Lampion dipuja, ibadah terusik
Setelah sekian lama berkeinginan ikut menyaksikan Waisak di Candi Agung Borobudur, akhirnya semalam saya berkesempatan juga pergi. Sebenarnya saya tak asing dengan Waisak karena waktu SMU dulu saya selalu ikut merayakan di sekolah karena bertugas ikut paduan suara. Intinya? Ya sembahyang!
Sebagai pusat Buddha di Indonesia, Borobudur tentu menjadi sasaran utama banyak orang untuk ikut melihat seremoni atau perayaan hari-hari besar Buddha yang dilangsungkan di sana. Waisak adalah kegiatan terbesar yang dirayakan di sana di candi Buddha terbesar di dunia itu.
Setiap tahun Waisak dirayakan secara khusyuk dan khidmat layaknya Galungan di Bali, shalat Ied di hari raya Idul Fitri atau Jumat Agung di gereja-gereja yang semua dilakukan secara keagamaan. Bedanya, Galungan atau hari besar lain di Bali boleh dikunjungi oleh umum namun dalam penjagaan ketat para Pecalang (polisi adat Bali). Hari besar Islam dan Kristen biasanya tidak begitu terbuka atau dijadikan tujuan wisata. Waisak punya daya tarik yang luar biasa sekali khususnya tahun 2013 ini dan yang menjadi 'pelakon' paling ditunggu adalah sang LAMPION yang siap diterbangkan setelah acara ibadah.
Tahun 2012 lalu, banyak sekali yang datang ke Candi Borobudur dan memang purnama dan lampion menjadi pemandangan paling indah, ya setidaknya itu yang ditulis sejumlah orang yang hadir pada saat itu. HHal ini pula yang membuat banyak orang berbondong-bondong untuk datang ke Magelang demi menjadi saksi lampion itu mengangkasa. Namun yang terjadi kemudian di luar harapan banyak orang, hujan deras mengguyur kawasan Borobudur dan lampionpun ditiadakan. Itulah ringkasan singkat yang terjadi semalam.
Ada kegelisahan dalam diri saya ketika ritual keagamaan menjadi sebuah objek wisata bagi banyak orang. Dari apa yang saya saksikan di Borobudur tadi malam, sungguh miris dan prihatin melihat ulah banyak pengunjung yang sangat tampak sekali capek-capek datang hanya untuk lampion tanpa menghiraukan makna Waisak yang sebenarnya. Mereka seakan lupa bahwa event itu adalah sembahyang, bukan gaya-gayaan dan sama dengan ibadah agama lain yang harus dihormati setiap rangkaian acaranya.
Celutukan-celetukan kecil di pelataran barat Borobudur sepanjang upacara sungguh menyata hati. "Duh, ujan lagi. Bisa batal nih lampion.." atau "wah, tau gini ga dateng ya. udah bela-belain tapi segini doang" atau "kapok ah, ga lagi-lagi. Syukur banget si X ga jadi dateng.." dll yang senada. Saya yang tadi malam berangkat sendiri sebenarnya hendak menegur namun saya pikir buat apa ya, harusnya orang-orang tersebut sudah cukup bijak untuk tidak sembarang ber-statement.
Penumpukan massa di pintu masuk kawasan candi ataupun di pelataran candi memang luar biasa padat. Kebanyakan sudah menyiapkan diri dari memesan tiket, pesan hotel dan penginapan, sewa kendaraan apalagi alat-alat perekam dan foto. Semua seakan berlomba (dengan beringas) untuk bisa mengabadikan momen yang mereka sasar. Saking buasnya, tak ada lagi sense dan kepekaan terhadap konteks adanya acara tersebut, tak ada lagi kesantunan dengan para umat yang ke sana untuk beribadah dan tak ada lagi keseganan untuk mengusik. Ya, bagaimana tidak? Mereka sangat ambisius mendapatkan gambar-gambar mereka (yange ntah untuk koleksi atau eksis semata) dan lupa akan etika. Flash menyala, ngobrol, atau menyeruduk di batas ibadah bahkan tidak lagi segan ketika ada bhiksu yang meminta mereka untuk tidak mengganggu ibadah. Tak ada empati lagi jika hal itu dilakukan pada mereka. Bagi saya, keterlaluan sekali!
