Andai bisa kurayu sang waktu kembali berputar, akan kupilih tetap singgah di matamu yang sabar. Meski kini kau bagai langit senja yang menjauh redup, aku tak akan menyesal, walau kita tak lagi dekat merapat.
Sebab engkau adalah musim semi dalam hidupku yang singkat, mewarnai tanah hati yang dulu gersang dan penat. Cintamu bukan untuk dimiliki, hanya untuk disyukuri. Seperti rembulan yang tak pernah bisa digenggam, hanya mampu dinikmati dari bumi.
Jika nanti aku pergi dan kau rindu, cukup pejamkan matamu lalu sebutkan namaku. Hatimu takkan lagi mengamuk.
Jika nanti aku pergi, dengan waktu yang tak terhitung. Karena begitu lamanya hingga rindumu hilang tak berbekas. Jangan menyesal, jangan menyalahkan siapapun, diriku ataupun dirimu. Rindu memang ada masanya, jika satu rindu lenyap maka rindu yang baru akan segera tiba.
Rindu.. ah tapi, rindu hanya ada karena kamu sedang kesepian. Kamu tak benar-benar selalu rindu, kamu hanya butuh teman, jika posisi itu tergantikan kau tak akan lagi rindu.
Kadang, rindu sering kali menjadi kambing hitam untuk menuding orang lain. Bahwa yang rindu hanya kau sedang dia tidak.
Rindu, biarlah ia.. biarkan ia mekar tanpa kau tambahkan dengan dusta-dusta lainnya.
Rindu.. Seringkali kau hanya marah-marah dan menyebut rindu, padahal sedikitpun rindu tak ada. Kau hanya membual. Rindu itu dinikmati bukan dikutuk dengan caci maki.
Rindu.. sebuah perasaan luhur, melekat dalam hati dan tak terlukiskan oleh kata. Ia kadang muncul seperti sihir, seperti virus. Menggerogoti bagian paling dalam dari dirimu, lalu kau dibuat bisu olehnya hingga hanya air mata yang menjadi ungkapannya.
---------------------------------
Hanya pertemuan yang membuat rindu, sedang perpisahan sebagai kutukannya.
Jika kau tak ingin terkutuk, maka jangan ciptakan pertemuan. Sebab segala yang akan kau temui akan berakhir dengan perpisahan.
Tumblr media yang unik, bukan bermaksud palsu dengan memakai nama samaran, tapi disitulah letak ketulusan dan kejujurannya.
Untuk orang yang seperti aku, sangat membantu untuk bercerita mengenai sesuatu yang memorable tapi detail peristiwanya mudah dilupakan, bebas bercerita mengenai kegembiraan, kerinduan, kesedihan, dan berbagai macam harapan.
Semoga username ini tak mudah ditemukan oleh "dia". Sangat butuh waktu untuk bercerita ke orang lain, tapi percayalah aku belajar berbagi ceritaku kepadamu.
Kalopun ditemukan, tumblr merupakan tempat menulis random thoughts perempuan ini, yang sengaja ditulis untuk mengingat "rasa" yang pernah atau masih ia rasakan. 🌻🌻🤍🤍
Tentang purnama, apa yg pertama terlintas di benak kita?
Jarir bin Abdillah, sahabat Nabi ﷺ yg konon berjuluk "Yusuf-nya umat ini (يوسف هذه الأمة)", pernah menceritakan kenangannya di bawah purnama bersama Nabi ﷺ kala itu:
'Sungguh, kalian akan (bisa) memandang Rabb kalian (di akhirat nanti) sebagaimana kalian (bisa) memandang rembulan malam ini; kalian tidak akan kesusahan dalam melihatnya'
Maka jika kalian mampu untuk tidak melewatkan salat sebelum terbitnya matahari dan salat sebelum tenggelamnya matahari; maka lakukanlah. (Dalam Sahih Muslim diriwayatkan: maksudnya adalah salat Subuh & salat Ashar)'
"Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu (menurut Imam Ibnu Katsir & para ahli tafsir lainnya: maksudnya adalah; dirikanlah salat) sebelum matahari terbit (menurut Imam Ibnu Katsir & para ahli tafsir lainnya: yaitu salat Subuh) dan sebelum terbenam matahari (menurut Imam Ibnu Katsir & para ahli tafsir lainnya: yaitu salat Ashar). " [QS. Qaf: 39]"
[HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, & Ahmad]
Dalam Fathul Baari hadits ini dijelaskan:
ومعناه لا تظلمون فيه برؤية بعضكم دون بعض فإنكم ترونه في جهاتكم كلها
"Maknanya adalah; kalian kelak tidak akan saling terganggu oleh penduduk surga yang lain ketika melihat Allah, kalian akan melihat-Nya dari setiap posisi kalian masing-masing."
