Cerita, Mimpi, dan Cita Yang Berlalu
Tetiba, pada sebuah obrolan yang berlangsung 3 jam sebelum aku menulis ini. Ada sebuah Cerita, Mimpi, dan Cita yang bisa dibilang sudah berlalu. Dan, bisa dibilang aku sudah menguburnya. Membiarkan semua itu berlalu begitu saja.
Sebuah cerita dimana aku selalu bermimpi dalam citaku yang ingin menjadi seorang Musisi, Penulis, Photographer (memiliki studio photo), Sutradara, Ustad, dan yang utama kudu Ners Spesialis juga. Semua itu dimulai pada saat aku melanjutkan studi Profesi Ners. Kala itu aku memang telat setahun. Seharusnya, pasca lulus S1 di 2012 aku langsung melanjutkan Profesi. Tapi, bertabrakan dengan Papah yang juga sama sedang melanjutkan S1-nya.
Waktu kosong yang tercipta pasca Magang membuatku mengisi segala cita itu. Bermodalkan kamera DSLR butut, aku mulai merangkai citaku menjadi Photographer. Saat itu aku memang tergila-gila dengan dunia ini. Cicilan alat-alat studio pun mulai aku kumpulkan. Dan bermodalkan kamera butut itu, aku mulai mencipta photo-photo dan film pendek dokumenter dengan durasi tak sampai 5 menit. Mengabulkan cita menjadi sutradara, penulis, plus Photographer. Seru. Malah pernah ada mimpi membuat pameran photo. Saat itu.
Diantara itu, aku juga mulai iseng membuat back sound dengan mencipta lagu dari karya terdahulu dan baru. Ceritanya sok-sokan jadi Musisi. Eaaa. Tapi, didalam semua itu, aku mengisi jiwa dengan belajar agama. Ceritanya. Entah kenapa, aku begitu tergila dengan Sufi kala itu. Dan rasa ingin menjadi ustad juga membubuinya. Sombong karena banyak hafalan hadis yang kuingat kala itu.
Namun, dari semua cita itu. Ada cita yang realistis yang harus aku wujudkan. Melanjutkan gelar. Pasalnya, menjadi Perawat dengan hanya gelar S1 waktu itu tak cukup. Aturan baru mewajidkan harus Ners. Ini alasan kenapa aku hanya bisa Magang saat itu. Mimpi pun terwujud. Aku ingin menjadi Ners dengan konsentrasi Keperawatan Jiwa. Ya, mimpi seorang manusia diusia 22 tahun. Tumplek blek. Aku pun mulai mencari info. Semua kampus tak ada yang membuka diawal tahun 2013. Aku harus menunggu sampai akhir tahun nanti. Oke.
Ditahun itu, jujur aku sangat menikmatinya. Mewujudkan semua cita dan mimpiku. Aku ingin semua cita dan mimpi itu menjadi bagian dari hidupku. Bahkan, ada cerita dimana aku terbuai untuk lebih memilih melanjutkan S2 ketimbang Profesi Ners. Aku tergiur S2 Hukum Kesehatan. Sebuah kampus di Kota Semarang pun menjadi impian.
Tetapi, yang namanya mimpi ya hanya mimpi. Ketika aku sadar, semua kembali pada setelan pabrik. Fakta membuktikan, aku hanya dibolehkan orang tua waktu itu untuk melanjut Profesi. Dan S2, hanya menjadi mimpi kala itu. I'm okay.
Dan fakta yang lebih memilukan. Ternyata Profesi Ners sesibuk itu. Semua cita dan mimpi pun runtuh perlahan. Tak ada waktu untuk aku menulis, motret, bahkan untuk sekedar bermain gitar. Hidupku dihabiskan 8 bulan di RS. Kamar kost pun cuman dijadikan gudang. Gila! Buku-buku Novel, kitab-kitab agama nganggur berdebu. Kamera teronggok di lemari. MS Word pun tak lagi bertuliskan puisi, prosa, dan Novel, tapi LP dan Askep. -_-.
Alasan utama karena aku harus berpindah RS ke RS, Puskesmas ke Puskesmas, Kampung ke Kampung untuk stase Komunitas dan Keluarga. Dan ending dari semua itu, mimpiku untuk melanjutkan konsentrasi Keperawatan Jiwa diakhir stase nanti gugur. Dari semua Ilmu Keperawatan, ada satu yang paling membuatku terlihat bodoh. Dari jaman S1 dan Magang pun sama. Yaitu, Keperawatan Anak.
Ada kala dimana aku dimaki abis-abisan oleh Perawat Senior jaman Praktik Klinik di S1 dan saat Magang pasca lulus S1. Perkaranya kecil. Hanya soal dosis obat dan sebuah teori yang nggak bisa aku jawab. Dan ketika di Profesi. Semua ingatan itu mendidih matang. Balas dendam pun teruji. Aku tak mau terlihat bodoh. Ketika sebuah pertanyaan sama membuih. Kujawab dengan gigih. Kesombongan yang tercipta pun malah membuatku jatuh cinta kala itu. Diakhir stase aku malah memilih konsentrasi Keperawatan Anak. Dan menjadi penerus di studi selanjutnya. Bangke!
Berjalannya waktu, aku mulai membangun kembali Mimpi dan Cita itu. Namun, jeda yang pernah melekat malah membuatku berfikir realistis. Kegagalan pasca Profesi dan seterusnya malah membuat Cita-cita baru dilini masaku. Kini, semua Cerita, Mimpi, dan Cita itu sudah berlalu. Sebagiannya hanya menjadi obrolan bersama kawan yang ikut didalam setiap bab-nya.
Tak ada gelar Ners Spesialis Keperawatan Jiwa (Sp.Kep.Jiwa) atau Magister Hukum Kesehatan (M.HKes) dibelakang nama seperti Mimpi dan Cita itu. Dan tak ada cerita bekerja di RSJ atau Dosen Keperawatan Jiwa atau menjadi Ustad, Musisi, Penulis, Sutradara, atau Photographer yang punya Studio Photo. Tapi, diwaktu ini aku hanya menjadi seorang Guru di SMK Kesehatan yang pernah bermimpi dan bercita setinggi langit. Plus, mantan Perawat PICU-NICU. Wakakakakak....45U