Jika hujan bisa membuat kita merasakan pedih nya masa lalu. Maka setelah hujan pun bisa membuat kita merasa bersyukur ... Tanpa hujan pelangi itu takan ada. Dan kamu lah pelangi yang aku syukuri itu.
-Via_LogikaDanRasa
$LAYYYTER
Keni
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
tumblr dot com
we're not kids anymore.
dirt enthusiast
Lint Roller? I Barely Know Her
Game of Thrones Daily

❣ Chile in a Photography ❣

祝日 / Permanent Vacation
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
h

Janaina Medeiros
Stranger Things
Monterey Bay Aquarium

ellievsbear
Cosmic Funnies
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
No title available
Mike Driver
seen from France
seen from Spain
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Brazil

seen from Algeria
seen from Türkiye
seen from Algeria
seen from Lithuania

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Poland
seen from Italy
seen from United States
@logikadanrasa
Jika hujan bisa membuat kita merasakan pedih nya masa lalu. Maka setelah hujan pun bisa membuat kita merasa bersyukur ... Tanpa hujan pelangi itu takan ada. Dan kamu lah pelangi yang aku syukuri itu.
-Via_LogikaDanRasa
Biar hari ini aku urungkan lagi menyapa mu via chat. Tapi hari ini Allah mengizin aku menyapa mu secara langsung.
Hati - Hati Yaa
Via_LogikaDanRasa -190517-
Satu hal sederhana yang begitu sulit, namun jauh lebih baik di atas profesionalitas diri yaitu :
NURANI
Via_LogikaDanRasa -190517-
bahkan sampai detik ini tak ada ku temukan tempat paling nyaman selain diatas bentangan sajadah dihangatnya malam bersamaMu
suararindu (via kylerstuff)
Meletakan kepala di tempat yang paling rendah. Membasah tanpa harus menyekanya.
Tuhan ajari aku cara mengikhlaskan yang sebenar-benarnya ikhlas, tanpa aku harus menlafalkan nama nya kembali dalam setiap doa yang aku langitkan _Aku Tak Bisa_
-Via_Logika Dan Rasa | 17 april 2017
Bukan Nekat Tapi Tekad Karna aku yakin tapi tak cukup berani. Mata hanya bisa membasah tanpa harus ku seka
Via_Logika dan Rasa 05/04/17
Teringat kata mbak puti … “ Klo lo beneneran cinta dan sayang sama dia, lo lakuin aja apa yang menurut lo baik untuk dia, dan satu hal yang harus lo inget … Klo lo udah berani jatuh cinta berarti lo juga harus siap untuk berani patah hati ” Iyaa mbak, emng pada akhirnya gw yang harus mengerti akan dia, karna sedari awal gw tau akan ada satu tembok yang gak akan bisa gw lewatin…
Yaa Allah damaikan lah hati ini, karna engkaulah sang maha pemilik hati dan membolak-balikan hati hamba mu. (01/04/2017)
Jangan bertanya kenapa. Setiap orang memiliki suatu jawaban yang menolak di beri pertanyaan.ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ Kelak, kau tahu ! . . . #igers #instavid #movie #moviemaker #cinematography #videooftheday #movie #cinematographer #indovideogram #cinematic #storyofmylife #loveit #global_hotshotz #shooting #movies #trailer #videos #shortmovie #film #short_movie #videography #id_pendaki #videogram #instavideo #instamovie #folkindonesia #igvideo #igdaily #instagram #story (di Mt. Ciremai)
Dari semua hal buruk yang pernah terjadi di antara kita berdua hingga berpisah seperti ini, yang paling aku benci adalah kenyataan di mana aku sama sekali tidak bisa membencimu.
(via mbeeer)
“Yang kamu sebut, tidaklah lebih dari sekadar alasan. Aku mencernanya baik-baik, membuang kecewa yang kudapat. Namun tetap, itu semua tidak lebih dari sekadar alasan.
