Andaikan Kau Datang Kembali
Andaikan kau datang kembali
Jawaban apa yang kan kuberi?
Adakah cara yang kau temui
Benar, seperti lirik lagu Ruth Sahanaya, kamu tiba-tiba datang kembali setelah memilih untuk pergi. Aku masih ingat sekali perkataanmu sesaat kamu memutuskan untuk menghilang dari alam rayaku. Kamu bilang kalau kamu ingin menjalani hari-harimu seperti biasa, kamu bilang semuanya akan kembali senormal mungkin seperti sediakala kalau aku sudah terbiasa tanpamu. Terbiasa tanpamu, katamu? Bagaimana mungkin aku bisa terbiasa tanpamu?! Aku yang selalu berjuang dalam hubungan kita, kurendahkan harga diriku demi dirimu, sudah banyak perasaan yang aku korbankan demi kamu. Dan saat semuanya sudah kuanggap baik-baik saja kamu malah memutuskan untuk pergi begitu saja? Aku nggak tahu kamu itu masih punya naluri atau nalurimu sudah mati.
Terlalu sedih dikenangkan
Setelah aku jauh berjalan
Kita pernah menyanyikan lagu itu di teras rumahku dengan ditemani rintik hujan. Kita pernah segelas berdua dalam seduhan kopi pahit yang kita nikmati. Kita pernah bahagia dalam dekap dan dalam riuhnya perasaan duka. Kita pernah menapaki tingginya gunung dan melawan dinginnya udara malam dari ketinggian ribuan meter. Kita pernah tidur beralaskan tikar sembari menatap ribuan jutaan konstelasi bintang. Kita pernah menikmati senja pukul lima di depan tenda. Kita pernah bahagia dalam jarak yang memisahkan kita antara Kota Surakarta dan Semarang. Kita pernah sama-sama saling menjaga. Kita pernah saling percaya. Kita pernah saling memiliki.
Tapi kali ini rasaku sudah berubah, cintaku sudah mati olehmu. Terlalu lama pergimu hingga tanpa kau sadari bahwa keadaan sudah berubah. Aku sudah melupa—tentangmu dan tentang kita. Sudah tak ada lagi jejak perasaanmu yang tertinggal di dalam hatiku.
Kamu pikir aku ini apa? Persinggahan? Persimpangan? Atau dermaga yang kerap kali kau buat perasaanku hilir mudik tak menentu? Waktu sudah mengubah segalanya. Kita sudah berbeda dan tak lagi sama. Kembalinya dirimu di dalam kehidupanku sudah tak memiliki arti apa-apa, dan aku sudah memiliki penggantimu. Ya, penggantimu! Kekasih baruku yang tentunya lebih baik darimu. Dia mau sama-sama berjuang menjaga perasaan, dia mau sama-sama jatuh dan bangun dalam seru sendu yang semesta berikan. Dia berbeda dengan kamu, dan tentu dia bukan kamu.
Dasar bodoh! Dulu kamu yang memilih untuk pergi, sekarang kamu juga yang memaksa untuk kembali. Logikamu itu kamu taruh di mana? Apa logikamu sudah mati sama seperti nalurimu? Aku tidak mau mengulang kesalahan untuk yang kedua kali. Dengan kujatuhkan lagi perasaanku padamu, itu sama saja kuhancurkan sendiri duniaku untuk yang kedua kalinya. Kamu berhak mencari penggantiku, karena kita saat ini sudah bukan lagi menjadi siapa-siapa.
Bahagialah, seperti bahagiamu saat mengucapkan kalimat perpisahan kepadaku.
Aku pamit, selamat tinggal.
— Luka Kita / Romy Dinasty
Ditulis malam hari 12 Mei, 2019, saat dalam perjalanan menuju Malang dan ditemani dengan sendu yang masih saja menghinggapi isi kepala.