Ada kritik, saran, pertanyaan, atau apapun itu?
👇🏽👇🏽👇🏽
https://www.nawan.my.id/ask

No title available
Keni
Claire Keane
RMH

祝日 / Permanent Vacation
Sade Olutola

#extradirty
will byers stan first human second
No title available
Three Goblin Art

pixel skylines
Cosmic Funnies
sheepfilms
dirt enthusiast
Lint Roller? I Barely Know Her
NASA
Alisa U Zemlji Chuda
Game of Thrones Daily
Mike Driver
YOU ARE THE REASON
seen from United States
seen from United States
seen from T1
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Canada

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from Portugal
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from India
seen from Canada
seen from Romania
seen from United States

seen from Taiwan
@nawan
Ada kritik, saran, pertanyaan, atau apapun itu?
👇🏽👇🏽👇🏽
https://www.nawan.my.id/ask
Dikotomi baik-jahat ala sinetron, ternyata selama ini merasuk ke dalam pelajaran sejarah. Pandangan hitam putih seperti itu mereduksi sisi kemanusiaan manusia yang sebenarnya kompleks menjadi sebatas iblis dan malaikat.
Tak usah berdebat apa kriteria baik/jahat. Bukan saja soal itu relatif dan subyektif. Terlepas dari kriterianya apa, sejarah manusia tak per
Selamat Pagi, setiap Selasa aku akan membagikan kumpulan artikel menarik yang sedang atau sudah kubaca. Artikelnya berkisar tentang isu sosial-politik yang sedang hangat. Agar tidak monoton sesekali akan aku selipkan video dari YouTube. Selamat membaca!
Akhir-akhir ini media sosial, khususnya Twitter dihebohkan dengan kabar gugatan terhadap UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Gugatan uji materi ini diajukan oleh PT Rajawali Citra Televisi dan PT Visi Citra Mitra Mulia. Kedua perusahaan ini akrab dikenal publik sebagai RCTI dan iNews TV.
Mereka menggugat Pasal 1 angka 2 UU Nomor 32 Tahun 2002 yang mereka anggap pilih kasih terhadap layanan OTT yang menggunakan internet. Selama ini UU Penyiaran itu hanya mengatur siaran TV dan Radio yang menggunakan frekuensi publik. Mereka menginginkan layanan streaming yang berjalan di atas internet milik operator telekomunikasi atau OTT untuk ikut diatur dalam UU Penyiaran. Hal ini memantik kontroversi di masyarakat.
Jika gugatan iNews dan RCTI dikabulkan, sejumlah hal negatif potensial terjadi. Salah satunya media sosial tak lagi demokratis. tirto.id - "
Permohonan RCTI-iNews ke Mahkamah Konstitusi bisa menyebabkan kerugian kepada industri kreatif. Kreativitas content creator juga akan terbat
---
Cukup waktu dua minggu bagi film Tilik untuk ditonton lebih dari 19 kali pada 31 Agustus. Film ini pun menuai pro dan kontra dari khalayak di media sosial. Pihak yang mendukung film pendek yang disutradarai Wahyu Agung Prasetyo ini menyebut akting para pemain patut diacungi jempol sedangkan pihak kontra mengkritik bahwa Tilik melanggengkan stereotip ibu-ibu tukang gosip dan perempuan yang belum menikah.
Produced by Yogyakarta-based production house Racavana Films, Tilik follows a group of women riding in the back of a pickup truck to visit t
Representasi perempuan yang beragam di film pendek Tilik menunjukkan bahwa Tilik menyajikan cerita yang melawan stereotip perempuan.
---
Komisi Nasional Perlindungan Anak atau biasa disingkat Komnas PA sukses membuat geger netizen setelah mengeluarkan surat edaran yang berisi imbauan agar masyarakat tidak menggunakan lagi kata Anjay. Ini bermula dari postingan video di YouTube dengan judul “NGOMONG ANJAY BISA MERUSAK MORAL BANGSA!!!” buatan Lutfi Agizal.
Tak cukup itu, Lutfi juga mengadukan hal ini kepada Komnas PA dan KPAI melalui media sosial. Menanggapi aduan itu, Komnas PA merilis surat edaran yang mengimbau untuk tidak lagi memakai kata Anjay.
