Bolehkah aku berbicara tentang malam yang tak berujung dan mata yang menangis di atas bantal, serta teriakan yang hening di atas dua belas gelap?
Bolehkah aku berbicara tentang gurat-gurat berantakan di permukaan jiwa yang masih terlihat bekasnya, serta kepala yang tak henti memutar ulang rasa sakitnya?
Bolehkah aku berbicara tentang kertas-kertas putih yang menguning karena kubiarkan mereka tergeletak tanpa satu pun lekukan tinta dari ujung pena yang siaga, namun tak kunjung menggores?
Bolehkah aku berbicara tentang betapa membingungkannya tumbuh besar dengan membawa ketidak-bersyukuran dalam kuat, sekaligus ringkihnya, genggaman tangan?
Bolehkah aku berbicara tentang tubuh yang membungkuk terlalu lamanya, hingga sulit menengadah melihat matahari?
Bolehkah aku berbicara tentang kebebasan yang bebas berkeliaran di luar jendela penjara pikiranku?
Bolehkah aku berbicara tentang cahaya yang ada di depan sana?
Bolehkah aku berbicara tentang teduhnya pandangan kedua matamu?
Bolehkah aku berbicara tentang senyuman yang menggantung di wajahmu?
Bolehkah aku berbicara tentang siapa itu yang tengah berbaring di bawah sana…
…mengenakan pakaian yang sama persis denganku?
Malang, 11 November 2016.
Tidak?