METANOIA
Andam karam binar surya sore itu.
Seekor kepodang terbang menembus kalpataru.
Perasaan yang telah lama rimpuh,
Kini hirap dengan segala sabar yang akan segera sembuh.
Langit dewana pada senja,
Namun senja enggan berlama-lama.
Sekalipun langit berelegi sampai mematahkan hati,
Senja tidak peduli ia tetap memilih pergi.
Seperti indurasmi yang hanya hadir dalam mimpi,
Sama halnya seperti bianglala yang kian menampakkaan diri.
Hidup ini terlalu keji.
Ia hanya berpihak pada yang menjunjung tinggi keangkuhan tirani.
Di hidup ini,
Kita dipaksa mendaki walaupun akan tahu bahwa selaksa jatuh berkali-kali.
Seperti karsa berkidung jejal.
Semut-semut bertandang dan terperangkap dalam sebuah ruang hampa yang temaram.
Renjana terbelah dalam kesaksian sangkala.
Asmaraloka yang tak terarah nyaris patah hingga punah.
Terdayuh pada kenyataan yang di pentaskan sang marcapada.
Malam ini jatuh tanpa suara.
Gemintang berdialog pada bumantara.
Ingat, aku ada diasana.
Berlayar dengan kapal kertas dan berani ambil jalan pintas.
Ternyata...
Aku belum dewasa.
Terkadang aku menangis sedu dan berlabuh pada samudra.
Terkadang pula aku tertawa bahagia bersama jenggala.
Aku berharap aku tidak akan tenggelam dalam hangatnya pelukan kepalsuan. 🍁
15 juli 2020
@yunitaaprilia__