Ucapmu adalah omong kosong belaka. Seminggu? Dua minggu? Sebulan? Dalam waktu itu kupikir kamu tidak lupa dengan apa yang kita bicarakan tentang dia. Kamu dengan pasti menggunakan kata "janji” untuk itu.
Namun pagi ini, seperti yang kamu tahu, kamu keparat! Sangat keparat dengan itu. Keparat bukan kata berlebihan, setidaknya untukku. Untuk aku yang terluka namun hingga merasa tak pantas.
Kau perlakukan seperti itu orang yang kamu sayangi? Lagi, lagi, dan lagi. Bagaimana cara aku menularkan rasaku yang mampu terlihat baik-baik saja terkurung sepi?
Sejujurnya aku sangat terkesan dengan aku yg mampu demikian. Sedang kita sama, aku dan kamu terpenjara sepi, terhalang jarak, dan ditusuk rindu ingin pertemuan.
Maafkan aku berkata demikian. Aku luka yang tak ingin terluka, meluka, dan diluka.“
Telapak tanganku basah, mataku berkaca-kaca. Sepucuk surat yang baru selesai kubaca membuatku enggan sekadar mengangkat jari. Bukan, bahkan membuat enggan untuk bernafas.
Aku masih saja tak pandai memahami tentang ini semua. Sebab rindu itu syahdu, cinta itu merona. Di setiap perih yang tercipta, aku selalu percaya itu bukan rindu, itu juga bukan cinta.
Aku mendengar angin yang menampari jendela kamarku. Juga sebab aku menyentuh air dalam bak mandi.
Rindu itu menyejukkan, membelai jiwa gerah dengan sangat lembut. Memeluknya erat, melonggarkan syaraf mata untuk menatap teduh, menarik pipi untuk tersenyum lirih.
Dan cinta itu mengalir, dari ujung rambut hingga ujung kaki, melewati syaraf-syaraf sensitif, hingga menjadi tergetar. Diiringi degup jantung, cinta menari mengikuti iramanya.
Lamunku terhenti.
Aku keluar dari kamar mandi setelah kudengar atap mulai dibuat berisik oleh hujan. Lengkap kataku. Dengan dada yang masih memerah dan berasap, ada satu lagi yang ingin membuatku semakin diliputi sesal dan terluka.
Aku tersenyum getir di depan cermin. Baru sebentar aku membasuh wajah, sekarang aku tak lagi bisa membedakan air sisa bilasan dengan air mata yang baru saja. Kenapa harus terburu-buru hujan setelah tadi kuputuskan untuk menemuinya.
Sampai hari ini, aku tidak tahu hakikat sebenarnya mencintai. Apalagi dicintai. Baru setelah aku membaca suratnya, membaca matanya sebelum dia pamit dan meninggalkan lipatan kertas di genggamanku, aku menyadari bodohku.
Aku mencintai dengan egois, dengan sebelah mata dan biasa-biasa saja. Aku juga mencintai dengan begitu kejam. Terluka yang kualami juga kusulang bersamanya siang tadi. Di matanya aku membaca kecewa, namun di hati, aku seolah mati rasa.
Hujan memang belum deras, tapi akan segera menderas. Tidak jauh dari jalan raya, aku melihatnya berteduh di depan pelataran rumah berpagar. Beberapa pohon besar memayungi dan tidak memayungi. Sebagian bahu dan rambutnya mulai basah.
Aku mendekat. Menatap raut mukanya yang acak-acakan sisa pertikain siang tadi, rasanya. Kelu. Tapi aku ingin bicara banyak hal. Atau barangkali memeluk dan menangis dengan wajar di tubuhnya. Hening. Kemudian pecah. "Maaf.” Hanya itu dan aku tak sanggup melihat selain sepatu basah kami.
Bagaimana aku pantas dicintai sementara luka yang kutoreh tak terhitung banyaknya dan justru termaafkan. Seorang aku seharusnya sudah pergi jauh-jauh hari sebelum semakin membuat nganga lukanya. Tapi seharusnya juga aku tetap di sini. Menemaninya sembuh dan perlahan memperbaiki.