Imam An Nawawi juga menjelaskan hadits ini dalam Syarh Sahih Muslim:
أي: ترونه رؤية محققة لا شك فيها ولا مشقة، كما ترون هذا القمر رؤية محققة بلا مشقة، فهو تشبيه للرؤية بالرؤية لا المرئي بالمرئي، والرؤية مختصة بالمؤمنين، وأما الكفار فلا يرونه سبحانه وتعالى. [المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج]
"Bahwa kalian kelak akan benar-benar melihat Allah, tanpa kesangsian, tanpa kesulitan, sebagaimana kalian bisa melihat rembulan malam ini; begitu nyata, tanpa gangguan apa-apa.
Yang diserupakan (oleh Nabi ﷺ dalam hadits ini) adalah kemampuan (kita kelak untuk) melihat Allah, bukan memiripkan bentuk bulan dengan Dzat Allah (Mahasuci Allah dari hal tsb).
Kemampuan untuk melihat Allah ini adalah hanya untuk orang-orang mukmin, adapun orang-orang kafir tidak akan bisa melihat Allah subhanahu wa ta'ala."
Lalu, mengapa Nabi ﷺ menekankan salat Subuh & salat Ashar?
Kembali lagi ke Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar menyebutkan:
قال العلماء: ووجه مناسبة ذكر هاتين الصلاتين عند ذكر الرؤية أن الصلاة أفضل الطاعات، وقد ثبت لهاتين الصلاتين من الفضل على غيرهما ما ذكر من اجتماع الملائكة فيهما ورفع الأعمال وغير ذلك، فهما أفضل الصلوات، فناسب أن يجازي المحافظ عليهما بأفضل العطايا وهو النظر إلى الله تعالى.
(فتح الباري)
"Para ulama mengatakan:
Hubungan antara ditekankannya dua salat tsb oleh Nabi ﷺ dengan kemampuan melihat Allah adalah;
(1) bahwa salat adalah bentuk ketaatan yg paling utama,
(2) banyak keistimewaan yg dimiliki dua waktu salat ini, di antaranya adalah bahwa pagi dan petang adalah waktu di mana malaikat berkumpul dan naik ke langit melaporkan catatan perbuatan para hamba kpd Allah.
Maka, dua waktu salat tsb sangatlah sakral. Sangat tepat apabila para hamba Allah yg sangat menjaga dua waktu salat tsb diberikan penghargaan terbaik; yaitu kemampuan untuk melihat Allah Ta'ala."
Maka, jika melihat atau teringat purnama, mari jadikan yg terlintas pertama di benak kita adalah perjumpaan dengan Allah kelak. Caranya, adalah dengan menjaga salat, terutama salat Subuh & salat Ashar.
Berangkat dari hadits ini, seharusnya temen-temen penggemar astronomi adalah jajaran orang-orang yg paling ingat akan perjumpaan dengan Allah kelak, karena astronomlah yg paling sering berinteraksi dengan rembulan serta purnama dan setiap detailnya, di saat yg lain tidak begitu mengerti atau bahkan abai untuk sekadar meliriknya.
Berangkat dari sini pula, temen-temen pelajar/pengajar sains harap bawakan kalimat Nabi ﷺ ini di bab pembahasan ttg bulan, sebelum kalimat-kalimatnya orang lain. Mudah-mudahan menguatkan iman.
Wallahu a'lam.
فاعتبروا يا أولى الأبصار
——
*Jadi, kapan kita bisa duduk bersama di bawah cahaya purnama? 🌝
Dan saat itu tiba untuk saya dan akan tiba untuk mereka proletar bawah yang tidak layak diantara bangunan dan tembok bernaung demi survive dalam kehidupannya masing-masing. Di tangan-Nya aku dan mereka memang tidak pantas atau terlalu mulia dalam rumah di dunia fana. Cangkang keong itu sudah hancur dia tidak bisa lagi bertahan, ia terpaksa pindah dan pergi karena rumah itu bukan miliknya lagi dan lagi.
Sejak aku terlahir yang ku tahu rumah bukanlah milik kami itu hanya sewa, aku tidak pernah di tipu orang tua karena hal itu bahwa pekerjaan merekalah yang harus membuat kami nomaden. Tanpa adanya pilihan dari-Nya ingin terlahir kedunia atau tidak sama sekali aku hanya mengingat tragedi-tragedi pengusiran dari tempat bernaung dari dunia ini untuk survive. Tidak, bukan karena kami telat membayar sewa tapi karena kami sudah terlalu lama bertahan di kontrakkan miliknya; mereka yang setengah hedon.
Kini aku sudah tidak remaja lagi, aku sudah beranjak tua. Hal itu terjadi lagi saat ini tapi setidaknya tanpa adanya almh.ibu dan air mata tidaklah ganda. Ketakutan, rasa pedih, hidup, jiwa dan raga yang tidak berguna terasa selalu menyerah penuh amarah tanpa pikir panjang dan membabi buta.
