Siapa sih yang tidak tahu kota London? London adalah ibukota dari negara Inggris. Selengkapnya baca Wikipedia aja ya, karena saya tidak akan membahas pelajaran geografi atau sejarah di sini.
London juga memiliki beberapa kampus-kampus terbaik dunia, contohnya UCL, ICL, KCL, dan LSE. Yep, semua huruf L di keempat singkatan tadi stand for “London”. Karena mereka termasuk top universities, tentu saja banyak orang dari seluruh dunia yang ingin berkuliah di kampus-kampus tersebut—termasuk orang Indonesia. Teman saya yang kuliah di UCL berkata bahwa mahasiswa asal Indonesia di UCL saja ada ratusan, berarti bisa dong berapa banyaknya mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di London?
Dari sekian banyak orang Indo yang kuliah di London itu, saya termasuk... bukan salah satunya.
Saya pilih University of Bristol karena memang ada jurusan tujuan saya dan tidak saya temukan di manapun di London—sebenarnya ada sih jurusan yang mirip-mirip di UCL, tapi overall lebih cocok dengan yang ada di Bristol.
Awal-awal kuliah rasanya agak nyesel karena nggak pilih di London, alasannya beragam, mulai dari karena semua hal ada di London hingga karena saking besarnya London, kalo lagi bosen pasti banyak tempat untuk dijelajahi. Tapi makin lama hidup di sini, makin bersyukur karena nggak jadi kuliah di London. Kenapa? Simak alasan saya berikut ini.
1. London udah kebanyakan orang Indonesia
Seperti yang sudah saya tulis di atas, udah banyak banget orang Indonesia yang tinggal di London. Di satu sisi, itu adalah hal yang bagus karena nggak perlu bingung kalo butuh sesuatu; tinggal ngehubungi orang Indo terdekat. Namun sayangnya, dari pengamatan saya, terlalu banyak orang Indo nggak enak karena jadi nggak bisa kenal dengan semua orangnya. Berbeda dengan saya di Bristol, karena orang Indonesianya cuma sekitar 50-an atau mungkin nggak sampe, jadinya kami lebih kenal dengan satu sama lain. Apalagi setiap bulan selalu ada pengajian yang diadakan oleh komunitas muslim Indonesia di Bristol, jadinya bisa makan masakan Indonesia tiap bulannya dan semua kebagian :3
Selain itu, saya (personally) kalo populasi orang Indonesianya sebanyak itu maka saya akan lebih banyak berinteraksi dengan sesama orang Indonesia dan malah jarang berkomunikasi dengan orang asing. Apa gunanya kuliah di luar negeri kalo yang dikenal orang-orang Indonesia aja? Tapi sekali lagi, yang ini lebih personal lho ya, jadi kembali ke orangnya masing-masing mau berinteraksi dengan siapa.
2. Biaya hidup yang lebih mahal
Yang ini mungkin udah jelas lah ya, secara London ibukota negara. Jakarta aja biaya hidupnya juga lebih mahal, kan? Nggak perlu banding-bandingin harga flat, harga makanan aja udah beda. Contohnya, ada sebuah kedai mi dengan topping berbagai macam ayam. Harga yang seporsi £5.00 di Bristol jadi sekitar £6.00 di London. Memang selisih cuma £1, tapi itu udah sama dengan 17 ribu rupiah! Kalo ada dua warung jual mi goreng, yang satu harganya 10rb/porsi, satunya seharga 27rb/porsi, rasanya sama enaknya dan porsinya sama banyaknya, pilih mana? Itu pun baru warung mi, belum warung-warung lainnya, transportasi, dan kebutuhan hidup lainnya...
Untungnya, untuk penerima beasiswa LPDP yang kuliah di London, living allowance perbulannya lebih banyak sekitar £200 dari yang di kota-kota lain, jadi tidak perlu khawatir.
3. Di mana-mana ramai!
London memiliki banyak tourist attractions, dan sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa semua tempat itu akan selalu ramai pengunjung. Nggak cuma itu, tempat-tempat populer seperti menara Big Ben (yang bahkan nama aslinya bukan Big Ben), London Eye, Trafalgar Square, dan Buckingham Palace pasti sudah bertebaran di Instagram siapapun yang pernah mengunjungi London. Jadinya, kalau kalian mau keliling di pusat kota London, siap-siap jadi bagian dari es cendol aja ya.
4. Bisa mengenali UK lebih jauh
Kalo mendengar kata “UK”, yang terbayang pertama kali pasti menara Big Ben (yang mana nama sebenarnya adalah Elizabeth Tower), London Eye, para penjaga istana berseragam warna merah dan rambut tinggi ala Marge Simpson, River Thames, kotak telepon berwarna merah, atau klub-klub sepakbola ternama beserta stadion dan kotanya. Namun sebenarnya, UK lebih dari itu!
Karena saya tinggal di Bristol, jadi saya lumayan tahu daerah-daerah sekitar Bristol yang ternyata keren banget. Ada sebuah kota bernama Bath yang tampaknya diberi nama “Bath” karena di jaman dulu kala terkenal dengan pemandiannya. Ada Stonehenge, yang sebenarnya sudah cukup terkenal namun mungkin nggak banyak orang pingin ke sana karena “cuma batu”. Ada Cheddar Gorge, tebing tinggi yang bisa didaki dan tempat dari mana keju cheddar berasal. Ada kota kecil bernama Gloucester yang rupanya dulu digunakan untuk shooting film Harry Potter.
Itu baru di Inggris, belum lagi di Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara. Di Skotlandia, contohnya, ada kota Edinburgh yang pemandangan di kotanya sendiri pun sudah menakjubkan. Tahu monster Loch Ness a.k.a. Nessie? Dia dari Skotlandia, lho!