Denpasar-Malang, 1 November 2016
Ditulis oleh @satusenja dan @tanahentah saat hujan lebat menjelang petang.
Jika memang sebelum terlahir di dunia ruh ku di tanya akan bagaimana kematianku di akhir nanti. - Aku ingin mati ku di dekap hangat pelukan ibu, yang hangat nya akan melawan suhu dingin pada tubuh mati ku.
Via_LogikaDanRasa Tanggerang, 31 Oktober 2016
Menahan diri . . Source IG @cerita_islam Pemateri : Nouman Ali Khan
Jangan salahkan orang-orang yg memilih diam. Mereka membaca, lalu tahu posisinya; ketika mereka bicara, mereka banyak didiamkan.
@kotak-nasi (via aksarannyta)
Semoga Tuhan menyisipkan doa-doa ku tentang mu, ke dalam mimpi-mimpi malam mu.
Via_LogikaDanRasa Jakarta, 21 Oktober 2016
Hingga Nanti Lupa
Mungkin memang lebih baik seperti ini. Tak jua berucap rindu padahal ada yang dicandu oleh setiap tatap yang bersua.
Mungkin jauh lebih baik untuk terus begini. Tak berucap tentang rasa-rasa yang dirasa padahal di dalam dada terlalu sering ada yang bergemuruh meminta diungkapkan.
Mungkin memang seharusnya seperti ini menepis semua bayang hingga kenangan, agar tak ada hal-hal yang bertentangan dengan logika.
Mungkin memang sebaiknya selalu seperti ini, hingga nanti lupa apa yang kerap meradang, hingga nanti lupa apa yang seharusnya dilupakan.
Hujan Mimpi Oktober ke-18
Kebenaran itu tak perlu banyak bicara agar terlihat benar, justru kebohongan lah yang harus banyak bicara agar ia terlihat benar. - Aku adalah orang yang benci akan perdebatan !!!
Via_LogikaDanRasa Tangerang, 17 Oktober 2016
The Way I Lose Her: The Legend of Teh Kotak - ...End In Here.
Tak sadarkah kau? Untuk bisa sampai di titik ini, berada di posisi ini, aku harus berjibaku dengan banyak sakit hati. Kau adalah yang aku pilih setelah ribuan kali berpikir dan jutaan kali ragu, tapi kenapa ternyata justru kaulah yang membuatku jatuh kembali di keterpurukan itu?!
===
.
“LO NGGAK USAH SOK TAU!! GUE SAYANG DIA, DIM!” Ipeh berteriak. Degup jantung gue sontak melemah pelan.
Hati gue hancur mendengar kalimat yang ia ucapkan tadi. Tanpa sadar gue mundur beberapa langkah seperti masih mencoba bangun dari kenyataan berharap ini semua cuma mimpi doang karena gue ketiduran pas lagi dengerin orang cek sound di lapang basket tadi.
Ipeh yang tersadar akan kata-katanya barusan langsung terkejut menatap ekspresi gue. Dia bangun dari duduknya dan perlahan menghampiri, namun gue hanya geleng-geleng mencoba menahannya agar tidak berjalan lebih dekat.
“Dimas sayang Ipeh. Ipeh tau itu kan?” Suara gue lemah sekali, seperti percakapan sebelumnya telah menghabisi seluruh cadangan tenaga yang gue punya.
“Dan Dimas juga berani bersumpah demi seluruh Tuhan yang ada di dunia ini bahwa Ipeh juga sayang Dimas. Iya kan, Peh? Jawab.”
Ipeh hanya menganggukkan kepala sambil menangis. Ia menggigit bibirnya berusaha agar suara tangisnya tak keluar.
“Apa yang harus Dimas lakukan sekarang, Peh? Apa?” Ada air mata turun dari mata gue. Itu adalah kali pertama di mana gue menangis di depan Ipeh.
“Apa Dimas nggak boleh sayang sama orang yang Dimas sayang? Apa Dimas salah kalau Dimas mulai sayang sama seseorang?” Lanjut gue lagi.
