Jarak itu mutlak, yang relatif itu rindu
Aku, dan kamu dalam sajakku
almost home
YOU ARE THE REASON

@theartofmadeline

gracie abrams
No title available
Keni

Product Placement

No title available
ojovivo
Show & Tell
Today's Document
noise dept.
Fai_Ryy
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

roma★
RMH
Monterey Bay Aquarium
One Nice Bug Per Day
EXPECTATIONS
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Venezuela

seen from France
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Mexico
seen from France
seen from Israel
seen from United States
seen from Japan
seen from Germany

seen from T1

seen from Germany

seen from Belgium

seen from Canada

seen from United States

seen from United States

seen from Israel
@dalamsajakku
Jarak itu mutlak, yang relatif itu rindu
Aku, dan kamu dalam sajakku
ada hari-hari dimana rindu terasa lebih berat dari biasanya,
ada hari-hari dimana aku bisa melupakannya,
ada hari-hari dimana bayangannya terlihat begitu jelas,
dan ada hari-hari dimana aku seolah bisa melupakannya.
Because love is about the right person at the right timing :)
"Aku sedang malas mengulang siklus itu lagi, dan aku belum siap dengan risikonya. Aku tak tahu kapan rasa ini pergi, jadi aku tak mau kamu menunggu sesuatu yang tak pasti,"
Dara pada pria didepannya, belum genap semusim setelah ia patah hati.
"Sebaik apapun caranya, yang namanya perpisahan itu tetap saja menyakitkan,"
Dara pada Rangga, pada suatu senja di bulan November.
Pada setiap keputusan yang pernah kita ambil, pada setiap langkah yang pernah kita mulai, pada setiap kata yang pernah kita ucap, dan pada setiap penyesalan yang mengiringi di kemudian hari, semoga itu tidak menjadi alasan untuk membenci dan mengutuki diri. Dan suatu saat nanti, ketika penyesalan itu tak kunjung pergi, semoga kita dapat dengan besar hati memaafkan diri atas segala hal yang ada di luar kendali.
Hatiku hanyalah tempatmu sejenak singgah, sementara hatimu adalah tempat yang ku sebut rumah.
Merelakan satu bilik yang seharusnya kamu tempati tetap kosong adalah yang aku lakukan saat ini. Hingga suatu saat kamu kembali, kamu masih memiliki tempat disini. Namun bila pada akhirnya perasaan itu benar-benar pergi, mungkin akan aku dapati penghuni pada bilik yang lebih besar, yang membuat bilik kosongmu menjadi tak berarti lagi. Mungkin suatu saat nanti, bilik hatiku akan dipenuhi oleh dia yang juga menjadikan aku sebagai pemeran utama ceritanya. Pada saat itu, akan kamu dapati aku melambaikan tanganku padamu, pada jarak relatif antara aku dan perasaanku. Dan pada jarak itu pula, akan kamu dengar bisik pelan hatiku mengucapkan salam perpisahan padamu.
Aku tak akan memulai langkahku untuk mendekatimu. Aku akan tetap disini, memperhatikanmu dari tempatku berdiri. Saat sesekali kamu datang lagi, akan kamu dapati aku adalah orang yang sama. Dengan dua telinga yang selalu siap mendengar ceritamu. Dengan pikiran yang menawarkan solusi meski tak banyak membantu. Dan dengan perasaan hangat yang masih sama seperti dulu.
Setidaknya ucapkan pamit sebelum pergi, sebagaimana kau ketuk pintu hati sebelum kau masuki
Bu, tak ada hujan sore ini Kemarau menyelimuti pusat-pusat kota, terbakar panasnya hingga diri tak berdaya
Bu, tak ada dingin malam ini Udara kering tak berembus seolah memeluk jiwa yang tandus
Bu, jika tak ada terang seusai gelap nanti, bolehkah aku tidur lebih lama lagi?
Barangkali hal tersulit saat melepasmu pergi adalah menjalani semua sendiri setelah terbiasa bersama
Aku, dan kamu dalam sajakku
Tepat saat kita siap, Ia akan memberikan jawaban atas doa-doa yang melangit. Untuk itu, bersabarlah.
Barangkali, kau dan aku hanyalah dua orang yang lupa arah, berjumpa tanpa sengaja, dan berpisah pun kita tak apa
Aku, dan kamu dalam sajakku
Coba kau pikir lagi, pada jalan yang kau pilih saat ini, adakah hal yang akan kau sesali?
Aku, dan kamu dalam sajakku
Berapa banyak hati yang harus tersakiti?
Berapa banyak rasa yang harus aku kelabui?
Membuka hati saja aku tidak bisa,
Apalagi halnya dengan jatuh cinta
Aku lelah berpura-pura
Hanya karena ingin merasakan hal yang sama
Seperti orang-orang memadu kasih,
Seperti dua orang saling merindu
Apa betul rasa ini sudah mati?
Atau seseorang belum mengetuknya lagi?