Waisak itu merupakan rangkaian ibadah yang bukan sebentar. Dari pengambilan api abadi di Mrapen hingga air suci di Temanggung. Buat yang ga tau peta, jaraknya itu ga ada yang dekat dari Magelang. Setelah air suci dan api abadi ini diinapkan di Candi Mendut (sekitar 2 km dari Candi Borobudur), keesokan paginya akan dibawa dalam kirab menuju Candi Borobudur dengan berjalan kaki. Tidak diperkenankan bicara dan barisan kirab ini mengular untuk kemudian tiba di Borobudur. Setelah itu akana da ibadah di tenda masing-masing umat. Saya sempat mengikuti satu khotbah di tenda Walubi yang cukup menarik karena bhiksunya asyik sekali. Malamnya baru semua umat akan berkumpul di pelataran Borobudur untuk doa bersama.
Tadi malam cukup mengecewakan memang karena Menteri Agama yang akan memberi kata sambutan datangnya telat sehingga ketika dia datang para hadirin bersorak "huuuuu...". Panitia justru meminta para hadirin untuk tetap tenang dan tidak bersuara. Disusul dengan kedatangan Gubernur Jawa Tengah yang kemudian pada kata sambutannya sempat berkampanye halus mengingat hari ini ada Pilgub Jateng. Lengkaplah dagelan-dagelan aneh ini dan hadiri hanya bisa bertahan di bawah derasnya hujan. Panitia saya rasa cukup sabar dengan semua yang terjadi dan berusaha agar acara tetap berjalan khusyuk (namun gagal jua).
Saya melewatkan Pradaksina (berjalan mengelilingi candi Borobudur tiga kali) karena memang sudah terlalu ramai di sisi barat candi. Saya prihatin dengan terganggunya ibadah yang semestinya khusyuk namun terus terang, perayaan Waisak semalam berisik sekali dengan banyaknya suara. Saya memutuskan untuk keluar dari pelataran untuk kembali ke Jogja.
Sekembalinya saya dari Muntilan, saya berusaha membagi apa yang saya alami di Borobudur. Tak sedikit yang juga mengecam di twitter. Ternyata banyak juga yang menyayangkan situasi semalam. Setelah saya meng-update, saya menemukan ada sebuah blog (dari salah satu umat Buddha kalo ga salah) yang mengangkat tentang komersialisasi Waisak. Saya sangat setuju dengan apa yang ia tuliskan namun sungguh saya miris dengan komentar yang malah bersyukur tidak hadir karena tidak tega. Bagi saya konyol saja itu. Jika kita santun dan bijak, memiliki kepedulian untuk melihat bagaimana sebuah ritual keagamaan, kenapa tidak? Apakah ketertarikan Anda hanya sebatas lampion? Tidakkah kita ingin melihat sebuah prosesi yang terjadi setahun sekali? Tidakkah kita ingin menghargai perbedaan? Lantas bagi komentator yang merasa 'beruntung' tidak datang setelah membaca blog tersebut, saya malah bertanya apa motivasi Anda jika hadir di sana?
Saya tidak kapok sedikitpun karena tujuan saya bukan sekedar lampion atau jalan-jalan, atau punya foto bagus biar lebih eksis. Tidak sama sekali! Saya belajar banyak di Bali bagaimana sebuah acara agama bisa kita hargai karena kekhusyukannya, bukan kerena kita bisa ada di sana lantas jeprat jepret-upload-eksis! Banyak sekali acara agama di Bali yang saya hadiri dari perkawinan, ngaben, potong gigi, Melasti dll. Kita diharuskan berpakaian sopan, putih, dengan sarung dan kain pinggang. Saya pernah tidak membawa pakaina seperti ini dan mereka malah meminjamkan dengan senang hati. Mereka tidak 'pelit' untuk membagikan budaya dan ritualnya namun sebagai tamu tentu kita harus menghormati, pun dengan Waisak di Borobudur.
Buat siapa saja yang kemarin sudah hadir dengan berbagai effort untuk menyaksikan 'lampion', janganlah kecewa. Ada lampion juga di Singkawang sana kalau berminat. Bukan saya sok ngajarin sampean, tapi sebagai makhluk berbudi tentu kita harus bisa meletakkan konteks kegiatan pada tempat sebenarnya. Kecewa boleh tapi kecewa selalu berakar pada harapan yang terlalu tinggi dan tidak tepat rasanya lampion itu menjadi sebuah keutamaan perayaan Waisak.
Semoga kita tidak kapok dan semoga semua makhluk berbahagia
Lepaskan keserakahan akan kesenangan. Lihatlah bahwa melepaskan dunia adalah kedamaian. Tidak ada sesuatu pun yang perlu kau raup, dan tidak ada satu pun yang perlu kau dorong pergi. ~ Buddha ~
Selamat Hari Waisak-
SADHU SADHU SADHU