“Waktu Dimas kecelakaan, Ipeh dengan khawatirnya datang ke rumah, bela-belain bolos sekolah hanya untuk nengok Dimas yang padahal lukanya nggak seberapa. Tapi ketika sekarang Dimas terluka hebat seperti ini, apa Ipeh merasa khawatir juga seperti dulu? Apa Ipeh pernah memikirkan sekali saja tentang apa yang Dimas tengah rasakan sekarang?” Gue berjalan mendekati Ipeh.
“Kamu nggak tahu seberapa lukanya Dimas sekarang melihat kamu dilukai oleh orang yang kamu sayang? Orang yang Dimas sayang sekarang tengah menangisi orang yang tidak menyayanginya. Lalu dengan berteriak di depan mata kepala Dimas sendiri, orang yang Dimas sayang berkata bahwa dia menyayangi orang yang tidak menyayanginya.
Mau sehancur apa lagi Dimas hari ini, Ipeh? Rasa sayang Dimas sama Ipeh jauh melebihi rasa sayang Dimas kepada siapapun, dan ketika melihat kamu terluka seperti ini, Dimas juga ikut terluka. Terlebih ditambah luka dari sebuah kenyataan bahwa kamu lebih sayang sama orang itu ketimbang sama Dimas.”
Gue mulai menangis. Suara gue parau. Beberapa kali gue kehilangan kata karena mencoba agar tidak semakin menangis di depan bocah tomboy yang gue sayang ini.
“Ta.. tapi.. Tap-i, aku sa.. sayang dia, Dim.” Ipeh kembali angkat bicara, kini suaranya semakin tak terdengar jelas karena tertahan isak tangis.
“Kalau memang seperti itu akhirnya, Dimas yang akan pergi.”
“Enggaa… jangaaaaaan… Jangan pergi, Mbeeee…” Ipeh memohon.
“Kalau kamu mau Dimas tetap tinggal, pergi dari dia lalu kita bahagia bersama. Semudah itu. Kita bisa kok bahagia, Dimas bisa memberikan apa yang tidak mampu dia beri. Ipeh mau apa? Sama Dimas, Ipeh boleh kemana saja, main sama siapa saja Dimas izinkan. Selama Ipeh tetap ingat pulangmu hanya pada Dimas. Ipeh nggak harus balas pesan Dimas cepat-cepat, Dimas mengerti Ipeh juga punya kesibukkan. Ipeh bebas mau manja-manja kapan saja, Dimas izinkan Ipeh untuk nyusahin Dimas kapanpun dan di manapun yang Ipeh mau. Setiap Ipeh ingin Dimas ada, Dimas akan ada secepat yang Dimas bisa untuk menemui Ipeh. Jadi, kenapa bukan Dimas yang Ipeh pilih? Kenapa, Peh?”
“Tapi.. Tapi.. Ta..pi..”
“Peh, Dimas sayang Ipeh. Ayo kita perbaiki ini semua dari awal lagi.” Gue mengulurkan tangan menunggu Ipeh untuk menggenggam tangan gue.
Tapi semua tetap percuma. Ipeh hanya terdiam sambil masih menangis memeluk dirinya sendiri. Ada lebih dari dua menit gue menunggu, hingga kemudian tangan gue jatuh dan tak meminta untuk digenggam lagi.
“Apa yang salah? Di mana letak kesalahan Dimas hingga Dimas harus ada di titik ini? Dosa apa yang sudah Dimas perbuat hingga Dimas harus mendapatkan sakit hati bertubi-tubi seperti ini? Apa Dimas tidak berhak untuk bahagia?! Apa Dimas juga tidak berhak dicintai sebegitunya oleh seseorang?!
Kamu tau, Peh? Dimas iri sama pacarmu yang sekarang. Dicintai dengan setengah mati, sedangkan dia hanya mencintamu setengah hati. Apa Dimas harus jadi cowok brengsek juga agar ada yang mau mencintai Dimas, mempertahankan Dimas, dan tidak ingin meninggalkan Dimas sehebat apa yang kamu lakukan sekarang itu?