Yth. Penjaga moral bahasa Indonesia, sebenernya kalian tahu enggak sih apa yang kalian omongin? Berikut argumen balasan menolak imbauan berh
---
Follow the stories I'm recommending on @Pocket! https://getpocket.com/@nawan95?s=invite
Parasite dan Bau Badan
Seorang teman memutuskan untuk menonton film Parasite. Oke, mungkin itu sangat terlambat, tapi masih lebih baik daripada tidak. Tentu saja keputusannya untuk menonton Parasite itu tak lepas dari hasutanku.
Bukan tanpa alasan aku memintanya menonton salah satu film garapan Boong Joon-ho itu. Bukan, bukan karena menang Oscars 2020. Tapi karena Parasite membawa isu yang sangat relevan di Indonesia. Bahkan makin relevan di situasi pandemi seperti sekarang ini.
Notion: Kawin Silang Evernote, Slack, dan Any.do
Sudah 19 hari sejak aku meng-install Notion. Menemukan Notion ini ibarat menemukan emas di tumpukan jerami bagiku. Kenapa emas? Karena baru beberapa saat menjajal aplikasi ini, aku langsung jatuh cinta dengannya. Lalu, apa itu Notion?
(apakah) Menikah Menghapuskan Hak-Hakku (?)
Kalo ada yang nanya kenapa tema ini gue tulis, itu karena ada seseorang yang ga harus gue sebutin namanya curhat soal tema yang gue bahas kemarin. Agak sedikit nyelekit memang, dan berat buat siapapun bahkan termasuk gue sendiri.
Pembahasan ini mungkin akan sedikit ada kata atau kalimat yang vulgar. Jadi buat yang memang tak terbiasa membaca kalimat-kalimat yang gue maksudkan tadi, ya jangan dibaca. Masih ngotot baca? Yaudah terserah. Yang penting ambil baiknya, buang buruknya.
Disinipun gue ga niat buat menggurui siapapun, tapi hanya berbagi apa yang gue tau, apa yang gue baca di buku atau artikel tentang hal ini. Jadi sebelum gue membahas hal ini, ada yang harus gue jelasin dulu biar ga pada nanya nanti. Tau arti Marital Rape?
Marital Rape sering disebut kekerasan seksual. Marital Rape adalah hubungan seksual antara pasangan suami istri dengan cara kekerasan, paksaan, ancaman atau dengan cara yang tidak dikehendaki pasangannya masing-masing. Menurutnya, kekerasan seksual juga masuk ke dalam kategori Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Closest person will hurt you the most. If your inner circle spread negativity to you, rasanya pasti jauh lebih sakit daripada dihujat atau dikata-katain sama strangers. Bodo amat lah ya!
Sayangnya, masih banyak banget inner circle yang spread negativity. Misalnya budaya marital rape yang udah mendarah daging. Mau bilang gapunya otak, takut kena UU ITE. Tapi emang gimana lagi, pelaku marital rape kebanyakan ngga bisa disebut manusia. Akalnya hilang. Ganti napsu semua. Napsu seksual, napsu kekuasaan, dan napsu pengakuan. Pengen kebutuhan seksualnya dipenuhi, pengen nunjukin kekuasaannya dalam rumah tangga, dan pengen diakui sebagai yang terkuat dan terbisa segalanya.
You haven’t marry yet but how on earth you dare to write abt marriage stuff? Hell-o! I haven’t die yet, but i wrote so many things abt it. The point is, i wanna share what i thought. Fuck off if you come here just for mocking or judging.
Dulu pada tahun 2019 kemarin, ada video wasekjen MUI yang menghabiskan diri sebagai seorang ustadz atau apapun itu pokoknya dia bilang sebagai wakil umat. Dengan pongahnya dia bilang begini, kalo emang suami mau. Ya istri harus nurutin. Tinggal tidur aja. Nggak sakit kok. (Tinggal cek di youtube ya buat yang penasaran).
Paham ngga? Yes! What he mean is, hey wife! If your husband wanna have sex with you, i don’t give any fuck if you are tired clean our house up, babysitting our child, or work outside. If ur husband want to have sex with you, you have no denial. Then come this case. A woman came to hospital with a bleedy vagina. She known as new mum with sewn vagina. 80% of it was broke. When the doc ask her husband, he resist to confess but in the end he said he force her wife to have sex without concerning her condition. After he got satisfied, her wife got bleeding.
Dear human please use your brain. Those case shows how marital rape still exist in our society. We know that marital rape exist throughout the world and centuries but when will we humanized our behaviour?
In 1736, Sir Matthew Hale with History of the Pleas of the Crown tell us that the husband cannot be guilty of a rape committed by himself upon his lawful wife, for by their mutual matrimonial consent and contract the wife hath given up herself in this kind into her husband, which she cannot retract (Russel, 1990).