Yang lebih menarik lagi, kalau kita cerdik kita bisa mengunjungi tempat-tempat menarik tersebut dengan harga yang lebih murah atau setara dengan (atau lebih mahal dikittt lah) mengunjungi satu tempat hiburan di London. Jadinya hemat! ;)
Meskipun begitu, jika tujuan kalian memang kuliah, jangan pilih-pilih berdasarkan tempat hiburan atau biaya hidup, namun pilihlah berdasarkan jurusan dan kampus tujuan kalian. Jika memang mendapatkan beasiswa, maka insyaallah uangnya cukup untuk hidup selama masa studi di sini. Mau jalan-jalan pun juga tidak salah karena menurut saya manusia memang butuh hiburan, asalkan tetap bertanggungjawab dan tidak berlebihan. Tulisan ini saya buat karena memang ada enaknya tidak hidup di London... meskipun sebenarnya ada nggak enaknya juga (mungkin nanti juga akan saya tulis). Jadi jangan terlalu terpengaruh dengan tulisan ini ya! ;)
Biasanya, saya paling suka waktu libur hari raya karena saya bisa kumpul sama keluarga, entah itu jalan-jalan, makan bareng, atau cuma kumpul-kumpul di rumah aja. Intinya ada perasaan bahagia karena bisa kumpul sama keluarga di hari libur yang bukan Sabtu atau Minggu.
Hari ini adalah hari raya Idul Adha, namun perasaan saya campur aduk. Senang karena bisa kumpul, tapi juga sedih karena pada hari yang sama saya harus berangkat menuju Bristol. Senang karena akhirnya bisa memulai petualangan baru, tapi juga sedih karena harus berpisah dengan rumah. Tapi mau gimana lagi? Semua sudah dipersiapkan. There’s no going back.
13 Maret 2017
Enam bulan sudah berlalu, dan saya masih tidak bisa percaya saya menulis postingan ini 12.369 km dari rumah (sumber: Google.) Masih nggak percaya sudah 180 hari tidak berada di rumah; 180 hari tidak mendengarkan suara azan yang bersahut-sahutan; 180 hari tidak nyetir mobil; 180 hari nggak makan masakan rumah; 180 hari yang tidak biasa, hidup di negara dengan kultur yang jauh berbeda ... dan rupanya saya masih bisa bertahan.
Sampai sekarang pun kadang saya masih suka berpikir, gimana ceritanya saya bisa sampe sini? I mean, satu setengah tahun yang lalu pun saya masih nggak kepikiran bakal lanjut S2, apalagi di luar negeri. Malah kalo boleh jujur saya nggak pernah punya niatan kuliah lagi. Setelah lulus maunya cari kerja aja, tapi ternyata lamaran ditolak semua. Akhirnya menjalankan back-up plan yaitu daftar LPDP, yang ternyata lolos ... dan dapat rezeki kuliah di negara yang belum pernah saya datangi.
Ndilalah udah setengah tahun aja. Berarti udah kurang setengah tahun lagi. Nggak kerasa kan ya? Untuk orang sejenis saya yang masih tinggal di rumah orang tua sampai lulus kuliah dan nggak pernah ngekos (pernah sih ngekos cuma sebulan demi memenuhi SKS Kerja Praktik di Bandung but that didn’t count,) ini adalah prestasi. Di rumah nggak pernah masak, di sini tiba-tiba bisa masak meskipun cuma sekali-dua kali seminggu. Dulu rumah-kampus selalu naik mobil atau sepeda (padahal deket banget), di sini tiap hari jalan kaki—termasuk ke mall (ya mallnya deket sih). Intinya saya sudah berhasil melakukan hal-hal yang nggak akan saya lakukan kalo tetap berada di rumah.
Anyway, I have to finish what I started. Kalau sudah bisa bertahan 6 bulan, kenapa nggak bisa 6 bulan lagi? This is gonna be fun!i
*menenangkan diri sendiri*
Baiklah, terima kasih yang sudah membaca curhatan saya, semoga impian-impian anda semua terwujud. Satu lagi, kalau mau tanya sesuatu, bisa ditanyakan ke link ini. Bye!
Kabar gembira untuk kita semua, pendaftaran LPDP tahun ini sudah dibuka!
(Ya ampun itu iklan jaman kapan) (ga lucu banget)
Jadi kebetulan, alhamdulillah, saya adalah awardee LPDP yang lolos seleksi gelombang I tahun 2016. Mumpung hati sedang ingin berbagi dan jemari sedang ingin mengetik, di postingan ini saya mau sedikit sharing tentang LPDP.
Note: Saya nggak akan nulis tentang LPDP itu apa, dibentuk oleh siapa, kapan didirikannya, dan sebagainya, karena semua itu sudah ada di websitenya (klik aja, guys!). Saya cuma mau sharing tentang perubahan pendaftaran LPDP tahun ini, pengalaman saya waktu mendaftar dulu dan sedikit tips yang bisa saya berikan. Lalu, karena saya penerima beasiswa reguler magister luar negeri, jadi saya cuma bisa cerita tentang beasiswa magister aja.
Banyak amat batasannya yha.
Apa yang baru di pendaftaran tahun ini?
Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah jadwal pendaftaran.
[gambar diambil dari postingan salah satu teman di Facebook, tapi juga bisa dilihat di buku panduan pendaftaran LPDP]
Kalau biasanya LPDP membuka pendaftaran 4 kali dalam satu tahun (kalau tidak salah bulan Januari, April, Juli, dan Oktober), maka sekarang LPDP hanya membuka dua kali saja—satu untuk tujuan dalam negeri, dan satu untuk luar negeri. Selain itu, pendaftaran tahun ini dibuka untuk calon pendaftar yang akan memulai kuliah di tahun setelahnya—berbeda dengan yang dulu di mana masa perkuliahan dimulai paling cepat 6 bulan setelah tanggal penutupan pendaftaran periode. Lalu untuk tahun ini juga ada yang namanya online assessment. Seperti apakah itu? Saya juga tidak tahu …
Apa artinya perubahan ini?
Tahun lalu, saya mendaftar di bulan Januari 2016 dan mulai kuliah September 2016. Jadi dalam kurun waktu 6 bulan, a lot of things happened: Seleksi substansi, PK, mencoba daftar ke universitas lain, bikin visa, beli tiket, persiapan fisik dan mental, merencanakan kehidupan di negeri antah berantah … istilahnya “kejar tayang” lah ya. Nah, dengan jadwal yang berubah ini, jadinya nggak bisa “kejar tayang” seperti saya lagi. Ditambah lagi, kalau mulai kuliahnya September 2018 biasanya pendaftaran baru dibuka September 2017, dan dengan jadwal yang seperti di atas, prediksi saya bakal banyak pendaftar yang masih belum memiliki LoA, yang berefek kepada persyaratan IPK (silahkan baca dokumen persyaratannya ^^)
Di sisi lain, kalian bakal punya lebih banyak waktu untuk persiapan mendaftar. Misalnya baru sekarang kepikiran untuk mendaftar tahun ini, maka masih ada waktu persiapan sekitar 2 bulan untuk yang ke dalam negeri dan 5 bulan untuk yang ke luar negeri. Saya rasa waktu selama itu cukup untuk melengkapi syarat pendaftaran, termasuk merencanakan apa yang akan dilakukan saat kuliah dan setelah lulus.
