Lagi ke-brainstorming tentang wacana kesehatan mental. Meskipun belum dalam saat mengkajinya, menurut saya salah satu penyebab ketidaksehatan mental itu berujung pangkal pada problematika kehidupan. Misalkan, orang di kota besar cenderung mudah stres, maka bisa dikaji salah satu kemungkinannya adalah karena seringnya terkena macet. Kita mungkin lebih sering salah fokus pada imbas menjadi stres-nya, alih-alih menemukan solusi untuk mengatasi macet itu sendiri.
Semakin modern dunia ini, ‘penyakit mental’nya justru makin aneh-aneh dan patut diwaspadai. Kita hidup dalam lingkaran sosial yang makin terbuka tetapi juga terasa sangat asing. Kita mudah tahu apa yang seseorang lakukan, tapi cenderung sulit tahu apa yang seseorang rasakan. Permasalahan hidup yang kadang-kadang ingin dibagi di kedai kopi sepulang kerja, malah ditutup dengan visualisasi ala sosialita. Siapa yang tahu, kalau dibalik postingan keceriaan itu tersimpan jiwa yang rapuh dan rentan? Ini perih sih.
Saya cuma ingin membagi pandangan, ketika mungkin salah satu diantara kamu sedang mendapat permasalahan hidup, sejurus itu memang diperuntukkan buat saya sendiri. Realitanya memang mungkin seperih ini.
1. Nggak semua orang bisa dan mau mendengarkan kamu. Biasanya hanya terbatas pada seberapa besar social circle kamu, juga tidak semua dari lingkaran itu punya interest pada masalah itu. Beruntunglah kalau ada yang bersedia mendengar, dan mereka mungkin mencoba memosisikan dirinya pada empati yang jujur atau simpati yang kondisional. Kita memang tidak pernah tahu seberapa rapuhnya seseorang, maka sebaik mungkin cobalah untuk mendengar dan mengerti permasalahan seseorang, sebab suatu waktu kita wajar berharap akan diperlakukan sama seperti itu pula. Akan sangat menyakitkan kalau kita suatu kali butuh dan berharap didengar, tetapi sadar bahwa selama ini sangat jarang menaruh dengar. Particularly, semua orang memang mau sama-sama berbagi imbalan.
2. Semua orang punya masalahnya masing-masing. Pada akhirnya, ini adalah sebuah hal yang umum dan pasti meski satu dan lain variabel tidak bisa saling dibandingkan secara paralel. Bahkan, orang yang punya basis profesional seperti dokter jiwa/psikiater atau psikolog pun pasti punya masalah hidup. Hanya saja, yang jadi masalah adalah orang yang sedang curhat ini merasa bahwa dirinya sebagai ‘center of universe’ seakan-akan menjadi hiperbolik bagi tanggapan orang lain. Untuk yang memahami sedikit ilmu psikologi, biasanya dari ciri-cirinya pun akan terlihat mana yang memang hanya melakukan self-diagnose yang seringkali meleset atau justru memang membutuhkan bantuan ahli.
3. Makanya, curhatlah pada orang yang tepat. Tapi, apakah orang di sekitarmu mampu untuk menanggung beban menjadi orang yang dirasa tepat olehmu? Bahkan kalau kamu curhat pada orang terdekat dan terkasih seperti orang tua, pacar, dan teman, toh kamu akan menemui probabilitas untuk dikecewakan. Entah karena tanggapan yang tak sesuai, dibercandakan, dibocorkan ceritanya, di-judge ditempat, dan sebagainya. Kalaupun ada orang terdekatmu yang sangat-sangat ‘angelic side’ yang kepedulian dan empatinya tinggi, maka ia tetap punya ‘dark voices’ yang mungkin ia mampu sembunyikan. Pada bagian mana, kalau kita menggantungkan harapan kita pada manusia yang tidak berpotensi dikecewakan? Berani berjudi pada seburuk-buruk kemungkinan?
Itulah kenapa, beberapa orang memberi alternatif saran untuk mendekat pada Tuhan. Tetapi, sebagian orang yang mengaku stres atau depresi mengatakan bahwa hubungan mereka baik-baik saja dengan Tuhan. Well, mungkin disini ada misleading, dimana fungsi memberikan alternatif ini bukan untuk menyinggung soal seberapa dalam keber-Tuhan-an orang lain tapi justru untuk mengingatkan bahwa ada Tuhan yang mampu menolong lewat agama sebagai tools-nya. Patut dikoreksi dari kedua belah pihak, entah karena mungkin penyampaian pesannya yang mungkin keliru, meskipun sebenarnya kalau yang bersangkutan merasa tersinggung biasanya masalahnya memang ada disana meski sulit untuk diberi pengakuan.
Kenapa Tuhan? Karena cuma Tuhan yang pasti mendengarkan dan mengerti dirimu sepenuhnya. Apakah Tuhan akan menghakimi permasalahanmu juga menertawakan tangisanmu, layaknya orang-orang yang kau sempat ragukan itu?
Salah satu fungsi agama itu tools, ada syariat yang berlaku imbal balik. Ketika ‘curhat’ pada Tuhan, bahkan sebelum solusi itu datang, bisa jadi perasaan leganya sudah dapat duluan. Tapi itu tetap alternatif, tidak ada yang bisa dipaksakan karena kadar kepercayaan yang aplikatif pada tiap orang berbeda-beda. Salah satu ilmu psikologi yang paling dekat dengan konsep kebertuhanan adalah Logoterapi yang dipopulerkan oleh Viktor E. Frankl, maka jangan sekali-kali bilang kalau konsep agama dan psikologi terapan itu bertolak belakang. Kamu mungkin memang kurang membaca saja.
Kalaupun ada yang tidak percaya konsep Tuhan (bersikap atheis) atau konsep agama (bersikap agnostik), ya monggo. Silakan saja ‘berjudi’ pada probabilitas lain atas apa yang disandarkan, entah itu diri sendiri, orang lain, society, atau nilai nilai lain. Apakah mereka jauh lebih mampu membantu dibandingkan dengan Yang Maha Esa? Kalaupun buatmu iya, ya silakan. Pada akhirnya, terapan konsep, solusi, maupun saran dari para profesional terkait permasalahan hidupmu akan berbalik pada dirimu sendiri. Masalahnya, kalau sedang stres atau depresi begitu, apakah kamu bisa mengenali dirimu secara jernih? Ya mbok jangan sombong lah, coba berdoa. Kamu itu ‘kan diciptakan oleh-Nya, maka Ia pasti adalah sebaik-baik penolong. Oh iya, sekalian juga minta pada Tuhan untuk didekatkan pada orang-orang baik dan berempati tinggi.