Semoga bahagiaku tidak pernah menyakiti hati siapapun dan bahagia mereka jangan sampai meninggalkan rasa iri dalam diriku :)

shark vs the universe
Mike Driver
RMH
The Bowery Presents

No title available
Claire Keane
official daine visual archive

Game Changer & Make Some Noise

bliss lane
h

#extradirty
No title available
Game of Thrones Daily

izzy's playlists!
No title available
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

ellievsbear

pixel skylines

titsay
Sweet Seals For You, Always
seen from Nepal
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Brazil

seen from United Kingdom

seen from Philippines

seen from Lebanon
seen from United States
seen from Canada
seen from Iraq

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Australia

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China
@sipolarbear
Semoga bahagiaku tidak pernah menyakiti hati siapapun dan bahagia mereka jangan sampai meninggalkan rasa iri dalam diriku :)
Satu Tahun Jadi Ibu gen Z
Masih hangat dalam ingatan bagaimana saat transisi peran menjadi ibu baru. Menguras energi, emosi, jam tidur, dan airmata. cukup speechless mendengar berbagai komentar entah tentang ASI, BB bayi, metode melahirkan, dll. Disaat diri sendiri berusaha enggak merisaukan soal itu. Sebab sedari awal mengetahui kehamilan, langkah-langkah pertama yang dilakukan bersama pasangan adalah membenahi konsep-konsepnya terutama sebagai seorang muslim. Supaya nggak mudah terdistraksi sama hal-hal yang nggak perlu dipusingkan seperti perbandingan BB, TB, dll. Yang dilakukan oleh orang lain.
Komentar akan hal itu akan tetap ada, tapi prinsip atas konsep yang dipegang ternyata berpengaruh atas respon kita terhadap komentar itu. Kita jadi cukup bisa mengendalikan diri menerima berbagai komentar.
Saat itu jadi mudah sekali menangis, selain dipengaruhi hormon, sebagai ibu baru, sering dianggap belum bisa apa-apa dan nggak dikasih kesempatan untuk memulai mempraktekkan sedikit ilmu yang dipelajari bersama suami yang sudah mulai disiapkan jauh hari walau hanya sedikit. selalu serba salah atas apa-apa yang dilakukan. Perkara menggendong M-shape yang dianggap nggak sesuai standar masyarakat sampe harus sembunyi-sembunyi. Atau cara masak MPASI yang dianggap terlalu ribet. Apalagi setelah persalinan seluruh netra terpusat pada bayi hingga lupa ada sosok ibu baru yang perlu juga diperhatikan.
Sempat merasa nggak punya teman dan merasa kehilangan diri karena harus membersamai bayi 24 jam, Sebelum akhirnya sadar kembali bahwa menikah dan menjadi ibu adalah menemukan kesejatian peran diri di muka bumi. Bahwa inilah yang Allah maksud kenapa kamu diciptakan sebagai perempuan dan ibu. Sebab, regenerasi itu nyata. akan ada generasi-generasi pembaharu yang lahir dari rahim mu.
Sangat menikmati peran ibu sepaket aktivitasnya dengan kesadaran penuh yang insyaaAllah memiliki tujuan. Dan semua orang sepakat kalo jadi ibu itu lelah. Tapi yang bikin lebih melelahkan adalah komentar orang yang selalu nyoba buat runtuhin parenting yang dibuat atas kesepakatan kita dengan pasangan. Masalahnya kadang nggak sekadar komentar, tapi maksa.
Walau gak logis atau gak masuk akal, beberapa kekeh bahwa mitos dan jaman dulu harus jadi standar. terlalu banyak bibir mengadili berdasar pengalaman, padahal ilmu makin berkembang. Sebagai ibu baru tentu butuh saran dan nasihat, tapi pendapatnya butuh didengarkan. berikan kesempatan pada ibu untuk belajar.
Disisi lain harus tetap mengedepankan kedewasaan berfikir. sebab ibu lentera peradaban, tak boleh terpancing apalagi meluruhkan seluruh emosi yang menjadi kerikil kecil melalui sosial media. Nggak bijak rasanya. Hanya ada dua pilihan bagi ibu saat itu, diam atau berani meluruskan pemikiran.
Kadang kewalahan begadang. Belum tangisan bayi yang kadang nggak mudah dimengerti apa penyebabnya. Malam jadi siang, siang jadi malam. lelah, marah, hingga bergulat dengan diri sendiri supaya bisa meredakan emosi. Walau pada akhirnya kadang cosplay juga menjadi monster.
Managemen emosi pada ibu yang kadang nggak terkendali memang jadi PR untuk diri. Bahkan sampai hari ini diri sendiri masih tertatih meregulasi itu. Yang pada akhirnya menyadarkan kalo mengasuh nggak cukup hanya dengan ilmu parenting dan support sistem orang terdekat. Tapi ternyata butuh menjadi ibu yang tenang.