Ngomong-ngomong perencanaan, menurut saya planning adalah salah satu hal yang penting saat proses seleksi, karena (menurut saya) semakin jelas rencana kita, maka LPDP akan lebih percaya kepada kita. Rencananya berjalan dengan lancar atau tidak, itu urusan belakangan, karena manusia hanya bisa berencana namun Allah yang berkehendak :)
(Halah gaya banget) (pake emoticon senyum lagi) (sekalian menenangkan diri)
Perubahan lain yang saya ingat adalah sertifikat bahasa Inggris untuk tujuan luar negeri tidak bisa lagi menggunakan TOEFL ITP dan hanya bisa iBT. Bedanya apa? Silahkan googling sendiri ya, karena saya juga tidak tahu ... dulu daftarnya pake IELTS sih.
Hmm, apa lagi ya?
Mungkin saya mau kasih beberapa saran aja untuk para pemirsa teman-teman yang tertarik untuk mendaftar LPDP. Bonus pizza.
🍕 Mulailah mencari kampus tujuan dari sekarang, karena meskipun kuliahnya mulai tahun depan, pendaftarannya sudah dibuka sejak setahun sebelumnya, jadi bisa menyiapkan berkas-berkas dari sekarang. Baca juga daftar kampus yang kerjasama dengan LPDP di website LPDP.
🍕 Rencana harus diperjelas, dan yang pasti harus merencanakan kontribusi untuk Indonesia.
🍕 Baca peraturan dan persyaratan yang sudah ditentukan LPDP, silahkan juga menjelajahi website LPDP yang sudah saya berikan tautannya di atas.
🍕 Ngobrollah dengan orang terdekat anda yang juga Awardee LPDP, karena menurut saya yang paling enak untuk mendapatkan informasi tentang LPDP adalah dengan cara mendengarkan pengalaman teman anda yang mengalaminya secara langsung. Apalagi kalo sambil makan atau ngopi.
🍕 Yang jelas adalah harus niat, berdoa, dan jangan panik.
🍕 Terakhir, saya selalu merekomendasikan blog teman saya yang juga saya baca saat saya mendaftar LPDP. Singkat, jelas, padat, berguna bagi masyarakat dan negara. Amiiin.
(Maaf ya kakak adik bapak ibu sekalian, yang nulis udah setengah sadar nih)
Terakhir (YES!)
Buat siapapun di luar sana yang berkeinginan mendaftar LPDP, saya doakan semoga sukses. Kalau lolos, it’s the start of a new journey. Kalau nggak lolos, your journey doesn’t end there. Either way, itu pasti yang terbaik buat kalian.
Maap yak bahasanya campur-campur. Maap juga kalo ada yang salah.
Terima kasih udah baca! Jangan lupa subscribe follow dan kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan bertanya di sini. Follow juga tumblr saya yang satunya. Bye!
Minggu lalu, saya bersama dua orang teman jalan-jalan ke kota Gloucestershire. Letaknya ada di bagian utara Bristol, sekian kilometer jauhnya (maap belum sempet riset, silakan googling sendiri ya) dan bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam naik kereta.
Ada apa di Gloucester? Hmm, dari pengamatan saya sih, kota ini lebih ke arah kota kecil gitu. Kota kecil yang indah, tenang, dan damai. Buat fans Harry Potter mungkin cukup menarik karena katedral di kota ini dulunya digunakan untuk syuting beberapa film Harry Potter, tepatnya sebagai koridor Hogwarts.
Yang menarik lainnya adalah, warehouse yang ada di dernaga di kota ini disulap menjadi rumah susun. City centre dan mall juga ada di dekat dermaga, jadi semua masih dalam jangkauan jalan kaki.
Yang lucu dari kota ini adalah masjidnya. Di Google Maps, saya dan teman saya menemukan sekitar 5 masjid yang bisa dikunjungi dengan jalan kaki. Namun dua masjid pertama yang kami temui semuanya terkunci, jadi kami tidak bisa masuk. Akhirnya bertemulah kami dengan masjid ketiga yang terbuka karena kebetulan penjaganya mau salat juga. Ternyata, masjid-masjid di sini hampir semuanya dikunci ketika tidak ada orang, jadi tidak buka 24 jam seperti kebanyakan masjid di Indonesia. ~the more you know~
Anyway, postingan setelah ini akan saya isi dengan sedikit foto-foto yang saya ambil di Gloucester yang sudah dikompilasi oleh Google Photos secara otomatis dengan background music dari OneRepublic dengan “Good Life” versi iTunes Session.
Selamat datang di postingan kedua saya di tahun 2017!
Alhamdulillah bulan lalu saya dikunjungi oleh kedua orang tua saya. Meskipun cuma seminggu, setidaknya lumayan bisa mengobati rasa rindu saya kepada rumah … terutama karena dibawakan satu koper penuh Indomie dan sebangsanya + terang bulan, rendang, dan sate :3
Seperti turis Indonesia pada umumnya, rasanya nggak lengkap ke Inggris kalo nggak ke London. Sebenarnya, bulan September lalu, kedua orang tua saya juga turut mengantarkan saya kemari dan juga sempat ke London, namun saat itu sungguh hectic karena saya berencana lapor diri ke KBRI dan saat itu sedang dikejar waktu. Akhirnya nggak sempat ke mana-mana. Jadi kali ini, kami ke London lagi dengan niat ingin naik London Eye …
… YANG TERNYATA TUTUP KARENA SEDANG MAINTENANCE. Kamvret.
Jadi kami cuma foto-foto di bawah London Eye, lalu mengunjungi tempat lain seperti Trafalgar Square dan Leicester Square. Karena trip kami cuma satu hari dan orang tua saya sudah tidak muda lagi, jadi sore hari sudah kembali ke stasiun bus.
Berikut adalah beberapa foto yang sempat saya ambil. Enjoy!
