Kemarin, setelah selesai menonton series Adolescence, aku jadi mempertanyakan banyak hal mengenai istilah-istilah yang baru pertama kali kuketahui dari film tersebut. Salah satunya adalah arti kata adolescene itu sendiri. Rupanya, dalam Bahasa Indonesia, adolescence disebut sebagai masa remaja. Yaitu tahapan perkembangan kehidupan seseorang yang terjadi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa.
Lalu, pada rentang usia berapa tepatnya masa adolescence berlangsung? Berdasarkan Organisasi Keseharan Dunia (WHO), secara umum rentang usia manusia diklasifikasikan menjadi 4, yaitu :
Adolescents (remaja) : 10–19 tahun
Youth (pemuda/pemudi) : 15–24 tahun
Young people (kaum muda) : 10–24 tahun
Namun, meskipun secara umum masa adolescence berlangsung pada rentang usia 10-21 tahun, kapan mulainya masa adolescence dan seberapa lama berlangsungnya, berbeda-beda pada setiap orang. Tergantung pada faktor biologis dan psikologis individu itu sendiri, serta konteks sosial dan budaya.
Jika dicermati, masa adolescence memang memiliki rentang usia yang cukup panjang. Namun sebenarnya masa adolescence dapat dibagi menjadi tiga tahapan. Setiap tahapan memiliki ciri-ciri tersendiri.
Tahap pertama, masa awal Remaja. Terjadi dalam rentang usia 10–13 tahun. Pada masa ini, pubertas mulai terjadi. Ditandai dengan menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. Selain pubertas, pada masa ini sesorang mulai mengalami perubahan bentuk tubuh, seperti meningkatnya tinggi badan, tumbuh rambut di area tubuh tertentu, perubahan suara, dsb. Kesadaran diri pun meningkat alias mulai memperhatikan penampilan.
Tahap kedua, masa remaja tengah. Terjadi dalam rentang usia 14–17 tahun. Pada masa ini, emosi seseorang mulai kompleks. Mulai muncul perasaan ingin diakui dan ingin mandiri. Hubungan dengan teman sebaya menjadi sangat penting. Kemudian mulai mempertanyakan nilai-nilai keluarga dan masyarakat. Selain itu, minat pada hubungan romantis meningkat.
Tahap ketiga, masa remaja akhir. Terjadi pada rentang usia 18–21 tahun). Pada masa ini, identitas diri mulai terbentuk lebih jelas. Seseorang pun mulai mampu berpikir logis dan merencanakan masa depan. Jadi, relatif lebih mandiri secara emosional dan sosial.
Dari penjelasan-penjelasan diatas, kita bisa menyimpulkan bahwasanya masa adolescence adalah periode transisi yang kompleks dan penting dalam kehidupan seseorang. Mengapa? Karena di masa ini sesorang menghadapi perubahan besar yang akan membentuk kepribadian, nilai, dan tujuan hidupnya. Pada masa ini, dukungan dari keluarga, lingkungan sosial, dan pendidikan yang tepat sangat penting untuk membantu remaja berkembang dengan sehat secara fisik, mental, dan emosional. Terutama peran orang tua dan guru yang sangat penting dalam mendampingi proses tumbuh kembang mereka. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua dan guru
1. Dengarkan dan hargai pendapat anak. Biarkan mereka mengungkapkan pikiran dan perasaan tanpa langsung dihakimi. Tunjukkan bahwa pendapat mereka dihargai, meskipun belum tentu disetujui. Contoh : jika anak ingin memilih jurusan tertentu, dengarkan alasannya dulu sebelum memberi tanggapan.
2. Bangun komunikasi terbuka. Ciptakan suasana aman untuk berdiskusi tentang topik-topik sensitif seperti pergaulan, cinta, atau tekanan sosial. Gunakan pendekatan empatik, bukan marah atau mengancam.
3. Tetapkan batasan yang jelas tapi fleksibel. Anak remaja butuh kebebasan, tapi tetap perlu bimbingan dan batasan yang sehat. Libatkan mereka dalam membuat aturan, agar mereka merasa dilibatkan dan dihargai.
4. Jadi contoh yang baik (role model). Remaja memperhatikan sikap dan tindakan orang dewasa di sekitarnya. Guru dan orang tua perlu menunjukkan integritas, tanggung jawab, dan komunikasi positif.
5. Dukung minat dan bakat anak. Ajak anak mengeksplorasi minat dan potensi diri mereka, tanpa dipaksa mengikuti keinginan orang tua atau guru. Apresiasi usaha, bukan hanya hasil.
6. Bantu dalam pengambilan keputusan. Jangan langsung memberi solusi. Bimbing anak dalam menimbang risiko dan dampak keputusan mereka. Ajari cara berpikir kritis dan mandiri.
7. Waspadai dan tanggapi masalah emosional. Remaja rentan mengalami stres, kecemasan, bahkan depresi. Jika anak menunjukkan perubahan drastis dalam perilaku, segera ajak bicara atau hubungi tenaga ahli (psikolog / konselor).