Sebab sepaham apapun ibu terhadap teori parenting, akan berantakan dan gagal Jika saat menyelami peran nggak tenang dan diliputi emosi. Ibu akan mudah marah saat bayi menangis. PR untuk diri sendiri.
Dan ketenangan itu nggak akan didapat kalo nggak dekat dengan yang memberi ketenangan. Maka perlu terus menjaga koneksi dengan Allah. Sebab ketenangan lahir dari kedekatan antara hamba dan pencipta. Inilah yang menjadi kunci. Hanya mengingat Allah hati menjadi tenang. Ar-rad. Allah yang menjadi backingan dan support sistem paling kuat.
Jika menyandarkan support sistem utama pada suami, orangtua, keluarga, mereka itu manusia seperti kita. Yang fitrahnya lemah dan terbatas. Kadang bisa saja lupa, atau tanpa sadar mereka bikin kita kecewa seperti halnya kita sendiri yang tanpa sadar mungkin membuat kecewa orang lain. Maka Allah lah yang layak menjadi support sistem paling utama sebelum suami dan keluarga.
Memang nggak ada yang bilang kalo jadi ibu itu mudah, tapi maha baik Allah mewariskan ilmu untuk manusia terutama ibu. menjadi bekal berharga untuk perempuan saat akan menyelami peran baru sebagai ibu. Supaya nggak salah jalan. Supaya lelahnya sepadan dengan kelak yang akan ia dapatkan. Walau perjalananya nggak semulus yang dibayangkan. Semoga enggak memutuskan untuk menyerah di perjalanan.
SHOFIYYAH TAQIYYAH
Namanya terinspirasi oleh nama bibi Rasulullah SAW yang sangat pemberani ketika terjadi Perang Khandak (Perang Parit) atau Perang Ahzab (Perang Sekutu). Shofiyyah binti Abdul Muthallib menjaga kaum muslimat dan anak-anak dari serangan orang-orang kafir. Saat seorang Yahudi berhasil menyelinap ke tempat perlindungan kaum muslimat dan anak-anak, Shofiyyah berhasil membunuhnya. Ternyata Shofiyyah juga nama salah seorang istri Nabi Muhammad SAW, putri dari pemimpin Yahudi Khaibar, Huyay bin Akhthab. Shofiyyah binti Huyay menjadi tawanan kaum muslimin dan akhirnya dinikahi oleh Baginda Nabi SAW. Shofiyyah binti Huyay dikenal sebagai wanita cerdas. Secara bahasa SHOFIYYAH berasal dari kata “shofaa” yang berarti bersih, jernih, bahagia dan menyenangkan. Harapannya, kelak menjadi orang yang ikhlas dan bersih. Sedangkan TAQIYYAH berarti takut kepada Allah. Nama kedua ini belakangan ternyata mirip dengan kebiasaan orang syi'ah, tapi saya tidak bermaksud ke situ. Shofi pernah bertanya tentang masalah ini. Saya hanya menyampaikan bahwa memang bisa menjurus ke sana tapi abi tidak bermaksud seperti itu. Karena itu, Shofi sering menggunakan nama Shofi Taqi (dulu nama di fb-nya seperti ini lalu diganti menjadi Shofiyyah Taqiyyah) atau Shofiyyah Taqi (digunakan di ILUNI UI sehingga di karangan bunga dari ILUNI UI namanya seperti itu; juga digunakan sebagai alamat emailnya: [email protected], alamat tumblr @shofiyyahtaqi dan mungkin masih ada lagi yang lainnya), sepertinya agar tidak dikatakan seperti orang syi'ah. Atau mungkin lebih enak dalam penyebutannya. Wallahu a'lam. Barusan saya temukan satu doa kelahiran anak (perempuan) yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bazzar 13/495 no. 7310 dengan sanad shahih, juga oleh Al-Hafizh Nuruddin al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid wa Manbaul Fawaid, 9/261: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِيهَا وَجَعَلَهَا بَرَّةًً تَقِيَّةً “Semoga Allah memberkahimu pada bayi ini dan semoga Allah menjadikannya sebagai anak yang berbakti dan bertakwa.” Ternyata penggunaan kata “taqiyyah” sudah sesuai syariat dan hadits, yang berarti wanita yang bertakwa (persis seperti yang saya maksud saat memberi nama tersebut). Sayang, saya mengetahui ini setelah Shofi tiada, sehingga belum menyampaikannya. Apakah harapan dari nama itu terwujud? Dari keberanian, ketulusan, keceriaan yang selalu ditampakkan dan disaksikan oleh sahabat dan guru serta dosennya, alhamdulillah Allah telah mewujudkannya. Juga ibadahnya yang sangat baik, tilawahnya khatam sebulan sekali dan 4-5 kali khatam di bulan Ramadhan, serta shalat dhuha dan shalat malamnya