Anyway, mumpung 2017 baru berumur dua minggu, saya mau mengucapkan selamat tahun baru kepada pembaca semuanya (kalo ada). Untuk itu saya mempersembahkan London NYE Fireworks ... yang saya rekam dua minggu yang lalu:
Pada suatu Rabu pagi yang dingin, cerah, mager dan lapar, saya melakukan suatu hal yang sudah ingin saya lakukan sejak lama: membandingkan rasa Indomie bawa dari Indonesia dan Indomie yang dibeli di sini. Kata seorang teman, Indomie yang dari Indonesia rasanya lebih enak daripada yang beli di sini. Karena penasaran, akhirnya saya coba sendiri, mumpung teman-teman satu flat belum pada bangun (kan agak malu juga kalo ketahuan lagi makan dua mangkok mi instan ehehe.)
Ga penting banget ya? Ya emang. Daripada jalan-jalan ngabisin duit.
Anyway, ini dia penampakan kedua Indomie yang saya jadikan percobaan.
Kiri: Indomie dari Indonesia (akan saya sebut Indomie asli); Kanan: Indomie beli di UK (akan saya sebut Indomie UK); serupa tapi tak sama.
Bagian belakang Indomie asli (atas) dan Indomie UK (bawah). Maaf lupa ngefoto bagian belakang sebelum dibuka :v yang jelas Indomie asli mengandung MSG dan Indomie UK tidak (atau dia punya nama lain? No one really knows.) Selain itu, Indomie UK ini ternyata diproduksi di Indonesia, hanya saja dibuat khusus untuk dijual di UK dan beberapa negara Eropa lainnya.
Penampakan mi dan bumbu Indomie asli (kiri) dan UK (kanan). Mi-nya sama aja sih, yang berbeda di sini bumbu dan pelengkapnya.
Bumbu Indomie asli as you know it, ada minyak, kecap, sambal, bawang goreng dan bumbu bubuk.
Sementara itu di Indomie UK tidak ditemukan tanda-tanda bawang goreng. Yang ada cuma bumbu bubuk, bubuk cabe, kecap dan ... sesuatu ... yang berwarna putih.
Kemudian setelah foto-foto, saya rebus mi-nya secara terpisah biar bisa dirasakan bedanya (tapi sebenarnya sama aja kok) dan memasukkan semua bumbu ke dua mangkok yang berbeda (termasuk bawang goreng Indomie asli, padahal sesungguhnya saya tidak suka bawang goreng :v)
Lalu kejadian berikut ini terjadi saat saya menuangkan bumbu Indomie UK
ITU KECAP APA KARET?????
P.S. maafkan fotonya agak nggak jelas, jadi saya jelaskan sedikit: kecapnya keras dan nggak bisa keluar dari bungkusnya dengan lancar, alhasil cuma menggantung dari bungkusnya begitu. Pada akhirnya cuma sedikit yang berhasil keluar (nempel di pinggiran mangkok lagi, kan kezel.)
You already lost here, mate.
Sebaliknya, tidak ada masalah yang berarti saat proses pembuatan Indomie asli.
Indomie UK (kiri) dan Indomie asli (kanan). Perhatikan bercak-bercak cokelat di pinggiran mangkok biru. Itu adalah bekas “kecap” yang susah keluar dari bungkusnya.
Pertama, saya coba Indomie UK
Wah, garpunya melayang! Kekinian sekali!
Ya nggak lah, itu tangan saya yang megang garpunya di luar frame.
Anyway, Indomie UK ini rasanya ... agak hambar. Tidak seperti rasa Indomie yang saya ingat. Cabenya juga kurang terasa pedas. Bisa jadi karena kecap yang tidak niat atau karena apapun yang ada di bumbu berwarna putih itu, but still, kurang nendang.
Lalu saya berpindah ke Indomie asli setelah menghabiskan Indomie UK dan minum air.
Secara penampilan, nggak jauh beda sih (YAIYALAH INI MIE MAU GIMANA LAGI BENTUKNYA???)
Tapi rasanya ... meledak di mulut :’) Benar-benar Indomie sejati, bumbunya kuat, pedasnya terasa, bahkan bawang gorengnya terasa lezat (meskipun biasanya saya nggak suka). Persetan dengan MSG yang penting lidah senang perut kenyang :9
Dan tentu saja pemenang dari kontes kali ini adalah...
INDOMIE ASLI INDONESIA!!!!!! *tebar confetti isi mie*
Tinggal di luar negeri dalam jangka waktu yang lama pasti akan menimbulkan rasa kangen dengan rumah dong ya. Biar saya nggak jadi kangen-kangen amat (sekalian curcol) saya mau ngelist apa aja yang saya rindukan dari Indonesia. Postingan ini akan di-update setiap ada hal baru yang saya kangeni.
1. Rumah beserta isinya dan penghuninya (ortu, kakak, keponakan, dsb)
2. Makanan buatan emak tentunya :’
3. Terang bulan & martabak
4. Gorengan
5. Bioskop di Indonesia yang jauh lebih murah daripada di sini :’
Setelah dikejar beberapa deadline seminggu terakhir, akhirnya saya punya waktu luang untuk bernafas. Mumpung agak luang, hari ini saya memutuskan untuk nonton film Arrival yang sebenarnya nggak ada di watchlist saya, tapi karena tertarik dengan sinopsis dan trailernya, akhirnya saya masukin ke watchlist.
Untunglah posisi saya sedang ada di UK, dan karena tampaknya film ini tidak tayang di Indonesia (dan di IMDB juga nggak ada tanggal premiere buat Indonesia), saya mau berbagi pendapat saya tentang film ini. (sori yak kalo amburadul)
*ketawa setan*
Oke, semoga nggak ada spoiler.
Jadi ceritanya, suatu hari tiba-tiba ada 12 pesawat alien (yang disebut dengan Shells) yang mendarat di Bumi—well, bukan mendarat sih, tapi cuma melayang-layang beberapa meter di atas permukaan Bumi—di 12 tempat yang berbeda, dan nggak ada yang tau apa maksud kedatangan mereka. Lalu militer AS meminta tolong Louise (Amy Adams), seorang ahli bahasa, untuk membantu mereka berkomunikasi dengan alien tersebut. Louise juga akan bekerjasama dengan Ian (Jeremy Renner), seorang theoretical physicist, untuk mempelajari bahasa alien yang datang-tak-dijemput-pulang-tak-diantar-tapi-bukan-jelangkung itu.