Lihatlah dirinya semakin tua, waktu istirahat dan waktu produktifnya sudah semakin cepat, giginya sudah mulai rontok dan keropos oleh kopi serta asap rokoknya. Kini aku hanya bisa melihatnya yang selalu merenung; akan kehidupannya tanpa takdir sukses dan rasa kecewa terhadap apapun. Hal itu menjadi beban untuk buah pikirannya sehari-hari yang sudah terpuruk, ayah masih tetap berjuang terhadap takdir pedihnya.
'kalian harus pindah secepatnya!' kata dia yang setengah hedon pemilik rumah sewa ini. Dengan tatapan kosong aku melihat dirinya mengolah hal itu yang sekarang sudah menjadi buah pikirannya, kami harus pindah kemana?
Dimana?
Sampai kapan harus nomaden?
Berapa harga jual rumah dikota ini? Apa ada yang murah?
Bagaimana caranya harus mendapatkan uang beli rumah?
Aku lelah pindah-pindah, adaptasi lagi, ngurusin berkas lagi, barang-barang segini banyak mau dikemasin bagaimana?
Pertanyaan dan keluh kesah ayah terasa di benakku, itu akan selalu membeku dan mencair. Kehilangan seorang istri itu sudah salah satu beban terburuk yang kulihat pada ayah, kini merasa selalu kembali proletar menjadi salah satu beban terburuknya entah sejak kapan.
Pedihnya menjadi anak yang tidak berguna yang tidak bisa menghadiah sebuah rumah jika sampai wafatnya orang tua masih tetap dirumah para mereka setengah hedon. Aku ingin mengkambing hitamkan takdir tapi itu tidak akan membuahkan hasil, karena takdir adalah skenario Sang Pencipta tidak ada satupun makhluk yang tahu dan hanya Dia. Manusia juga tidak bisa menyalahkan Tuhan, karena aku juga tahu batasan manusia. Bahwa manusia adalah makhluk terbatas, ilmu dan pengetahuan mereka terbatas, semangat dan putus asa mereka terbatas, usia mereka terbatas, energi dan tindakkan juang mereka terbatas serta pola pikir mereka juga terbatas.
Inilah kenyataan bahwa aku belum bisa berguna juga bagi keluarga dan orang tua, tidak bisa mengobati rasa pedih mereka dan aku hanya menjadi terluka. Proletar bawah ini survive menjadi dhuafa hidup diantara kemiskinan dan berkecukupan, hidupnya hanyalah pas-pasan tidaklah lebih dan tidak kurang. Iri adalah teman padahal dia itu musuh pada setiap motivasi yang membangun.
Aku harus bagaimana?
Saat ini aku belum mempunyai penghasilan, masih menimba ilmu strata satu dan hanya berharap bisa lulus. Bagaimana kehidupan ini berjalan nanti? Menolong diri sendiri saja susah, berusaha melawan arus takdir yang bahkan tidak tahu; bagaimana jika takdirku memang seperti itu?. Tiga bulan adalah waktu bagi kami untuk mencari tempat bernaung yang baru. Jika tidak, mungkin kenyataan itu akan seperti sinetron penggusuran antara si kaya dan si miskin.
Bisa saja aku mencari rumah sewa lagi secepatnya, tapi yang ada dibenakku hanyalah ayah. Ayah sudah terlalu tua untuk berpindah-pindah dan beradaptasi dengan orang-orang baru, takut akan tindak sosial orang-orang baru yang akan merendahkan dirinya lagi, takut kata-katanya dalam berinteraksi direndahkan karena hanya tinggal dirumah kontrakkan 3 petak. Karena pengalaman itu yang selalu ada disetiap ruang lingkungan kehidupannya yang baru.
Aku hanya bisa dan ingin teriak sembari meneteskan air mata, apakah ini perjalanan menuju kemiskinan material sejati seperti mereka yang hidup dipelantaran jalan? Para pengemis, pengamen dan gelandangan itu.
Kapan kau beri aku keajaiban Tuhan? Walau aku tahu keajaiban-Mu hanyalah minoritas di jaman ini
Kapan kau bantu untuk sukses Tuhan? Walau aku tahu sukses itu hanya ada pada mereka yang telah tetapkan takdirnya untuk sukses
Kapan kau belikan rumah untuk keluargaku Tuhan? Walau aku tahu itu hanya untuk mereka yang selalu taat kepada-Mu
Kapan penderitaan ekonomi ini engkau akhiri Tuhan? Walaupun aku juga tahu itu hanya untuk hamba-Mu yang taat, berusaha dan berdoa
Dan kapan pikiranku ini dengan problematika materialis ekonomi sulit tenang, tenang dari penderitaan, kesedihan dan kepedihan ya Tuhan??! Iya dan akupun juga mengetahui bahwa itu semua tidak akan berakhir sekalipun di akhirat aku harus merasakan beberapa penderitaan dari siksa-Mu.
"Terlihat dalam jendela tanpa kusadari hujan sudah reda sedari tadi, hingga senja yang sudah dimakan malam, dan aku menyambut malam yang kelam, yang akan menyiksa perasaanku hingga keujung rembulan."