Jika itu adalah syarat agar Dimas bisa dicintai oleh seseorang. Baiklah, detik ini, menit ini, dan hari ini; Dimas akan.”
Kami berdua terdiam tak berbicara lagi. Berulang kali gue mencoba untuk tidak terbawa emosi, tapi tetap saja melihat dirinya yang begitu kecil ini menangis karena memilih orang yang salah membuat gue kerap buta mata. Seharusnya gue yang dia pilih. Seharusnya, air mata itu buat gue, bukan buat orang lain.
“Kenapa kamu nggak bisa sesayang itu, Peh, sama Dimas? Kenapa kamu tidak sengotot itu mempertahankan Dimas? Kenapa, Peh? Kenapa harus dia? Kenapa dulu waktu kita masih mempunyai kesempatan, kamu tidak sebegini berjuangnya untuk menunggu Dimas? Apa Dimas tidak layak kamu sayangi sebegitunya? Apa Dimas tidak sesempurna itu di mata Ipeh?
Dimas ngerti Dimas banyak sekali kekurangannya, namun untuk Ipeh, Dimas usahakan semuanya maksimal. Dimas selalu upayakan 100% tanpa kurang sedikitpun. Apa yang Ipeh butuhkan agar Dimas bisa seistimewa itu di mata Ipeh?”
Gue berbicara dengan suara yang terbata-bata. Sedangkan Ipeh tidak mampu menatap gue sedikitpun. Tangan gue mengepal, seperti ada begitu banyak hal yang ingin gue teriakkan tapi mulut tetap bungkam. Melihat Ipeh yang masih menangis memeluk dirinya sendiri di atas kursi sofa itu benar-benar membuat gue tak habis pikir, kenapa dia nggak bisa sesayang itu sama gue?!
“GUE SAYANG ELO, HANIFAH TAFARA ATMOJO!!!!” Gue berteriak di depan mukanya lalu kemudian tangis kami berdua pecah.
“Dimas nggak bisa kaya gini terus. Dimas nggak bisa ngebiarin hati Dimas terluka seperti ini terus. Dimas nggak boleh! Peh, Dimas sayang Ipeh, dan sekarang Dimas memohon di depan Ipeh dengan teramat sangat, maukah Ipeh melepaskan cowok itu lalu kita berdua mebangun sesuatu yang baru?”
Ada hening sebentar ketika petir menyambar keras disertai hujan yang entah kenapa malah makin deras. Gue mendekati Ipeh dan kini kami berdua hanya berjarak beberapa hasta saja.
“Maukah Ipeh jadi pacar Dimas?“ Lanjut gue pelan.
Akhirnya kata-kata itu keluar juga. Setelah sekian lama perjalanan cerita ini berawal dan kata-kata itu selalu terpendam, akhirnya kini semua termuntahkan juga.
Namun anehnya Ipeh tetap tidak menjawab, ia hanya menangis dan terus saja menangis. Sikapnya yang tak kunjung berkata sesuatu untuk menjawab pertanyaan gue barusan itu membuat hati gue jadi semakin nggak karuan.
Gue genggam pundak Ipeh keras-keras, “Sekarang lo jawab gue! Siapa yang lo pilih? Jika lo memilih gue, gue berjanji akan memperbaiki segala kerusakan yang disebabkan oleh orang brengsek itu. Tapi kalau elo memilih dia, maaf, gue nggak sanggup untuk dekat sama elo lagi.”
Ipeh kaget, dia langsung menatap gue.
“JAWAB SEKARANG!!” Bentak gue keras. “SIAPA PILIHAN LO?!”
Ipeh hanya terdiam dengan tangisan yang masih terus keluar dari kedua bola matanya.
“GUE HITUNG SAMPAI TIGA. KALAU LO MASIH DIEM, BERARTI JAWABANNYA SUDAH JELAS.”
“1!” Gue melepaskan pegangan gue.
“2!!” Emosi gue makin memuncak.
Gue terdiam. Mencoba mengulur waktu untuk tidak mengatakan angka tiga. Mencoba menunggu dan terus-terusan meyakini diri bahwa Ipeh akan berkata sesuatu.