hampir tidak pernah tertinggal. Untuk tilawah al-Qur'an harian, seperti abangnya, saya ajarkan sejak duduk di kelas 1 SD (umur 5 th 4 bulan karena TK-nya hanya setahun), dengan metode Qiroati setiap bada shubuh dan maghrib. Dan mulai baca Al-Qur'an dari surat Al-Fatihah pada hari Jum'at, 29 Juni 2001 (akhir kelas 1) dan khatam untuk pertama kalinya pada hari Kamis, 3 Oktober 2002 (kelas 3) atau selama 461 hari. Sejak 2005 (kelas 6) khatam sekitar 2 bulan sekali. Sejak SMA sudah khatam sebulan sekali. Kalau Ramadhan, dari khatam sekali (kelas 4), dua kali (SMP), sampai lima kali khatam, termasuk di Ramadhan 1438 H (Ramadhan terakhirnya). Berikut adalah tanggal-tanggal khatam Shofi yang sempat saya catat untuk seterusnya sampai khatam ke-20: 2. 20 Mei 2003 (229 hari) 3. 28 Oktober 2003 (161 hari) 4. 9 Januari 2004 (73 hari) 5. 25 Maret 2004 (76 hari) 6. 19 Juni 2004 (86 hari) 7. 10 Nopember 2004 (144 hari) 8. 30 Nopember 2004 (20 hari) 9. 10 Pebruari 2005 (72 hari) 10. 12 April 2005 (61 hari) 11. 23 Juni 2005 (72 hari) 12. 27 September 2005 (96 hari) 13. 5 Desember 2005 (69 hari) 14. 5 Pebruari 2006 (62 hari) 15. 5 April 2006 (59 hari) 16. 4 Juni 2006 (60 hari) 17. 5 Agustus 2006 (62 hari) 18. 26 September 2006 (52 hari) 19. 8 Oktober 2006 (12 hari) 20. 22 Oktober 2006 (14 hari)
Semoga Allah memasukkan @shofiyyahtaqi ke dalam ahli Qur'an dan syuhada, bersama para Nabi, shiddiqin, syuhada dan sholihin. Merekalah sebaik-baik teman.
آمين يا مجيب السائلين
Masya Allah….
Biasanya aku kuat kayak tembok cina, tapi gak tau kenapa akhir-akhir ini malah kayak hukum di Indonesia :(
Ma, Ajarkan Aku Ilmu Agama..
Ditulis dari kajian Ummu Balqis | Masjid Al-Falah, Bambu Apus | 29 Desember, 2019
Mendidik anak itu adalah hal yang penting karena tidak selamanya orang tua selalu membersamai anaknya..
(QS an-Nisa’: 9) وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَوَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا Artinya:“Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”.
Orang tua harus mem-prepare anaknya karena tidak ada yang tahu kapan orang tua diharuskan meninggalkan anaknya.
Pernah dengar cerita-cerita pemuda hebat ini?
Adalah Sosok remaja keren, Zaid bin Tsabit, 13 tahun Usianya tapi sudah dipercaya menjadi penterjemah Rosulullah, sekaligus menjadi sosok paling muda yang ikut Kodifikasi Al-Qur'an Dibalik hebatnya Zaid, terdapat sosok ibunya, tak lain tak bukan Ummahat keceh ibunda An-Nawwar binti Malik, sosok Ibu Hebat yang tak hanya Cerdas dan Jenius… tapi juga pandai melihat potensi Anaknya. Zaid remaja yg berani, menangis manakala mendaftar di perang Badar namun ditolak Rosulullah karena badannya terlalu kecil. Ibunya membangkitkan spiritnya: Saat ini Kamu bisa berguna untuk ummat tidak dengan PEDANGMU, tapi dengan PENA mu! Ibu Zaid faham akan potensi Zaid sang “jenius kids” yang sanggup hafal Kitabullah, pandai membaca dan menulis, keterampilan yg tak banyak orang bisa saat itu. Ibu Zaid kemudian menyampaikannya potensi anaknya dihadapan Rosulullah. Rosulullah tak hanya terkesima dengan kejeniusannya, kemampuan Zaid yang hanya membutuhkan waktu 17 hari saja untuk mempelajari bahasa Ibrani, bahkan beberapa bahasa lain sanggup dipelajari dalam waktu singkat, membuat Zaid yang baru berusia belasan tahun sudah didapuk menjadi penterjemah Rosulullah. ________
Adapun mamak (dan calon mamak) jaman NOW! harus punya kiat untuk mendidik anak yang hebat:
Orang tua harus memiliki Ilmu yang mumpuni
Orang tua harus menjadi sosok teladan bagi anak
Orang tua menerapkan metode parenting ala Rasulullah
Orang tua mempersiapkan konten bahan ajar
Masa Konsepsi dan Kehamilan
Mempersiapkan anak yang hebat dimulai bahkan sejak sebelum menjadi janin loh, yaitu pada masa konsepsi, seperti berdo’a sebelum berjima. Serta kebiasaan-kebiasaan saat kehamilan, memperhatikan kehalalan makanan yang dikonsumsi, kestabilan emosi, majlis yang didatangi, dan bacaan-bacaan yang diperdengarkan pada anak selama dalam kandungan.
