Cerpen #09: Tarian Apollo
Satu kali aku melihat Apollo sedang menari. Di suatu petang biasa, saat aku duduk di sebelah gadis itu, sang dewa muncul. Entah dari dimensi mana, beliau sajikan rima-rima cinta. Mulanya kuikuti nadanya. Senyum sang dewa terasa menaungi. Namun kemudian aku kecewa. Senyumnya berubah meledek. Kutolak irama itu sembari kabur berlari.
“Kenapa bisa sekonyol ini? Bagaimana mungkin sesakit ini?” keluhku.
Kedua kali aku melihat Apollo masih menari. Di suatu siang biasa, saat aku duduk di bangku akademi itu, sang dewa menyembul. Entah dari dunia mana, beliau tumbuhkan gelora di dada. Awalnya kuikuti semangatnya. Senyum sang dewa terasa meneduhi. Namun kemudian aku merana. Senyumnya berubah mengejek. Kutolak ambisi itu sembari pergi sendiri.
“Kenapa bisa sebodoh ini? Bagaimana mungkin sesusah ini?” kesahku.
Pandora yang cantik telah membuka kotaknya. Seluruh perasaan buruk berebutan keluar, meninggalkan sang harapan di sudut terdalam kotak. Dengan sisa harapan itu, aku melaju menuju orakel Delphi. Konon sang dewa membisikkan rahasianya pada peramal di sana.
Aku baru sampai alun-alun kota Athena ketika seorang tua menghadangku. Dia menawariku air minum sambil bertanya, “Siapa orang paling bijaksana di dunia?”
“Tak seorang pun tahu,” jawabku.
“Orakel berkata bahwa akulah orangnya.”
“Bagaimana bisa?” tanyaku balik.
“Aku pun tidak tahu,” sahutnya. “Aku hanya tahu kalau aku tidak tahu apa-apa.”
Aku meminum air yang dia tawarkan sambil berpikir. Tentu saja orang tua ini tahu sesuatu, batinku. Setiap orang pasti punya setidaknya secuil pengetahuan yang bisa dibagikan. Sama seperti peramal Delphi yang bisa tahu rahasia dewa, aku pun tahu kalau aku akan bersama gadis itu. Aku juga tahu kalau aku tak akan lanjut akademi dan akan jadi penulis.
Tetapi kenapa orang yang dibilang paling bijaksana oleh peramal Delphi justru tidak tahu apa-apa? Apa mungkin aku yang merasa tahu sesuatu inilah yang sebenarnya tidak bijaksana? Ya... mungkinkah begitu? Mungkinkah orang tua ini bijaksana karena merasa tidak tahu apa-apa? Ya... pasti begitu, pikirku.
“Tuan,” panggilku. “Saya rasa Andalah yang paling bijaksana karena Anda merasa tidak tahu apa-apa. Saya sendiri tidak bijak, saya terlalu sombong hingga merasa tahu sesuatu.”
“Oh, Nak. Kurasa kau benar! Itulah kebijaksanaan sejati! Kerendahan hati dalam ketidaktahuan!” serunya senang. “Oh, ya, panggil aku Socrates saja. Dan siapa namamu?”
“Nama saya Outis – Tak Seorang Pun,” jawabku.
Aku melanjutkan perjalanan. Sesampainya di daerah Thebes, aku bertemu dengan seorang pria buta yang dituntun oleh seorang wanita muda, mungkin anaknya. Didorong oleh rasa kasihan, aku membagikan roti yang kupunya pada mereka.
“Terima kasih. Semoga harimu bahagia,” ujar si pria buta sambil tersenyum lebar.
“Sama-sama, Tuan,” jawabku. “Saya sudah bahagia bisa menolong Tuan serta putrinya yang cantik.”
Wanita muda itu tampak terkejut mendengar omonganku, lantas menjadi malu sendiri. Aku tak mengerti. Apakah pujianku berlebihan?
“Oh, kaupanggil dia putriku? Ya, dia memang putriku. Tetapi dia juga adikku,” sahut si pria buta.
“Maksud Tuan?”
“Dulu orakel Delphi telah menyingkapkan rahasia hidupku dua kali. Kalimat yang sama, yang tak pernah aku lupa. Dia bilang, aku akan membunuh ayahku dan menikahi ibuku. Aku berusaha menghindari ramalan itu, tentu saja. Tetapi semuanya tetap berujung pada hal yang sama. Aku telah membunuh ayahku dan menikahi ibuku, meski tanpa sepengetahuanku. Wanita muda ini adalah anak dari pernikahanku dengan ibuku sendiri. Maka dialah putriku, tetapi juga adikku,” jelas si pria buta.
“Ayahku... atau kakakku... dulu adalah raja Thebes,” tambah si wanita muda. “Namun setelah tahu fakta itu, beliau menikam matanya sendiri hingga buta. Ibuku gantung diri karena malu. Lalu kami diusir oleh warga kota Thebes.”
“Oh... saya tidak bermaksud menyinggung. Saya turut sedih mendengarnya,” sahutku sambil tertegun.
“Kenapa kau sedih?” tanya si pria buta. “Setelah semua cobaan berat, usiaku yang lanjut dan kemuliaan jiwaku membuatku menyimpulkan, kalau semua baik-baik saja.”
Aku tersentak. Semua baik-baik saja? Aku memandang heran raut pria buta dan wanita muda itu. Mereka tersenyum lebar, tulus. Kenapa begitu? Bagaimana bisa semua baik-baik saja dengan hidup seperti itu?
“Ada apa, Tuan muda?” tanya wanita muda yang balas menatapku. “Beliau sering bicara begitu pada orang-orang, kalau semua baik-baik saja. Tetapi tak seorang pun percaya. Tak seorang pun mengerti.”
“Oh, tidak, tidak apa-apa,” jawabku. “Saya harus melanjutkan perjalanan. Tetapi kita belum berkenalan. Siapa nama Tuan dan Nona?”
“Namaku Oedipus,” sahut si pria buta.
“Dan aku Antigone,” imbuh si wanita muda.
“Nama saya Outis – Tak Seorang Pun.”
Obrolan dengan orang-orang ini telah membuka mataku. Dengan pikiran yang makin bersinar, aku berjalan menuju orakel Delphi. Begitu sampai di depan gerbang kuil, aku berhenti. Aku menengadah membaca tulisan yang tertatah di sana.
“Gnothi sauton” – “kenalilah dirimu sendiri”.
Aku masuk ke dalam kuil. Dan untuk ketiga kali aku melihat Apollo terus menari. Di hari yang luar biasa, saat aku menatap altar megah kuil itu, sang dewa bersiul. Entah dari jagad mana, beliau panggilkan sembilan dewi Muse. Senyum mereka terasa mengilhami. Mereka bernyanyi dan aku ikut. Mereka menari dan aku turut. Di dunia bawah tiga dewi takdir Moirai bahkan ikut bernyanyi dan menari sambil mengatur benang kehidupan.
Aku bahagia. Bukan karena aku lebih tahu dari Socrates, bukan pula karena hidupku lebih baik dari Oedipus. Aku sadar kalau aku tak tahu apa-apa seperti Socrates. Namun aku tidak gelisah. Hidupku pun bisa setragis Oedipus. Namun aku tidak khawatir. Aku ikut bernyanyi. Aku turut menari. Akan kupeluk semua yang dihadapkan hidup padaku. Karena akulah bagian dari lagu itu. Akulah bagian dari harmoni tarian Apollo.