Tapi ternyata..
“3!!”
Gue kalah. Gue kalah telak. Seperti sedang berlomba di perlombaan yang bahkan nama gue tidak disebut sebagai pesertanya.
Gue kacau. Ipeh masih tidak menjawab di hitungan ketiga. Ini berarti semuanya sudah jelas. Ini adalah kali kedua di mana gue mengajukan pilihan dan berakhir dengan gue yang tidak dipilih. Ternyata sama saja. Ternyata semua sakit hati ini sama saja. Hanya berbeda wujud, yang satu adalah seorang wanita yang dulu pernah membentak gue saat ospek, dan yang satu lagi adalah seorang wanita tomboy yang dulu pernah membantu gue ketika sedang ada ulangan matematika untuk yang pertama kali.
“ANJIIIING!!!!!!!” Gue berteriak sekeras mungkin. Tangan gue terkepal. Emosi gue meluap-luap namun tidak bisa gue keluarkan.
“Baiklah! Dengan ini berarti semuanya sudah jelas. Lo yang meminta ini semua untuk terjadi. SEKARANG LO DENGAR KATA-KATA GUE BAIK-BAIK. KATA-KATA YANG MUNGKIN JADI KATA-KATA TERAKHIR DI MANA GUE BERBICARA SAMA LO LAGI, PEH!!
JANGAN PERNAH SEKALIPUN DATANG LAGI KE GUE!! SEHANCUR APAPUN LO NANTI!! SETERLUKA APAPUN LO NANTI!! JANGAN PERNAH DATANG KE GUE LAGI KETIKA LO BUTUH SESEORANG UNTUK MENYEMBUHKAN LUKA YANG SEDANG LO DERITA!!
Lo sudah tidak berhak datang dan membuat gue menaruh harap lagi. Lo sama sekali tidak berhak mempermainkan hati gue seperti ini. Terlukalah yang hebat, dan apapun itu, gue bersumpah tidak akan datang!” Gue membanting tas Ipeh yang sedari tadi gue genggam di tangan kanan ke atas sofa.
“Gue selesai! Gue pergi!!”
Ipeh terkejut, ia langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri gue.
“MBEEE!!! MAAAAAFIN AKU. PLEASE MBE JANGAN PERGI!!!” Ipeh merengek mencoba meraih tangan gue tapi gue hentakkan dengan keras hingga genggamannya terlepas.
“Lo udah janji sama gue, Mbe! Lo udah janji kan Mbe untuk selalu ada buat gue. Lo udah janji, Mbe. Lo peluk gue sambil berjanji, Mbe. Lo inget kan?! Please Mbe jangan pergi. Gue mohon..” Tangis Ipeh pecah sekali sore itu.
“Persetan sama janji! Kalau lo seperti ini terus, lebih baik gue pergi selamanya. Lo tau kan kalau gue terluka ketika lo terluka, dan sekarang gue nggak mau terluka lagi! Lebih baik gue pergi ketimbang harus terus khawatir, sakit hati, cemburu tanpa punya sedikitpun hak untuk meminta!” Gue mengambil seragam gue yang ada di sofa, lalu kemudian menatap Ipeh untuk yang terakhir kalinya.
“Gue pergi!” Kata gue seraya berjalan menuju gerbang rumah Ipeh walaupun saat itu masih hujan deras.
Air mata gue kini tak terbendung lagi, semuanya tumpah. Ini adalah sakit yang paling sakit yang pernah gue rasakan. Rasa sakitnya benar-benar berlipat. Seperti semua rasa sakit yang selama ini gue rasakan tidak berarti apa-apa.