Lalu, seperti judul berita clickbait … what happens next will blow your mind.
Kalo dikasih pembuka cerita seperti di atas, menurut kalian lanjutannya bakal gimana? Alien-alien itu akan turun dari pesawat dan menyerang manusia? Bumi akan hancur? Sang tokoh utama tahu kalo mereka sebenarnya baik, lalu ikut gugur karena mencoba menghalangi manusia menyerang alien?
No—spoiler alert—that’s not what’s gonna happen.
Malah sebenarnya, menurut saya, cerita film ini nggak fokus kepada invasi alien, tapi lebih ke kehidupan personal Louise itu sendiri. Sejak film dimulai, kita udah diajak untuk merasakan apa yang dirasakan Louise, melihat apa yang dilihat Louise, dan mendengar apa yang didengar Louise. Nggak ada adegan yang diambil dari sudut pandang orang lain. Sampe akhir pun ceritanya masih tentang Louise, bukan tentang hancurnya kehidupan manusia. Tapi menurut saya, itu adalah hal yang membuat film ini bagusnya beda dari film sci-fi yang lain.
Ngomong-ngomong sci-fi, film ini benar-benar menggunakan science untuk memecahkan bahasa yang digunakan si alien, specifically ilmu bahasa dan ilmu matematika. Kalo dibandingkan, film ini kira-kira sejenis dengan Interstellar—mengandung science namun juga memiliki akhir yang benar-benar khayal. Tapi juga masih masuk akal seandainya Tuhan berkehendak lain…
Terakhir, yang bikin saya mindblown adalah film ini meninggalkan sebuah rasa penasaran besar yang bikin gemes. Ingat rasanya waktu selesai nonton Inception lalu muncul pertanyaan, “jadi endingnya tadi si Leonardo DiCaprio ada di dunia nyata atau masih dalam mimpi?” This film gave me that kind of feeling. Jadi kalo tayang di Indonesia, tonton aja. Atau kalo nggak, ngunduh. Streaming. Whatever it takes.
Oh iya, film ini ternyata diadaptasi dari cerpen berjudul Story of Your Life yang ditulis oleh Ted Chiang dan terbit tahun 1998. Cerpennya juga menang banyak penghargaan.
Bakal masuk nominasi Oscar nih. (Terus baru ditayangkan di Indonesia setelah jadi nominasi Oscar (yha basi))
Rating? I’d go with IMDb – 8.5
Makasih udah baca!
Arrival (2016)
FilmNation Entertainment, 21 Laps Entertainment, Lava Bear Films
Directed by Denis Villeneuve
Starring Amy Adams, Jeremy Renner, Forest Whitaker, Michael Stuhlbarg, Tzi Ma
Kalo bepergian ke negara di Eropa dan sekitarnya, hal yang tidak boleh dilewatkan adalah mendatangi tempat bersejarah. Di Inggris, ada satu tempat bersejarah yang benar-benar ingin saya datangi, yaitu Stonehenge, dan kemarin Sabtu akhirnya saya berkesempatan untuk mengunjungi tempat tersebut.
Untuk mencapai tempat ini, saya naik kereta dari Bristol menuju kota Salisbury, setelah itu naik tour bus hop on-hop off yang berhenti di Stonehenge dan dua tempat lainnya.
Stonehenge sendiri berupa susunan batu-batu berukuran raksasa yang tersusun sedemikian rupa. Diperkirakan Stonehenge ini sudah didirikan sejak tahun 3000 BC (via Wikipedia). Uniknya, tidak ada yang benar-benar tahu sebenarnya Stonehenge ini didirikan untuk apa. Ada yang bilang ini dulunya makam karena di sekitarnya terdapat kumpulan tulang. Bisa jadi juga ini dulunya tempat ritual. Apa cuma orang-orang iseng terus numpuk-numpuk batu? Bisa jadi, tapi ngaps juga nyusun batu seberat itu cuma buat iseng?
Karena Stonehenge ini terletak di alam terbuka, anginnya jadi berhembus lumayan keras dan mengakibatkan suhu yang sudah rendah menjadi semakin dingin. Dan udah tau dingin gitu malah piknik di lapangan :))
Selain Stonehenge, bus tadi juga berhenti di dua tempat lain. Pertama, ada Old Sarum yang berupa reruntuhan kastil. Hmm sebenarnya dibilang reruntuhan juga kurang cocok sih, karena yang tersisa hanyalah sebagian kecil dari kastil dan lapangan rumput yang sangat luas (lagi).
^ foto panorama dari puing-puing Old Sarum
Karena cuma gitu aja, jadi saya nggak ambil banyak gambar. Tapi waktu di atas bukit itu rasanya segar dan tenang banget.
Terakhir, bus berhenti di tengah kota yang juga ada katedral. Yang saya suka dari katedral ini adalah instalasi-instalasi seni yang dipamerkan di dalamnya. Beberapa sempat saya tangkap dengan kamera.
Kolam air ini keren. Jadi di keempat ujung wadah yang berbentuk + ini, air dari wadah ini mengalir ke bawah, dan secara teknis bisa diperkirakan bahwa air yang keluar pasti akan dipompa lagi ke dalam wadah dari bagian bawahnya. Uniknya, air di dalam wadah ini benar-benar diam. Tenang. Tidak ada pergerakan sama sekali, bahkan permukaan airnya terlihat seperti kaca.
Yang menarik selanjutnya adalah sculpture ini. Jadi di atas meja putih yang panjang, terdapat hiasan-hiasan berupa kaca yang berbentuk menyerupai tetesan air yang “jatuh” ke atas. Karya ini dibuat oleh seseorang bernama Louis Thompson yang menuliskan quote berikut ini pada papan deskripsi karya seni:
‘Sailed on a river of crystal light, into a sea of dew.’
- Quote from Wynken, Blynken, and Nod by Eugene Field
a e s t h e t i c.
Setelah berjalan-jalan sampai sekitar jam 5 sore, akhirnya kami kembali ke stasiun kereta dan pulang ke Bristol. Tiba di Bristol sekitar jam 8 malam, lalu karena kelaparan dan ada yang ngidam indomie, akhirnya beberapa dari kami berkumpul sebentar dan... Indomie party!