Masa Setelah Kelahiran
1. Step pola asuh anak 0-6 tahun
adalah fase mengisi lumbung padi cinta. Pada fase ini anak tidak boleh dimarahi sama sekali. Yagimana dan ngapain dimarahi karena pada usia ini anak belum memiliki rasa bersalah. Perasaan bersalah pada anak baru berkembang sempurna pada usia 5 tahun. Sebaliknya, daripada memarahi padahal anak juga tidak paham rasa bersalah, sebaiknya pada fase ini orang tua:
Lebih banyak memberi contoh atau teladan kepada anak melalui gerakan atau kebiasaan kita sehari-hari. Sesuai adab Rasul dan penelitian, anak pada usia ini suka menirukan hal-hal yang ia amati dan dilakukan berulang-ulang.
Melakukan hypnoparenting, yaitu dengan mendongengi anak. Pada saat sebelum tidur, saat anak mulai rileks tidak banyak bergerak, orang tua dapat memberikan doktrin-doktrin pada anak melalui cerita
2. Step pola asuh anak 7-15 tahun
adalah fase kedisiplinan. Ketika pada fase sebelumnya anak mendapatkan cukup cinta, maka orang tua saat mendisiplinkan anaknya dengan menetapkan beberapa aturan sesuai konten pendidikan pada anak, anak akan mengerti dan menaati walaupun pada awalnya tidak menyukainya. Hal tersebut karena anak menyadari bahwa orang tuanya memberikan aturan tersebut karena mencintainya dan ia mengingat betul cinta orang tuanya pada fase sebelumnya. Berbeda, jika pada fase sebelumnya (0-6 tahun) anak merasakan kurang cinta maka akan berdampak pada fase ini, anak akan cenderung menjadi pemberontak.
3. Step pola asuh anak 15 tahun keatas
adalah fase pendampingan/persahabatan/advise. Anak sudah paham tentang konsep syariah, muamalah, dsb. Anak paham adab berinteraksi lawan jenis bukan mahram dsb. Tugas orang tua adalah mendampingi.
KONTEN PENDIDIKAN UNTUK ANAK:
Tauhid (Allah esa, Allah mengawasi kita)
Akhlak (Sopan, santun)
Ibadah
Muamalah (Batasan lawan jenis, perdagangan, keuangan)
PERILAKU ANAK:
Perilaku anak adalah hasil dari 89% melihat, 10% mendengar, 1% indra lain, Dengan demikian orang tua harus lebih banyak mencontohkan pada anak dengan perbuatan daripada menasehati seperti kaset rusak namun dia sendiri tidak melakukan apa yang dinasehatkan.
Di era jaman now yang apa-apa serba gadget, sikap orang tua sebaiknya
Bijak gadget di depan anak (waktu gadget dan bebas gadget disepakati). Menspesialkan waktu keluarga, waktu meng-asi-hi anak tidak hanya transfer cinta tapi juga transfer doa, melakukan aktvitas dengan anak tidak disambi main gadget tapi sambi dengan mentransfer doa dan dzikir pada anak.
Mendampingi anak dalam bergadget dengan memberi durasi main gadget misal 1,5 jam sehari
Konten dalam gadget: apps yang direkomendasikan (Kids place, kakatu, screen time, appnofilter, kid mode, norton online family)
FYI
Kemampuan anak dalam fokus belajar sebanding dengan umurnya! anak usia 3 tahun hanya kuat fokus belajar 3 menit. oleh karena itu orang tua harus paham cara mengajarkan anak yaitu dengan belajar sambil bermain :)
Tips:
1. Parenting ala ummu balqis, buat beberapa bagian rumah menjadi stasiun-stasiun pemberhentian. Tiap titik pemberhentian ada titik tempat belajar dan bermain. Dengan seolah main kereta-keretaan, stasiun 1 sebagai tempat pemberhentian untuk belajar selama 5 menit, kemudian lanjut ke stasiun 2 untuk bermain selama 3 menit, dan seterusnya :)
2. Parenting ala tengku wisnu biasa diliat di link berikut:
https://www.youtube.com/watch?v=ljONZopZ2Jk
Kutipan dari ig @ummubalqis.blog
“Tiap anak beda! kadang kita tak sanggup melihat kelebihan anak kita karena kelemahan yg dia punya. Jangan paksa hiu untuk terbang hingga awan, dan burung untuk jago menyelam hingga dasar laut. Tiap anak Hebat dengan potensinya. Dampingi dengan optimal dengan tetap mengapresiasi anak.”