Dari semenjak pertama kali gue memasuki SMA, dari semenjak pertama kali gue menuliskan kisah ini ke permukaan, gue telah mengalami beberapa rasa sakit yang luar biasa, salah satunya adalah,
Rasa sakit ketika dibentak kak Hana waktu ospek. Rasa sakit ketika harus terjatuh menyusur aspal ketika eskul basket. Rasa sakit ketika disikut oleh kakak kelas ketika sedang sparing basket. Rasa sakit ketika tidak diakui Wulan ketika gue tidak sengaja menabraknya di sekolah. Rasa sakit ketika tidak dipilih kak Hana di depan anak-anak warnet. Rasa sakit ketika ditampar kak Hana di lorong kelas. Rasa sakit ketika dicekik Ipeh waktu gue tidak tahu salad itu apa di rumahnya. Rasa sakit ketika tawuran di Gor Pajajaran. Rasa sakit ketika diobati kak Hana. Rasa sakit ketika harus remedial fisika. Rasa sakit ketika Ipeh pergi karena mengetahui hubungan gue dan kak Hana. Rasa sakit ketika dihina Cloudy. Rasa sakit ketika Cloudy memarahi gue habis-habisan. Rasa sakit ketika mengetahui Ipeh meminta gue untuk tidak mendekatinya lagi. Rasa sakit ketika Ikhsan mendatangi gue di balkon tanpa ada sosok Ipeh di sampingnya. Rasa sakit ketika harus memisahkan Ipeh dan Cloudy. Rasa sakit ketika melawan seseorang yang memukul Ipeh Rasa sakit ketika kecelakaan motor. Rasa sakit ketika ditolak Cloudy. Dan rasa sakit ketika mendengar Cloudy menyukai orang lain.
Tapi ketika hari ini gue mendengar sebuah kenyataan bahwa Ipeh lebih memilih untuk hidup bersama orang lain ketimbang bersama gue itu, rasanya seperti,
Rasa sakit ketika dibentak kak Hana waktu ospek. Rasa sakit ketika harus terjatuh menyusur aspal ketika eskul basket. Rasa sakit ketika disikut oleh kakak kelas ketika sedang sparing basket. Rasa sakit ketika tidak diakui Wulan ketika gue tidak sengaja menabraknya di sekolah. Rasa sakit ketika tidak dipilih kak Hana di depan anak-anak warnet. Rasa sakit ketika ditampar kak Hana di lorong kelas. Rasa sakit ketika dicekik Ipeh waktu gue tidak tahu salad itu apa di rumahnya. Rasa sakit ketika tawuran di Gor Pajajaran. Rasa sakit ketika diobati kak Hana. Rasa sakit ketika harus remedial fisika. Rasa sakit ketika Ipeh pergi karena mengetahui hubungan gue dan kak Hana. Rasa sakit ketika dihina Cloudy. Rasa sakit ketika Cloudy memarahi gue habis-habisan. Rasa sakit ketika mengetahui Ipeh meminta gue untuk tidak mendekatinya lagi. Rasa sakit ketika Ikhsan mendatangi gue di balkon tanpa ada sosok Ipeh di sampingnya. Rasa sakit ketika harus memisahkan Ipeh dan Cloudy. Rasa sakit ketika melawan seseorang yang memukul Ipeh Rasa sakit ketika kecelakaan motor. Rasa sakit ketika ditolak Cloudy. Dan rasa sakit ketika mendengar Cloudy menyukai orang lain,
Itu semua dikali 10x lipat. Dan seperti itulah rasa sakit yang gue rasakan sekarang.
I’ll never be good enough for you.. am I, Hanifah?
.
===
.
Gue berjalan lunglai menyusuri halaman Ipeh yang masih terguyur derasnya hujan, membuka gerbang depan rumah Ipeh sebelum kemudian gue mendengar ada suara derap langkah Ipeh yang berlari mengejar namun berhenti tepat beberapa langkah di belakang gue.
“Kalau lo memang nggak peduli sama gue, kenapa saat itu lo nolong gue waktu gue didorong sama cowok, hah?! Kalau lo memang nggak peduli sama gue, kenapa saat itu lo datengin cowok itu di kantin dan ngasih dia pelajaran sambil ngomong kalau lo itu pacar gue?! Kalau lo memang nggak peduli sama gue, kenapa lo tetap mengkhawatirkan gue padahal saat itu jelas-jelas kita sedang berantem dan gue yang salah karena udah ngecewain elo?! KENAPA!! JAWAB DIMAS!!!!” Ipeh teriak kencang sekali.