Kebiadaban yang legal ini ternyata disadari juga oleh sebagian orang yang menjelang awal abad ke-18 mulai bikin berbagai gerakan pembebasan marital rape. Orang-orang ini merasa kalau ada hal esensial yang hilang dalam pernikahan. kemerdekaan perempuan.
Hilangnya kemerdekaan ini juga didukung sama Blackstone’s Commentary on the Laws of England tahun 1765. Salah satu sistem yang dikritisi habis-habisan adalah penyatuan suami dan istri secara hukum. Hal ini tentu menghilangkan hak-hak dasar perempuan. Jadi misalnya si istri ada luka atau kecelakaan. Segala tindakan, baik penyembuhan atau penyelamatan harus atas persetujuan sang suami.
Di saat yang bersamaan, perkosaan dianggap sebagai crime against man’s property. Artinya perempuan nggak lebih dari sekedar property atau barang yang dimiliki pria. Jadi, seandainya ada forced sex, itu nggak bisa disebut sebagai marital rape karena bukan termasuk pencurian atas propertinya sendiri (Green, 1988; Small&Tetreault, 1990). Gampangannya, ngapain juga maling barang di rumah sendiri. Nah loh?
Mau yang lebih parah lagi? Small dan Tetreault (1990) juga bilang kalau sebenarnya, ga ada hukum yang membatasi apapun yang dilakukan suami terhadap istrinya. So, husband are free to abuse their wives with little fear of penalization.
But thankfully we have progressive human who have consent with this case. Mereka datang dengan Married Women’s Property Act 1889, Pakta (KBBI: Perjanjian Internasional) ini menuliskan bahwa perempuan punya hak untuk mengatur kepemilikannya, kerja, hingga mengatur keuangannya sendiri. Kehadiran pakta ini tentu melepaskan perempuan dari jerat paksaan dalam pernikahan dong.
Salah satu sosok yang berjasa adalah Laura X yang mulai memberantas marital rape. Tahun 1974, American Civil Liberties Union mulai mengkriminalisasi tindakan marital rape. Hal ini diikuti 50 negara di tahun 93 dan di tahun 95, konferensi perempuan diadakan oleh PBB untuk memulai resolusi hak-hak wanita (X, 1999).
The point is, hm wait it will be cliche but i just wanna say that whoever we are, we never have right to enslave anyone. Marital and date rape is not part of marriage, its part of the process of turning yourself into an animal. Once you force sex or force your partner to do anything you want with no denial and discussion, you literally dig your own grave.
Terimakasih telah membaca sampai akhir. Semoga apapun bentuk kekerasan dalam rumah tangga ini benar-benar bisa hilang agar tak ada rasa trauma bagi sebagian perempuan yang mengalaminya. Maaf jika ada salah kata atau kalimat yang menyinggung beberapa orang atau bahkan pihak.
Wassalam~
Buku ini bener-bener ditulis dengan sederhana tapi kayak yang saya bilang, beautiful. Kalimat-kalimatnya banyak yang cuma pendek, nggak terlalu banyak paragraf panjang dalam satu halaman, tapi maknanya tetap dapat. Alurnya kadang lambat, tapi karena bahasanya enak tuh beneran jadi nggak terasa lambatnya, yang ada saya malah nggak pengin buku ini cepat-cepat berakhir.
—Adara Kirana, expellianmus.com
Jadi pengen baca ini. Sepertinya bagus. Padahal masih banyak yang belum selesai 🙃 Termasuk The Song of Achilles.
tapi, aku nggak cantik.
"Semua wanita itu cantik."
Kalau dipikir-pikir, kalimat itu ada benarnya, sih. Namun, nggak semua keindahan harus dihubungkan dengan fisik.
Maksudku...,
Ada seseorang yang keindahannya terletak pada caranya memperjuangkan hidupnya, pantang menyerahnya, keletihannya.
Ada seseorang yang keindahannya terletak pada caranya berusaha mencintai diri sendiri, mensyukuri hal-hal kecil dalam hidupnya, menjauhi habit buruk.
Ada seseorang yang keindahannya terletak pada caranya memperbaiki hubungannya dengan Tuhan yang telah Menciptakannya. And, that's the best kind of beauty.
And, please, don't come at me, saying, "Tetep aja, yang cantik yang dipilih."