The Phenomenon Of “Crown Shyness” Where Trees Avoid Touching
TREES
Jadi istri, beratnya itu ketika kita harus tetap berbuat baik kepada suami, meskipun hati kita baru saja dilukai olehnya.
Masalah mungkin sudah selesai. Tapi kadang luka di hati tidak bisa hilang dengan sekejap mata.
Kecuali jika Allah menolong dan menghilangkan ingatan itu di kepala.
Tidak sedikit istri yang ketika marah kepada suaminya, ia tidak lagi mau melayani makannya, sarapannya, dll.
Padahal masalah kepatuhan dan pelayanan ini tidak ada hubungannya dengan perasaan kita atau sakit hati kita.
Kita mungkin sakit hati dengan ucapan suami, tapi tetap kewajiban kepada Allah harus ditunaikan. Sebab itu akan menjadi pertanggungjawaban kita di hadapan-Nya.
Pahamkan? Tolong untuk para calon istri, berilmulah terlebih dahulu. Agar kelak kau tidak menjadi istri yang durhaka sebab mengabaikan pelayananmu kepada suami saat kau sedang marah. Belajarnya di buku Menjadi Khadijah Untukmu. Klik link di bawah ya untuk order. Ongkir hanya 9k seJAWA.
Katalog Buku Gadisturatea
Ma, Ajarkan Aku Ilmu Agama..
Ditulis dari kajian Ummu Balqis | Masjid Al-Falah, Bambu Apus | 29 Desember, 2019
Mendidik anak itu adalah hal yang penting karena tidak selamanya orang tua selalu membersamai anaknya..
(QS an-Nisa’: 9) وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَوَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا Artinya:“Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”.
Orang tua harus mem-prepare anaknya karena tidak ada yang tahu kapan orang tua diharuskan meninggalkan anaknya.
Pernah dengar cerita-cerita pemuda hebat ini?
Adalah Sosok remaja keren, Zaid bin Tsabit, 13 tahun Usianya tapi sudah dipercaya menjadi penterjemah Rosulullah, sekaligus menjadi sosok paling muda yang ikut Kodifikasi Al-Qur'an Dibalik hebatnya Zaid, terdapat sosok ibunya, tak lain tak bukan Ummahat keceh ibunda An-Nawwar binti Malik, sosok Ibu Hebat yang tak hanya Cerdas dan Jenius… tapi juga pandai melihat potensi Anaknya. Zaid remaja yg berani, menangis manakala mendaftar di perang Badar namun ditolak Rosulullah karena badannya terlalu kecil. Ibunya membangkitkan spiritnya: Saat ini Kamu bisa berguna untuk ummat tidak dengan PEDANGMU, tapi dengan PENA mu! Ibu Zaid faham akan potensi Zaid sang “jenius kids” yang sanggup hafal Kitabullah, pandai membaca dan menulis, keterampilan yg tak banyak orang bisa saat itu. Ibu Zaid kemudian menyampaikannya potensi anaknya dihadapan Rosulullah. Rosulullah tak hanya terkesima dengan kejeniusannya, kemampuan Zaid yang hanya membutuhkan waktu 17 hari saja untuk mempelajari bahasa Ibrani, bahkan beberapa bahasa lain sanggup dipelajari dalam waktu singkat, membuat Zaid yang baru berusia belasan tahun sudah didapuk menjadi penterjemah Rosulullah. ________
Adapun mamak (dan calon mamak) jaman NOW! harus punya kiat untuk mendidik anak yang hebat:
Orang tua harus memiliki Ilmu yang mumpuni
Orang tua harus menjadi sosok teladan bagi anak
Orang tua menerapkan metode parenting ala Rasulullah
Orang tua mempersiapkan konten bahan ajar
Masa Konsepsi dan Kehamilan
Mempersiapkan anak yang hebat dimulai bahkan sejak sebelum menjadi janin loh, yaitu pada masa konsepsi, seperti berdo’a sebelum berjima. Serta kebiasaan-kebiasaan saat kehamilan, memperhatikan kehalalan makanan yang dikonsumsi, kestabilan emosi, majlis yang didatangi, dan bacaan-bacaan yang diperdengarkan pada anak selama dalam kandungan.
Masa Setelah Kelahiran
1. Step pola asuh anak 0-6 tahun
adalah fase mengisi lumbung padi cinta. Pada fase ini anak tidak boleh dimarahi sama sekali. Yagimana dan ngapain dimarahi karena pada usia ini anak belum memiliki rasa bersalah. Perasaan bersalah pada anak baru berkembang sempurna pada usia 5 tahun. Sebaliknya, daripada memarahi padahal anak juga tidak paham rasa bersalah, sebaiknya pada fase ini orang tua:
Lebih banyak memberi contoh atau teladan kepada anak melalui gerakan atau kebiasaan kita sehari-hari. Sesuai adab Rasul dan penelitian, anak pada usia ini suka menirukan hal-hal yang ia amati dan dilakukan berulang-ulang.
