“Aku bisa mencintaimu dalam hitungan satu detik,” ujarmu kala itu.
Riak air terjun menyamarkan suaramu dengan sempurna. Tapi aku berusaha mendengarmu. Ucapanmu ialah sesuatu yang tidak bisa kulewatkan.
“Kamu dengar kan?” kali ini kamu sedikit menaikkan volume suaramu.
“Jangan tersenyum begitu. Aku masih bisa lihat.”
Aku mendorong pelan bahumu lalu terkekeh. “Makanya berhenti, dong, menggodaku,” ujarku.
Kamu tertawa. Tawamu berusaha menemukan titik padu antara riak air terjun. Entah kenapa, suara tawamu masih lebih terdengar jernih di telingaku. Seakan-akan, air terjun itu tidak pernah ada.
Kamu menyenggol bahuku dengan bahumu. “Siapa yang menggodamu? Aku kan hanya bicara sesuai fakta. Kalau aku bisa mencintaimu dalam satu detik,” ujarnya.
“Mencintai seseorang butuh proses, Aruna. Aku nggak percaya.”
Kamu diam dan tertawa lagi. Bahkan sekarang lebih nyaring. Jadi aku hanya ingin menenggelamkan diri dalam tawamu yang menawan itu. Berharap luka di hatiku tidak pernah ada. Berharap aku bisa langsung mempercayai perkataanmu itu. Tapi naas, aku gagal.
“Aku bisa mencintaimu dalam hitungan detik,” ujarmu lagi.
Senja ini, jingganya semakin menyala terang. Seakan ia enggan untuk beranjak. Seakan ia masih menggelantung di antara langit malam dan belum memeluknya dengan sempurna. Seakan ia tidak rela meninggalkan terang.
Aku tersenyum, menatap kedua matamu dengan memikirkan sesuatu yang tabu. Bagaimana jika, aku tenggelam dalam matamu yang dalam itu? Matamu dapat memberiku kengerian pada saat-saat seperti ini. Namun, aku jatuh cinta pada kedua matamu. Kedua matamu bagai samudra yang masih belum kutemukan dasarnya.
Kamu menyibak rambut yang mengenai pipiku lalu mengecupnya. Aku selalu menyukainya ketika kamu melakukan itu. Namun, aku tidak pernah memberitahumu. Aku tidak ingin kamu tahu kelemahanku. Aku tidak ingin kamu tahu hal apa saja yang kamu lakukan dan bisa membuatku bahagia. Nanti kamu pasti akan melakukannya berulang kali. Lalu kalau itu terjadi, bisa-bisa aku semakin mencintaimu. Dan aku tidak ingin jatuh terlalu dalam mencintaimu.
“Naia, apa hal di dunia ini yang paling membuatmu bahagia?” tanyamu.
Kepalamu ada di atas pahaku dan aku mengusap rambutmu sedaritadi. Rambutmu halus, bagai tumpukan benang sutra yang entah dari mana dapatnya. Harumnya bisa membuatku lupa akan parfumku sendiri. Oh, aku mencintaimu, sungguh.
Aku melihatmu tersenyum simpul lalu membalikkan badanmu menatapku. Kamu sekarang tertawa lebar. “Naia,” panggilmu.
“Aku serius, kamu itu adalah hal yang paling membuatku bahagia.”
Angin sepoi-sepoi mulai terasa dingin. Padang ilalang yang merupakan tempat kesukaanmu ini, sepertinya sudah menjadi milik kita. Hampir setiap sore kamu mengajakku kemari hanya untuk membicarakan hal-hal yang membuat kita dimabuk cinta. Hal itu sederhana, membuatku bahagia sekali.
“Naia, dari pengalaman burukku kemarin—”
“Tunggu, maksudmu waktu kamu ditolak naik jabatan?” aku menyela.
“Iya.” Aruna duduk lalu menghela napas panjang. “Harusnya aku memikirkan dulu risiko dan hasil pahitnya. Keadaan terburuk apa yang bisa terjadi padaku kalau aku gegabah dan bersifat arogan.”
Aku mengusap pelan bahumu. “Kamu sudah berusaha. Ini bukan salahmu. Waktunya belum tepat.”
Kamu mengangguk dan tersenyum.
“Naia! Aku berhasil!” kamu teriak begitu menemuiku di beranda rumah. Lalu memelukku erat.
Hari ini aku tahu kamu akan datang kemari. Jadi aku membuat makanan kesukaanmu. Tidak sabar sampai kamu mencicipinya nanti. Aku ingin melihat tawamu terlukis di wajahmu karenaku.
“Aku turut senang. Aku yakin, kamu pasti bisa mendapatkannya. Hanya perlu waktu.”