Kita ini kenapa, sih? Begitu terobsesi dengan 'dipilih'? Baru senang kalau sudah dapat validasi orang?
Kan, hidup nggak sedangkal itu. Penerimaan manusia nggak selalu menyelamatkan. Memangnya, kalau sudah 'dipilih', sudah pasti bahagia?
Dan...
"Sesungguhnya, Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada amalan dan hati kalian." (HR Ibnu Majah no. 4143)
- Alvi Syahrin, alvisyahrin.com, 29/6/2020, @alvisyhrn
Aku (tidak) Cantik
Kalimat klise seperti "cantik sejati adalah dilihat dari hati" memang tidak ada yang salah. Sama seperti, kalimat, "semua orang cantik" yang juga tidak salah. Tapi satu kenyataan yang tak terbantahkan. Kecantikan fisik yang mempunyai dampak dan nilai sosial nyata.
Aku merekomendasikan majalah National Geographic Indonesia edisi Februari 2020. Bisa dibeli versi digital di Gramedia Digital. Mungkin nanti akan aku bahas di sini. Tunggu, ya.
jangan bunuh diri.
Rasanya, semua buntu, ya? Dan, sekarang, kamu merasa jadi seperti seonggok beban tak berguna yang terus terluka, kan?
As cliché as it sounds, please, bertahan. Kalau kamu nggak mampu lagi bertahan untuk dirimu sendiri, at least, bertahan untuk Allah,
yang telah menciptakanmu penuh hikmah, memberimu privilege hidup; yang masih setia memberimu oksigen bahkan di saat kamu sedang lupa kepada-Nya; dan…
yang menghendakimu agar membaca tulisan ini.
Bukankah ini juga tanda yang kamu cari-cari? Doesn’t it mean you still matter?
Insyaallah, nanti, di waktu yang tepat, Allah akan menganugerahimu kematian yang tenang nan indah, sebab…
Di hari-hari yang susah untuk bertahan ini, kamu tetap bertahan untuk Allah, menjaga dirimu dari menyakiti diri sendiri, menjauhi dirimu dari jalan-jalan yang salah. Sungguh, Allah menyaksikan usahamu.
Dan, surga mahal harganya, mungkin, rasa sakit ini adalah tabungannya.
Now, please reach out. And, keep praying and hoping and fighting and struggling and waiting, sampai kematian yang baik datang sesuai waktunya.
- Alvi Syahrin, @alvisyhrn, 2/7/2020, alvisyahrin.com
*
Please share this. Kita nggak tahu siapa di antara teman kita yang lagi feeling suicidal today. Mungkin, tulisan ini akan membantu mereka… or, maybe you.
Bertahanlah!
Dear self, you’ll be happy again
(jangan) Bunuh Diri
Untuk meminta mereka menyerahkan ilusi atas kondisi mereka sama saja meminta mereka menyerah atas kondisi yang butuh ilusi.
—Karl Marx
Bunuh diri adalah salah satu isu sensitif. Dibutuhkan common sense dan kehati-hatian dalam membicarakannya. Ada beberapa hal yang harus digarisbawahi dalam postingan di atas.
Pertama, "bertahan" bukan jawaban. Bunuh diri bukanlah hal sederhana yang bisa selesai dengan kata "bertahan". Masalahnya di sini, setiap orang berbeda dalam menghadapi masa depresi. Oke, ada orang yang bisa "bertahan" di masa-masa kelam dalam hidupnya. Tapi ada banyak orang yang tidak.
Kedua, hak untuk hidup BUKANLAH privilese. Sekali lagi, BUKAN PRIVILESE. Hak untuk hidup harus dimaknai sebagai bagian fundamental dari hak asasi manusia.
Dear Lintang
Dear Lintang, kamu tidak salah. Orang tuamu juga tidak salah. Kalian sama-sama butuh kuota dan pulsa. Orang tuamu marah, saya yakin bukan karena kemauannya, tapi refleksi betapa berharganya pulsa untuk aktivitas keluarga.
Kalian—dan mungkin kita—adalah korban sistemik dari tidak adanya visi soal pendidikan bangsa yang paripurna. Orang-orang nir-privilège seperti kita ini harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan kesempatan layaknya mereka yang sanggup membeli pulsa—yang nominalnya bahkan lebih mahal dari akumulasi biaya makan sebulan kita. Soal otak, dari Sabang sampai Merauke, anak-anak Indonesia punya kapasitas yang sama. Yang membedakan hanya soal kesempatan. Ini fakta dan sayangnya terus begini dari dulu.