Sumpah rasanya bahagia sekali makan indomie hangat di malam yang dingin :’)
Oh iya, buat yang penasaran biayanya, berikut rinciannya:
Kereta PP Bristol-Salisbury: £14.25 (lagi ada promo beli 3 tiket atau lebih harganya segitu)
Tour bus/hop on-hop off: £34 (ada juga yang paket harga £28 dan £15 - untuk dewasa, dengan paket yang berbeda-beda pula)
Jadi total biaya buat jalan-jalan hari itu adalah £48.25 belum termasuk biaya tak terduga. Menurut saya sih worth it kok :)
Terima kasih yang sudah mau baca, sampai jumpa di postingan berikutnya!
Di postingan sebelumnya (sepertinya) saya pernah cerita kalo kita mau berhemat di negeri orang namun tetap bertahan hidup, kita harus masak karena harga makanan di luar cukup menguras isi dompet. Nah, karena selama di rumah saya nggak pernah masak, jadi ini adalah tantangan baru buat saya. Mau nggak mau saya harus belajar masak.
Ke mana saya belajar masak? Tentu saja ke emak saya. Satu resep kunci dari emak saya adalah panaskan minyak, masukkan bawang putih, tumis sebentar, lalu... terserah. Masukin brokoli bisa, masukin wortel bisa, masukin jamur bisa, daging sapi daging ayam dan lain-lainnya bisa. Lalu kasih garam, merica dan bumbu-bumbu lain sesuai selera, tunggu sampai matang, makan!
Dan hanya dengan resep rahasia itu, saya sudah berhasil memasak beberapa makanan. Contohnya, tumis brokoli-jamur di bawah ini:
(abaikan kaki saya)
atau sesuatu-semacam-sop ini:
(oh iya, saya juga bisa menanak nasi!)
Jadi selama hampir sebulan saya berada di sini, at least kebutuhan gizi terpenuhi. ;)
Lalu karena saya bosan dengan rasa yang sama-sama terus, akhirnya saya masak sesuatu yang lain, yaitu pasta. Gara-gara liat resep mac and cheese di Tasty yang cuma butuh makaroni, susu, dan keju, jadilah saya tergoda untuk membuatnya. Waktu saya cari makaroni di toko, ternyata nggak ada, akhirnya beli penne. Lalu karena saya pingin makan sayur, akhirnya saya kolaborasi dengan brokoli. Setelah sampai rumah, langsung saya buat mac penne and cheese itu dan hasilnya...
...nggak enak.
Penne-nya undercooked jadi masih agak keras, terus cream hasil rebusan susu dan kejunya rasanya bikin mual. Surprisingly, brokolinya malah enak. Dan selain di mangkok itu, penne-nya masih sisa banyak. Daripada mubazir, akhirnya saya masak ulang dan dicampur dengan saos tomato & basil. Plus dikasih garam dan merica sedikit. Tambah keju juga. Hasilnya...
...lumayan! Jadi nggak se-eneg yang sebelumnya.
Selain itu, saya juga sedikit bereksperimen dengan menu sarapan. Iseng-iseng bikin grilled cheese sandwich hasil resep nemu di internet juga.
...dan roti ini berhasil menjadi menu sarapan saya selama beberapa hari.
Setelah beberapa menu yang berhasil saya buat dan masih bisa dimakan, saya tersadar kalo sebenarnya saya bisa masak, tapi nggak pernah masak aja. Kalo dibuat lebih bijak jadi “sebenarnya kita bisa melakukan hal yang kita kira tidak bisa, masalahnya hanyalah kita tidak pernah melakukannya.” Uwowowowowowowow. #quotes #goals #life #ngapainpakehashtagdisini
Hmm... besok masak apa ya?
Makasih udah mau baca postingan saya; ingatlah bahwa kalian semua sebenarnya bisa masak!
Sudah seminggu sejak saya update postingan di sini. (Apa dirutinkan saja ya update tiap selasa? Hmm)
Kali ini saya mau melanjutkan postingan episode satu saya tentang hal-hal baru yang saya alami di sini. And here we go...
5. Makanan
Semua orang pasti butuh makan. Jadi, makan adalah hal utama yang terpikirkan ketika saya mengatur keuangan. Ngomong-ngomong soal uang, harga makanan jadi di sini bisa dibilang cukup mahal. Bukan mahal setelah dikonversi ke Rupiah, tapi memang mahal dibandingkan kalo beli bahan mentah dan masak sendiri. Memang satu porsi makanan cukup besar dan beberapa bisa dibagi dua untuk makan siang dan makan malam, tapi tetap saja dengan harga yang sama kita bisa dapet porsi lebih besar kalo masak sendiri.
Maka dari itu, mau nggak mau saya harus masak di sini. Meskipun kemampuan masak saya hanya bisa bikin mi instan dan goreng telur, jadinya ya harus maksa. Contohnya, kemarin saya coba masak macaroni and cheese dengan resep nggak sengaja nemu dari Tasty. Tapi karena waktu belanja nggak nemu makaroni dan males cari ke toko lain, akhirnya beli penne. Lalu emak saya nyuruh pake sayur, jadi saya tambahi brokoli. Dengan resep yang sama seperti di Tasty tapi saya tambahi brokoli, hasilnya... ZONK. Penne-nya masih agak keras dan saosnya agak berat jadi rasanya eneg. Akhirnya setelah saya konsultasi ke emak, saya rebus ulang pastanya, tambahin saos tomato & basil, kasih keju mozzarella, dan jadinya... lumayan ;) at least bisa mengisi perut lah ya.
*nom*
Hari ini saya masak lagi semacam cah brokoli jamur. Alhamdulillah tidak seburuk kemarin, tapi rasanya terlalu asin karena kebanyakan kasih garam. Mungkin saya kebelet nikah.
6. Operator handphone & Internet
Selain makanan, hal penting yang saya butuhkan adalah komunikasi, dan handphone adalah yang paling penting. Di UK ada beberapa operator yang bisa dipilih—EE, Vodafone, Three, Giffgaff, Lebara, dan lain-lain—dan masing-masing pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Saya sendiri memilih operator EE, karena setelah riset yang cukup mendalam Googling, saya menemukan fakta bahwa EE memiliki jaringan yang paling kuat dan koneksi 4G yang paling cepat. Di sisi lain, paket data EE cukup mahal. £15 cuma dapat internet 2GB sebulan. Operator lain ada yang segitu udah dapet 4GB atau bahkan lebih. Tapi tapi tapi, yang beda di sini adalah bagian telepon dan SMS-nya. Dengan paket £15 tadi, selain internet, saya juga dapet telepon 500 menit dan unlimited SMS ke semua operator. Beda dengan paket di Indonesia yang murahnya cuma ke sesama operator aja.