Melakukan hypnoparenting, yaitu dengan mendongengi anak. Pada saat sebelum tidur, saat anak mulai rileks tidak banyak bergerak, orang tua dapat memberikan doktrin-doktrin pada anak melalui cerita
2. Step pola asuh anak 7-15 tahun
adalah fase kedisiplinan. Ketika pada fase sebelumnya anak mendapatkan cukup cinta, maka orang tua saat mendisiplinkan anaknya dengan menetapkan beberapa aturan sesuai konten pendidikan pada anak, anak akan mengerti dan menaati walaupun pada awalnya tidak menyukainya. Hal tersebut karena anak menyadari bahwa orang tuanya memberikan aturan tersebut karena mencintainya dan ia mengingat betul cinta orang tuanya pada fase sebelumnya. Berbeda, jika pada fase sebelumnya (0-6 tahun) anak merasakan kurang cinta maka akan berdampak pada fase ini, anak akan cenderung menjadi pemberontak.
3. Step pola asuh anak 15 tahun keatas
adalah fase pendampingan/persahabatan/advise. Anak sudah paham tentang konsep syariah, muamalah, dsb. Anak paham adab berinteraksi lawan jenis bukan mahram dsb. Tugas orang tua adalah mendampingi.
KONTEN PENDIDIKAN UNTUK ANAK:
Tauhid (Allah esa, Allah mengawasi kita)
Akhlak (Sopan, santun)
Ibadah
Muamalah (Batasan lawan jenis, perdagangan, keuangan)
PERILAKU ANAK:
Perilaku anak adalah hasil dari 89% melihat, 10% mendengar, 1% indra lain, Dengan demikian orang tua harus lebih banyak mencontohkan pada anak dengan perbuatan daripada menasehati seperti kaset rusak namun dia sendiri tidak melakukan apa yang dinasehatkan.
Di era jaman now yang apa-apa serba gadget, sikap orang tua sebaiknya
Bijak gadget di depan anak (waktu gadget dan bebas gadget disepakati). Menspesialkan waktu keluarga, waktu meng-asi-hi anak tidak hanya transfer cinta tapi juga transfer doa, melakukan aktvitas dengan anak tidak disambi main gadget tapi sambi dengan mentransfer doa dan dzikir pada anak.
Mendampingi anak dalam bergadget dengan memberi durasi main gadget misal 1,5 jam sehari
Konten dalam gadget: apps yang direkomendasikan (Kids place, kakatu, screen time, appnofilter, kid mode, norton online family)
FYI
Kemampuan anak dalam fokus belajar sebanding dengan umurnya! anak usia 3 tahun hanya kuat fokus belajar 3 menit. oleh karena itu orang tua harus paham cara mengajarkan anak yaitu dengan belajar sambil bermain :)
Tips:
1. Parenting ala ummu balqis, buat beberapa bagian rumah menjadi stasiun-stasiun pemberhentian. Tiap titik pemberhentian ada titik tempat belajar dan bermain. Dengan seolah main kereta-keretaan, stasiun 1 sebagai tempat pemberhentian untuk belajar selama 5 menit, kemudian lanjut ke stasiun 2 untuk bermain selama 3 menit, dan seterusnya :)
2. Parenting ala tengku wisnu biasa diliat di link berikut:
https://www.youtube.com/watch?v=ljONZopZ2Jk
Kutipan dari ig @ummubalqis.blog
“Tiap anak beda! kadang kita tak sanggup melihat kelebihan anak kita karena kelemahan yg dia punya. Jangan paksa hiu untuk terbang hingga awan, dan burung untuk jago menyelam hingga dasar laut. Tiap anak Hebat dengan potensinya. Dampingi dengan optimal dengan tetap mengapresiasi anak.”
Repost dari IG mbak Kalis Mardiasih
Ada yang bilang, pernikahan dan cinta adalah perkara berbeda. Katanya, kamu bisa menikahi seseorang puluhan tahun tapi tetap menginginkan seseorang yang lain. Bener nggak sih?
Bagaimana agar kita yakin menikahi orang yang kita cinta dan mencintai orang yang kita nikahi? Dalam Islam, fondasi pernikahan yang utama adalah sakinah: ketenangan. Marahnya tenang, nasihatnya tenang, sedihnya tenang, apalagi bijaknya. Susah sih, tapi bukannya nggak bisa. :)
Dan dalam Islam pula, kita percaya bahwa cinta bukan milik kita. Cinta (mawaddah) akan dihadiahkan oleh Allah dalam hati masing-masing pasangan setelah sakinah kokoh. Cinta yang milik Allah itu, kita harapkan hadir kepada kita dengan cara menjadikan akhlak penuh cinta sebagai kata kerja terhadap pasangan. Makanya setiap hari kita berdoa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al Furqan ayat 74).