Di negeri ini, harapan pun harus dibeli. Ketika orang-orang tak lagi memikirkan kaum-kaum seperti kita, Lintang. Mereka lebih sibuk dengan selebrasi dan eksistensi. Kita benar-benar beranjak dengan kaki-kaki sendiri. Berat, memang, karena keadilan itu mahal. Menuntut adil bagi rakyat kecil saja bisa dihakimi nyinyir oleh mereka-mereka yang tidak pernah merasakan pahitnya kehidupan.
Tapi, Lintang, kamu jangan memarahi ibumu, bapakmu. Mereka tak punya kuasa memberikan akses kemudahanmu untuk sekadar belajar. Pun jangan juga menyalahi penguasa karena bisa-bisa kita yang dipenjara.
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5096863/cerita-siswi-sd-kabur-gegara-habiskan-pulsa-ibu-untuk-tugas-daring?fbclid=IwAR38rw84Hl2t1kxakq90ed30XNSauWKw3WtrCRneuu7wHLMR1KgQjfIFgsM
Bukan rahasia lagi jika fans K-Pop punya segudang stigma. Mereka tak jarang dilabeli sebagai gila, irasional, obsesif, dan masih banyak lagi. Hingga saat mereka ramai menyerukan kampanye #BlackLivesMatter, banyak orang terkejut.
Selama pekerja seks masih ditempatkan sebagai penyakit masyarakat, musuh agama, dan segala predikat buruk lainnya, maka selama itu juga harapan mereka untuk hidup dengan lebih baik akan selalu terbentur tembok tebal nan tinggi.
Wabah mengaburkan masa depan para pekerja seks di Indonesia. Karena tak bisa berharap pada pemerintah, mereka giat berserikat dan kini menya
Kala wanita menutupi diri dengan hijabnya, kala itu juga laki-laki mencintai dengan imannya. Kala wanita memamerkan diri dengan raganya, kala itu juga laki-laki akan mencintai dengan nafsunya. Tentunya semua berangkat dari masing-masing bagaimana cara menjaga, dan pada dasarnya juga setiap kita harus tau kewajibannya. Ada yang menunduk dan ada yang menutup, luar dan dalamnya, hati dan raganya.
After, Bad boy, dan Stock character
Bad boy is a roguish, good-looking macho, often a womenizer.
Emosi yang tersulut hanya karena anjing eksis dan bertingkah laku alami, seperti menggonggong dan menjilat, adalah sebuah kebodohan.
Kamu tergolong suka dengan anjing atau takut anjing? Atau malah membenci anjing? Apakah membicarakan perihal anjing di Indonesia berarti mem
Kenapa di Perselingkuhan Yang Lebih Sering Disalahkan Cuma Perempuan 'Pelakor'?
Emangnya cowok bakal diem aja pas 'dicuri' sama cewek lain dan cuma bisa pasrah? Kan enggak coy. Video viral Jennifer Dunn dilabrak menunjuk
Telah dibaca sekian juta kali
Sembari tergelak, Putu berkata sinis, bahwa untuk menjadi pengarang populer tidak perlu menulis memakai EYD dan bahasa Indonesia yang benar. Cukup kata “elo-gue” dan berbagai macam bahasa gaul lainnya maka persaingan pasar akan dengan mudah ditembus.
—Memburu Label Best Seller - Tirto.id
Saat pergi ke toko buku terutama di area rak fiksi, kita bakal mendapati novel dengan sampul warna-warni dengan label “Telah dibaca sekian juta kali” yang terpampang cantik di sampul bukunya. Kita akan menemukan mulai dari penerbit lokal hingga penerbit mayor menerbitkan buku dengan label itu. Kalau kita cermati, novel tersebut umumnya bergenre fiksi remaja yang sebelumnya pernah terbit di platform menulis online asal Kanada, Wattpad.
Sebenarnya, fenomena ini serupa dengan fenomena buku bestseller. Dimana, tujuan penyematan label “Telah dibaca sekian juta kali” di sampul buku ini adalah bentuk dari cara penerbit agar penjualan buku laku keras. Apalagi mengingat buku dengan label itu biasanya pernah terbit di Wattpad dan sebagian besar pengguna platform Wattpad di Indonesia adalah remaja—yang mana sesuai dengan target buku.
Seperti fenomena buku bestseller. Pertanyaanya adalah apakah novel dengan label “Telah dibaca sekian juta kali” dapat menunjukkan bahwa novel itu bagus?