga. tak ada ingatan yang samar meski sembilan delapan ditulis dalam banyak buku fiksi dan nonfiksi. penjarahan, pemerkosaan, pelengseran, kerusuhan diikuti inflasi, resesi dan segala polemik negeri, padam bagi kehidupan ayah dan keluarga kecilnya yang dilingkupi suara suram keheningan malam. tak ada yang berubah, bahkan saat diktator kala itu lengser dari jabatannya. kemiskinan masih meliputi, ia tak pernah benar-benar pergi.
-tujuh hari sebelum dua puluh tujuh-
/1999/
serupa yang tak mampu diurai oleh penyesalan. tak ada yang bisa menceritakan kembali tahun-tahun itu. pemulihan di setiap sudut negeri, tapi apa yang perlu dipulihkan bagi yang luka sejak awal. atau aku yang terlalu negatif menilai kenangan? nyatanya biru yang kuingat pernah membentang layaknya binar langit biru yang kusuka. perlahan meski satu kenangan aku mengingat sedikit laki-laki kecil nantampan dengan seragam merah putihnya, yang membuat aku menangis sejadi-jadinya kenapa bukan aku yang bersekolah lebih dulu, bukankah aku yang sudah mengenal angka dan huruf? sedang abang yang disanjung banyak orang itu masih anak manja yang disuapi setiap kali sarapan sebelum berangkat sekolah. apa abang tahu, ia lah yang pertama kali aku cemburui dalam hidup?
-enam hari sebelum dua puluh tujuh-
/2000/
aku yakin dunia menorehkan banyak sejarah pada tahun itu. maka sejarahku adalah malaikat terakhir ibu yang kelak menjadi kehilangan paling menyakitkan hingga usiaku dua puluh tujuh. menjadi yang paling tak beruntung, bungsu ibu yang lebih dulu berpamitan tanpa tanda. jika tuhan berkenan barangkali aku ingin kembali ke tahun dua ribu, saat tubuh merahnya aku sentuh pertama kali. tangisannya masih menggema, serupa teriakanku pada dunia bahwa ia telah ada. hari itu aku mengingatnya dengan baik, satu hari terbaik dari genapnya dua puluh abad masehi. adikku kecilku yang tak pernah kulihat lagi, akankah ia marah jika aku masih beranggapan, kelak ia akan memelukku kembali seperti tahun-tahun ia aku peluk dan aku timang dengan sayang?
-lima hari menuju dua puluh tujuh-
/2001/
aku ingat hari pertama ayah mengantarku ke sekolah. kami menaiki angkutan umum, saat itu tarif dewasa masih lima ratus rupiah sedang untukku seratus rupiah. apapun yang paling istimewa dalam ingatan, tak ada yang menandingi dengan hari pertama aku bersekolah. seolah hari itu aku telah berubah menjadi seorang yang diberi kesempatan untuk menghirup kehidupan yang bebas. entahlah, susah menggambarkannya dengan kata-kata. satu yang pasti hari itu adalah langkah pertama aku membuka dunia, meski tak menjadi yang cemerlang di antara yang lainnya. kadang aku mengira, jika aku tumbuh menjadi anak sekolah yang mencari nilai seperti murid pada umumnya, apa aku mampu belajar kehidupan?
-empat hari sebelum dua puluh tujuh-
/2002/
aku selalu mengingat dua sisi koin pada uang seratus rupiah logam yang selalu menemani masa kecilku, juga seratus rupiah kertas bergambar layar. berjumlah dua, mereka lah yang membuat masa istirahat sekolahku selama tiga tahun lamanya. entah karena isu ekonomi sekarang, aku mengingat kenangan uang yang tak pernah banyak. uang barangkali masih tuhan banyak orang, namun setelah mengingat dengan baik, masa saat aku tak memiliki uang adalah masa terbaik. barangkali karena aku masih kecil. tapi jika aku tetap iri dengan uang jajan teman-temanku kala itu, mungkin sekarang aku turut menghamba uang sebagai tuhan. sebagaimana aku banyak melihat hitungan tetes keringat yang diuangkan, melupakan jika hal yang dilakukan juga tentang dampak tak hanya alasan.
-tiga hari sebelum dua puluh tujuh-
/2003/
aku bertemu pertama kali seorang pengajar yang layak aku sebut guru di tahun itu. hingga hari ini aku tak pernah tahu namanya, kami memanggilnya ibu hajjah. maklumlah, di zaman itu menjadi haji masih begitu sangat eksklusif, hingga nama sering dilupakan untuk mereka yang memiliki gelar itu. ibu hajjah adalah guru pertama yang akan aku ingat sebagai guru yang mumpuni dalam mengajar. tidak seperti guru-guru lain yang seringnya hanya menjadikan guru sebagai identitas tanpa dedikasi apa-apa. kepada ibu hajjah, aku mengerti rasanya jadi murid yang belajar tak peduli berapa nilai yang aku dapat. ia membuatku paham, berilmu lebih penting daripada juara kelas. jika saja sepersepuluh guru seperti beliau, barangkali bangsa ini jauh lebih maju.
-dua hari sebelum dua puluh tujuh-


