Ini yang doa kudu dua-duanya tentu ya. Termasuk mengupayakan sakinah agar sampai kepada mawaddah, nggak bisa satu orang saja. :)
Mawaddah (Cinta, hadiah dari Allah) itu yang konon membuat pasangan langsung kerasa kalau ada yang sakit di tempat yang jauh, mawaddah yang bikin pasangan langsung paham kalau ada hal yang kita nggak sreg, saking udah saling kenal satu sama lain.
Lalu tibalah di puncak paling tinggi dari cinta dalam pernikahan yakni wa (Rahmah). Saat kita menua, mulai bertambah banyak kekurangan, saat bisnis jatuh dan terpuruk, saat menunggu kehadiran keturunan lalu ada social pressure. Rahmah atau kasih sayang (titipan Allah) yang selalu bisa memaklumi, selalu bisa menerima, selalu bisa mengangkat dan menguatkan satu sama lain. Bisa kok, menikah sekaligus saling mencintai seumur hidup. Bisa kok terus menumbuhkan cinta sepanjang pernikahan.
Rumah, 11 Oktober 2022 10.33 wita
Dibaca lagi nanti, setelah menemukan mas-mas di masa depan wkwk
Gerimis, 11 Oktober 2022| 14.06
Si Inner Enemy vs Si Inner Friend
"Tolong ikut antrian ya soalnya kita juga sama nunggu lama vs Ya udah lah gapapa, biarin aja"
Apa itu Inner Enemy & Inner Friend?
Pernah ngerasain hal diatas ga? Kalau iya, berarti Inner enemy sama inner friend kita lagi berusaha buat menangin suara kita, disini kita harus memilih memberitahu orang yang nyalip antrian atau cukup legowo aja deh biarin. Tapi, sebelumnya ada yang pernah denger ga apa itu Inner Enemy sama Inner Friend itu sendiri?
Didalam otak kita, mungkin kita sering sekali merasakan keadaan isi kepala yang cukup berisik. Banyak banget yang ngomong macem - macem ada yang ngomong baik dan ada yang ngomong hal - hal jahat. Tak sering suara jahat yang mempengaruhi kita. Nah, suara-suara ini yang kita akan namakan sebagai Inner Enemy dan Inner Friend.
Contoh Kasus Inner Enemy & Inner Friend
Mari kita ambil contoh sederhana, misalkan ketika menemukan hal baru. Si Inner Friend bakal bilang "Coba aja kali aja seru!", sedangkan Inner enemy bakal bilang sebaliknya, "Ngapain sih, ngabisin energi aja". Atau ketika ada opportunity yang bagus, si Inner Friend bakal bilang ke otak kita "Ambil! gagal gapapa!", sedangkan si Inner Enemy bakal bilang "Gak usah macem-macem kamu gaakan bisa. Paling hasilnya kaya yang udah-udah". Begitu pun dengan sebuah kegagalan. Si Inner Friend bakal bilang "Gapapa namanya juga belajar", sedangkan si Inner Enemy bakal bilang "Tuh kan, gagal kan makanya gausah coba - coba". Akhirnya? Biasanya Inner Enemy ini memenangkan kita, dan kita pun ga jadi ngambil kesempatan itu.
Yang Baik-Baik Apakah Selalu Inner Friend?
Lalu muncul pertanyaan, berarti inner friend itu yang baik - baik dong? Jawabannya belum tentu, kadang si inner enemy ini suka menyelinap baik-baik jadi inner friend. Contohnya pas lagi antri tadi lalu ada seseorang yang maen salip salip aja.
Inner friend: Ingetin dengan sopan, kalo dia gamau dengerin ya udah Inner enemy #1: Omelin! Inner enemy yg menyelinap: Udah biarin aja, ngapain cari ribut
Ko dia inner enemy? Bukannya dengan mengalah, itu baik? Disini kita harus bisa membedakan mana yang rendah hati dan mana yang rendah diri. See, betapa jahatnya si inner enemy ini. Bayangin aja, inner enemy ini seumur hidup mengendalikan fikiran kita dan dia aga tricky, kalo kita ga bisa membedakan yang mana hati nurani, inner enemy dan inner friend. Puluhan tahun hidup kita penuh dengan kekhawatiran, ketakutan, diomelin sama si inner enemy. Coba deh temen-temen perhatiin dalem sehari inner enemy temen-temen ngomongin apa aja? Tapi, inner enemy ini bisa dikendalikan ga si? jawabannya Bisa.
Nah agar kita tidak dengan mudah dikendalikan oleh inner enemy, tentu kita harus tau ciri-cirinya. Apa aja emang? Inner Enemy ini biasanya tidak mendatangkan manfaat, Melemahkan, Membuat tidak nyaman, Membuat tidak bahagia, hingga Menyalahkan. Selain itu, biasanya bentuknya itu seperti tamak, benci/marah, delusi/bodo amat, hingga Ego.