Aku kecewa saat melihat satu ikat mawar putih segar itu di pelukanmu. Itu bukan untukku. Kamu tahu betul aku tidak menyukai bunga segar atau mekar.
Tapi kamu tidak menghiraukan pandanganku. Baiklah, aku akan mengubur rasa kecewa ini dalam-dalam. Aku akan pura-pura tidak melihat bunga itu di sana.
“Ini untukmu,” ujarmu memberiku satu ikat mawar putih itu.
“Barang pemberian itu tidak boleh diberikan lagi. Simpan saja. Dia sudah memberikannya untukmu. Jangan berikan itu padaku,” balasku dengan nada setenang mungkin.
“Ayolah, Naia. Kamu tahu kan, dia itu kerabatku. Ya wajar saja dia memberiku sesuatu. Mungkin dia juga tidak bermaksud apa pun selain ingin memberiku ucapan selamat melalui satu ikat bunga,” kamu membela diri.
Ya, aku sudah mengerti. Aku hanya kecewa.
Ponselmu berdering lalu kamu menjauhiku dan mendekati tangga di beranda. Samar-samar aku bisa mendengar potongan percakapanmu.
“Naia, teman-temanku mengadakan pesta makan-makan. Aku sudah janji ingin memberi traktiran.” Kamu meraihku dan hendak mengecup keningku. Tapi aku mundur sedikit. “Ayolah, Naia. Ini merupakan hari bahagia di hidupku. Seharusnya kamu ikut senang, kan?”
Aku hanya mengangguk. Hatiku sudah terasa berat. “Ya sudah, hati-hati,” ujarku. Lalu aku kembali masuk ke rumah.
Aruna tidak menungguku menutup pintu, melainkan meninggalkan beranda begitu aku menutup pintu rumahku. Aku rasa, kita sama-sama memahami pemahaman yang berbeda. Rasa kecewa dan marah memiliki perbedaan besar. Aku tidak menyangka kalau kamu, Aruna, bisa tidak melihatnya. Itu membuatku kecewa kedua kalinya.
“Aku mencintaimu, Aruna,” ujarku.
Saat itu matamu bukan lagi tempat teduhku. Kedua matamu menjadi dingin. Bukan lagi samudra yang palungnya ingin aku cari. Kini, kedua matamu menjadi tempat yang paling aku takuti.
Kamu menutup wajahmu dengan kedua tanganmu. “Aku tidak tahu, Naia,” balasmu.
“Aku mencintaimu kian pekat, sementara kamu mencintaiku kian pudar,” ujarku lagi, kecewa. “Aku lupa memikirkan risiko terburuknya waktu aku memutuskan untuk mempercayaimu. Ketika kamu bilang kamu bisa mencintaiku dalam satu detik.”
“Itu sesuatu yang kuucapkan saat kita remaja. Dan itu benar, aku mencintaimu, Naia.”
Kali ini aku memberanikan diri menatapmu. “Sekarang?”
“Aku bahkan ragu untuk berkata begitu.”
Padang ilalang yang kupikir akan menjadi milik kita selamanya ini terasa menyedihkan. Angin yang berhembus menusuk tulang rusukku, begitu dingin, tak kalah dingin dari kedua matamu. Suara angin seakan mewakilkan keresahanku. Begitu lirih.
“Tolong jangan menangisi diriku,” ujarmu lagi.
Aku memeluk diriku sendiri dan lagi-lagi mencari sesuatu untuk kutatap selain matamu. Aku tidak ingin berkata apa-apa lagi. Aku juga berharap kamu tidak berkata apa-apa lagi.
Lima tahun merajut suatu kisah yang kemarin kita banggakan, tidak berarti apa pun. Kita tidak pernah ingin tahu dari mana kita memulai dan di mana kita harus mengakhirinya. Tapi kurasa—entah kisah itu sudah selesai atau belum sekarang—itu sudah tidak berarti apa-apa. Kamu mengakhirinya, dan kita lupa untuk apa kita merajut satu persatu benang tersebut. Kita lupa tujuan kita ke mana dan untuk apa. Kita lupa bahwa kita adalah kita. Atau lebih tepatnya kamu melupakan itu semua.
Aku mundur beberapa langkah, menatap wajahmu dan menelaah semua lekukannya. Namun, masih menghindari kedua matamu. Tidak bicara apa pun lagi. Aku meninggalkanmu di sana.
Seharusnya, aku tidak terlalu naif. Seharusnya aku menanyakan apa maksud dari perkataanmu kemarin. Apa maksud dari, “Aku bisa mencintaimu dalam satu detik.”. Sialnya, satu detikmu itu berarti miliaran tahun untukku. Tapi kamu tidak mau tahu.
queen oktaviani, Bogor, 2019.