Gue terkejut. Gue terpaku. Anjir! Kenapa Ipeh bisa tahu tentang kejadian itu? Rasanya gue nggak pernah cerita tentang hal itu sama Ipeh. Masa Ikhsan ngasih tahu Ipeh sih? Tapi Ikhsan sudah berjanji sama gue dulu, dan gue tahu kalau Ikhsan sudah berjanji dia tetap akan terus memegang teguh janji itu. Nah tapi ini kenapa Ipeh bisa tahu tentang kejadian di kantin sore itu dulu hingga sedetail ini?
Tapi, gue hanya tetap diam dan memilih untuk tidak menjawabnya.
“Dim..” Ipeh kembali angkat bicara. Suara kecilnya sempat tertahan sebentar. “Are you okay?” Sambungnya.
Gue berbalik dan melihat ke arahnya. Dengan beberapa air mata yang menggenang di kedua kelopak mata, gue hanya bisa menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepala,
“I don’t know.”
Gue kembali melangkah membuka gerbang lalu kemudian pergi meninggalkan Ipeh yang masih terus-terusan meneriakkan nama gue di halaman rumahnya begitu saja. Semakin lama teriakkannya semakin pelan. Hingga kemudian yang bisa ditangkap telinga gue hanyalah derasnya suara hujan hari ini.
Saat ini kisah kami berdua sudah mencapai sebuah tanda baca titik. Ceritanya selesai, tak bersambung, tak menyisakan pertanyaan pun tak memberikan jawaban. Semuanya selesai begitu saja. Seperti dipaksa untuk selesai sebelum saatnya. Tampaknya sudah tidak ada lagi kertas kosong yang bisa ditulisi di cerita ini.
Hari ini, buku cerita panjang tentang Hanifah terpaksa gue tutup dengan akhir cerita yang tidak bahagia. There is no happy endings story, there is just a Happy, and an Ending. I’ve got the Ending part, and she got the Happy part.
Tirai merah jambu diturunkan, para penonton bertepuk tangan, para pemeran kini bahagia, tapi menyisakan satu peran yang terluka. Bandung sore ini begitu basah. Langitnya menangis, gue menangis, begitu juga dengan Ipeh.
Hari ini hujan menyapu air mata kami berdua dan tak membirkannya lama-lama bertengger di kedua bola mata. Mungkin hujan mengerti, mungkin hujan tahu, bahwa cinta tak berarti harus selalu bahagia. Cinta adalah peluru timah sedangkan Harapan adalah pelatuknya. Semakin kita berharap, ia akan semakin hebat menggelegar lalu kemudian menerjang kepala dengan hal-hal yang membuat kita buta.
Lalu kemudian kita mati, bukan karena luka, namun karena cinta dan harapan yang kita arahkan sendiri ke kepala. Luka, hanyalah bekas yang tertinggal dari kebodohan cinta dan tingginya sebuah harapan. Seperti halnya air yang menggenang adalah peninggalan sang hujan; Begitu pula dengan luka, suatu saat ia akan mengering namun bisa kembali basah ketika harapan membumbung tinggi dan turun deras karena ekspetasi. Moncong senapan dihadapkan pada pelipis, kemudian cinta kembali menjadi pelurunya. Dan di saat kita berharap pada sesuatu yang belum pasti, harapan menjadi pelatuk yang meledakan kepala kita sendiri nanti.
Kini aku mati. Oleh peluruku sendiri.
Jatuh cinta itu seperti memberikan peluru kepada orang lain, dan berharap ia tidak akan menembakkannya ke kepalamu. Hanya orang bodoh yang masih percaya dengan hal yang dinamakan jatuh cinta.
Tapi sayangnya, aku tidak menyesal karena pernah menjadi bodoh. Mungkin inilah jalanku. Jalan-jalan yang harus kutempuh,
untuk kehilanganmu,
sekali lagi.
Maybe this is the way I lose her.
.
.
.
Bersambung
Previous Story: Here