Terus waktu beli SIM card baru, saya beli langsung ke retail EE-nya biar langsung jelas terdaftar. Bisa juga beli di minimarket, namun bedanya dengan di Indonesia adalah nomor handphone-nya tidak dipertunjukkan kepada si pembeli. Jadi nggak ada yang namanya orang kirim-kirim SMS mama minta pulsa. Selain itu, biaya yang kita keluarkan akan sepadan dengan yang kita dapatkan. Kalo belinya £5, ya ada isinya £5, nggak tergantung dengan nomor cantik atau hal lainnya.
Ngomong-ngomong pulsa, beli pulsa di sini juga enak. Bisa beli langsung di retail-nya atau ke minimarket. Yang paling mudah adalah lewat debit card. Bisa dilakukan langsung lewat HP, masukin data kartunya, beli pulsa berapa dan yak masuklah pulsa itu ke hape. Biaya yang kita keluarkan juga sesuai dengan yang kita dapatkan.
7. Contactless payment
Di sini, hampir di setiap kasir saya menemukan kata-kata atau logo “contactless payment”. Intinya adalah, kita nggak perlu gesek kartu dan masukin pin saat melakukan pembayaran. Cukup tempelkan kartu ke mesin dan yak duit kita di bank akan berkurang! Semacam kartu cash kalo di Indonesia, tapi ini digabung dengan kartu debit dari akun bank kita. Logo Apple Pay juga sering saya temui di beberapa toko. Jadi nggak ada lagi alasan kekurangan duit cash.
8. Self-service payment
Ini adalah hal yang paling saya sukai di minimarket/supermarket. Meskipun ada kasir yang dijaga oleh manusia, hampir semua toko di sini juga memiliki self-service payment. Kita tinggal scan barcode di scanner yang disediakan, liat jumlahnya di layar, masukin duit atau bayar pake kartu, ambil kembalian kalo memang ada, masukin ke kantong belanja sendiri atau beli di tempat, selesai! Nggak perlu ketemu dengan penjaga kasir dan ditawari barang-barang lain.
Meskipun begitu, orang-orang di sini tetap patuh dan tidak menyelundupkan belanjaannya. Mereka beli pisang 5 tandan, dibayarnya ya 5 tandan. Meskipun kesempatan untuk mengambil barang sangat besar, mereka tetap jujur.
***
Sebenarnya saya mau lanjutkan sampai nomor 10, tapi karena saya sudah buntu dan buku di sebelah saya sudah melambai-lambai untuk dibaca, jadi saya akhiri dulu sampai di sini. Terima kasih sudah membaca :)
Hari ini menandakan tepat satu minggu saya berada di Bristol.
Karena baru minggu pertama di Bristol (dan juga di Inggris), jadi saya masih harus beradaptasi dengan suasana yang serbabaru ini. Beberapa hal juga sering saya bandingkan dengan hal-hal serupa yang ada di Indonesia. Dan kali ini saya ingin sedikit sharing hal-hal yang terpikirkan di kepala saya selama seminggu lalu.
1. Cuaca
Yang paling terasa pertama kali waktu keluar dari bandara adalah cuaca yang sangat berbeda jauh dengan kota asal saya. Kalo di Surabaya suhunya selalu tinggi dan siang hari panas banget sampe keringetan padahal nggak ngapa-ngapain, di UK malah sebaliknya. Cuaca di sini hampir setiap saat setiap waktu dingin, bahkan nggak perlu AC buat mendinginkan ruangan. Jadi harus siap-siap baju tebal karena sebentar lagi juga musim dingin (yay, salju!).
Karena cuaca dingin itu, jadi banyak warga sekitar yang butuh kehangatan, dan kebanyakan dari mereka menghangatkan diri dengan cara merokok. Nggak cewek nggak cowok, di tempat manapun di luar ruangan banyak orang merokok. Jadi jangan banyak-banyak sambat kalo setiap sekian meter ketemu asap rokok. :v
2. Situasi di Jalan
Jalanan di kota ini, kalo saya bilang, nggak rapi. Bukan tipe jalan yang persegi-persegi, dan banyak tanjakan dan turunan. Kebetulan kos-kosan saya tempatnya agak rendah dan kampus saya ada di tempat yang lebih tinggi, jadi secara otomatis saya harus mendaki jalan menanjak yang lumayan panjang dan melelahkan (untuk saya). T_T
... oke, mendakinya nggak sedramatis yang di gif sih. But still... exhausting. Meskipun begitu, banyak orang sini yang lebih memilih jalan kaki karena suasananya memang enak buat jalan, termasuk pengendara kendaraan bermotor yang pedestrian-friendly. Yep, pengendara mobil di sini pengertian dengan orang-orang yang mau menyeberang jalan. Pernah sekali saya mau nyeberang jalan yang nggak ada lampu merah-nya, saya masih di trotoar, ada mobil melaju dari samping, eh mobil itu malah berhenti duluan mempersilahkan saya nyeberang jalan. Bisa jadi kebetulan si pengendara lagi baik sih, tapi ya at least orang sini masih waras.
Lucunya, meskipun untuk penyeberangan pedestrian sudah ada lampu merahnya sendiri, banyak orang nggak nunggu sampai lampu hijau untuk nyeberang. Asalkan mobil udah sepi atau udah berhenti, langsung aja nyeberang. :))
3. Kampus
Karena saya belum mulai kuliah, jadi saya mau cerita beberapa hal yang sudah saya alami aja dan bedanya dengan kampus saya dulu.
Pertama, masa orientasi di sini beda dengan yang di Indonesia. Mungkin udah banyak yang ngebahas di forum-forum online, tapi kali ini saya ngerasain sendiri. Orientasi di sini bener-bener “orientasi”, di mana mahasiswa undergraduate maupun postgraduate diperkenalkan kepada kampusnya tanpa senioritas (atau mungkin ada, tapi nggak separah di beberapa kampus di Indonesia). Bahkan kemarin ada pizza party untuk maba yang diadakan oleh student housing di sini. Mungkin di Indonesia bisa dicontoh biar lebih seru. :D
Kedua, kartu mahasiswa. KTM di kampus saya nggak cuma sebagai tanda kalo kita mahasiswa aja, tapi juga berguna untuk masuk ke ruangan-ruangan yang butuh akses khusus. Kampus ini ada di tengah kota, jadi berbaur dengan bangunan-bangunan sekitarnya, sehingga kalo nggak familiar maka akan terlihat seperti bukan bangunan kampus. Nah, biar nggak sembarangan orang bisa masuk, mahasiswa di sini harus menggunakan KTM-nya untuk mengakses ruangan tersebut. Tinggal tap kartunya di sensor kunci yang disediakan, dan kita bisa masuk!
Selain buat penanda mahasiswa dan akses ruangan, KTM juga bisa digunakan untuk diskon (YES!). Kampus ini bisa dibilang strategis karena berada di daerah yang cukup ramai dengan bisnis. Mulai dari tempat makan, supermarket, minimarket, department store, bank, mall, bioskop, toko baju dan sebagainya masih bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki. Karena itu, kebanyakan mereka menyediakan diskon khusus mahasiswa. Meskipun cuma diskon sekian persen, it’s still a big deal for students here.
Gif di atas adalah salah satu contohnya. Spotify di sini juga ada student discount sebesar 50%! (tapi masih lebih murah di Indonesia sih, ehehe).
4. Campus Accommodation
Selama setahun ke depan, saya akan tinggal di akomodasi kampus. Technically, bukan akomodasi punya kampus, namun kampus kerjasama dengan salah satu perusahaan akomodasi mahasiswa bernama Unite Students, dan akomodasi yang saya tempati sekarang ini khusus ditempati oleh mahasiswa dari University of Bristol.
Tempatnya lumayan bagus. Minimalis, lokasinya juga strategis, security yang bisa dibilang ketat (mau masuk pintu depan aja harus pake kunci kamar), ada common room yang dilengkapi dengan TV, biliar, vending machine, dan lain-lain. Ada laundry juga, namun harus bayar lagi tiap mau nyuci baju (hiks).
Ada dua tipe kamar di sini. Ada kamar dengan shared kitchen; jadi satu dapur dipake bersama-sama maksimal 10 orang, namun masing-masing memiliki kamar en-suite alias kamar mandi sendiri-sendiri. Jadi kalo mau boker sambil buka pintu juga bisa. Selain itu juga ada kamar tipe studio, di mana kita dapet dapur dan kamar mandi sendiri, tapi harganya jadi lebih mahal.
Sebenarnya saya pingin kamar studio biar bisa bebas masak dan bebas bolak-balik ke kamar mandi, tapi karena harganya yang agak boros dan tampaknya bikin ansos, jadi saya pilih yang shared kitchen aja. Dan sejauh ini saya tidak menyesal karena ketemu temen-temen baru dari berbagai belahan dunia. Ada yang dari China, New York, Uruguay, bahkan Afrika Selatan! Meskipun masih jarang ketemu karena jadwal masing-masing beda, I’m sure we’re gonna be friends and this will be the greatest year I’ll ever have!
Baiklah segini dulu ceritanya. Terima kasih buat yang udah baca, dan stay tuned terus buat tahu kelanjutan kemageran saya di negeri orang.
Akhirnya hari yang dinanti akan tiba juga. Insya Allah besok siang saya akan berangkat minggat dari Surabaya menuju sebuah kota di kerajaan di ujung sana, Bristol. Doakan semoga perjalanan saya lancar dan nggak ada delay ya guys ;)
Perasaan saya sekarang campur aduk. Ingin segera menjelajahi negara tujuan, namun juga tidak rela meninggalkan hangatnya kota asal. Penuh dilema :’)
Tapi ya gimana lagi, tiket udah dibeli, kampus udah jelas, tempat tinggal udah ada, yang mendanai juga udah siap. Kesempatan yang langka ini harus saya gunakan dengan baik. Semangat!
Perkenalkan, nama saya Rizaldi. Siapa saya? Kalo kalian tau siapa yang punya akun-akun ini: twitter, tumblr, facebook, dan lain sebagainya, anda pasti tahu siapa saya.
Kenapa saya bikin blog ini?
Jadi begini. Alhamdulillah saya lolos beasiswa LPDP periode pertama tahun 2016, dan insya Allah akan mulai kuliah pada bulan September 2016 di UK. Rencananya, blog ini mau saya jadikan semacam diary saya selama hidup di sana biar fans saya di Indonesia nggak ketinggalan berita. Maklumlah saya belum pernah hidup di luar Surabaya sendirian dalam waktu selama itu, apalagi di luar negeri yang jauh di sana (saya paling lama keluar Surabaya cuma ke Bandung sebulan waktu magang, itu pun satu kosan sama teman saya, huft). Jadi, saya berharap bisa ngeshare pengalaman saya selama di sana yang mungkin bakal seru. Tujuannya apa? Ya mungkin biar bisa menginspirasi, biar tahu kehidupan di sana seperti apa dari mata orang yang biasa saja seperti saya. So, I hope you all enjoy this blog!
Kenapa bikin baru? Kenapa nggak yang lama?
Karena yang lama sudah terlalu berisi hal-hal random, kalo diisi hal yang sedikit serius nanti jadinya agak aneh... meskipun yang di sini juga nggak bakal serius-serius banget sih.
Nanti isinya apa aja?
Ya bisa macem macem. Foto, video, teks, hasil nguping orang lain, curhatan, dan lain-lain yang saya lakukan selama di luar sana.
Sebenarnya blog ini buat siapa?
Sebenarnya buat seneng-seneng saya sendiri sih (ehehe) tapi yaa kalo tertarik silakan follow juga gapapa. Ini bikin tanya-jawab juga buat saya sendiri biar inget blognya harus diisi apa.
*mikir mau nulis apa lagi*
*nggak dapet ide*
*baiklah kita akhiri saja*
Oke, prolognya saya akhiri sampai di sini dulu. Doakan semoga saya konsisten ngisi blognya ya. See you later, alligator!
mager di negeri orang @mager-abroad - Tumblr Blog | Tumgag