Cara Melatih Inner Friend
Tapi kita tidak perlu khawatir, ada cara untuk melatih mendengarkan inner friend kita agar ia yang bisa memenangkan suara kita dalam segala kondisi. Apa aja?
Coba nulis 3 x 7 kalimat buat melatih diri kita mendengar inner friend. Contohnya refleksikan 3 hal ini Aku, bangga pada diri sendiri karena.. (7 hal) Aku, memaafkanmu karena.. (7hal) Aku, berkomitmen untuk.. (7 hal)
Catet tiap hari inner enemy ngomong apa aja.
Terakhir, memang benar kalau inner enemy dan inner friend ini dibentuk oleh orang-orang disekitar kita, tapi inner enemy dan inner friend ini ada di kepala kita. Nah tugas kita mengenali si inner enemy dan hanya mendengarkan inner friend kita.
Ada yang bilang, balas dendam terbaik atas kepergian seseorang adalah menjadi lebih bahagia daripada saat bersamanya.
Bukan kah itu akan lebih tepat dikatakan sebagai ucapan terima kasih pada diri sendiri? Karena sudah berusaha kuat melompati kepedihan?
Ada yang bilang "tunjukin kalau kamu bahagia, biar dia menyesal".
Belum tentu mereka menyesal. Bisa jadi justru sebaliknya. Karena tidak semuanya bisa melepas seseorang dengan ringan hati. Masih ada kekawatiran tentang perasaan orang yang mereka tinggalkan. Jadi ketika mereka tahu kalian sudah bisa bahagia dan tersenyum kembali, akan ada perasaan lega atau semacamnya
Tetep aja sakit kalau diginiin
Mengapa?
Mengapa pada setiap doamu kepada Allah, kamu selalu minta agar dikuatkan bahkan pada apa yang kamu sendiri belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Sebab kaupun paham, bahwa selemah apa dirimu ketika menghadapi sebuah ujian, meminta kekuatan bahkan pada apa yang belum pasti akan kamu lalui adalah sebentuk meminta pertolongan agar dibantu di segala keadaan.
Mengapa pada setiap doamu kepada Allah, kamu selalu minta untuk diberikan hati yang tulus, perasaan yang lapang dan juga kesabaran yang luas? Karena kamu pun juga tahu, bahwa hidup adalah serangkaian ujian yang tidak akan pernah selesai dan berhenti untuk kauhadapi. Kau minta untuk diberikan ketulusan, sebab kamu tidak mau berharap apa-apa pada manusia atas kebaikan yang telah kamu usahakan untuk hidup mereka. Kamu meminta untuk diberi perasaan yang lapang dan juga kesabaran yang luas, karena kamu menyadari bahwa hidup adalah tentang sebuah proses penerimaan, bahkan terhadap takdir yang tidak kamu sukai sekalipun. Kamu meminta untuk dilapangkan hatimu atas segala kondisi. Kamu memohon untuk diberi kesabaran atas apa yang membuatmu acapkali lelah.
Pada setiap perasaan dan juga harapan yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya muara. Semoga kau selalu dikuatkan-Nya.
Dikuatkan untuk terus berbuat baik. Dikuatkan untuk terus berada dalam kebaikan. Dikuatkan untuk terus bersyukur. Dikuatkan untuk terus bertahan dalam kesabaran. Dikuatkan untuk terus berharap balasan hanya kepada-Nya. Dikuatkan untuk terus berjalan dan tidak lemah atas berbagai keadaan yang menimpa.
Pada setiap rasa sakit yang membuatmu banyak belajar. Pada setiap kedukaan yang kamu saksikan. Pada setiap senyuman yang membuat hatimu ikut menghangat. Pada setiap pengalaman pahit yang membuatmu kian dewasa. Merupakan Rahmat Allahlah yang membuatmu masih mampu berjalan dan melanjutkan hidup setelah keinginan mengakhiri itu terus membayangi setiap malam.
Seperti hujan yang turun pagi ini, kumohon meredalah. Kembalilah kepada Allah atas segala perasaanmu yang membuatmu lelah. Karena kamu sendiri pun tahu, bahwa betapa tidak berdayanya ketika yang hilang dari hatimu adalah Dia.
Kapan Harus Menikah?
Menikah adalah the least thing i could think of in my early 20s. Lol 2 more years until i’m 30.
Waktu gue umur 23 tahun, temen-temen gue semuanya ngomongin nikah dan nikah. Pas gue tanya, “kenapa harus menikah?” jawabannya biasa aja, masih seputar “karena wajib dalam agama” atau “takut dosa lama-lama pacaran” ya udah lah ya itu terserah mereka tapi gue pengen jawaban yang lebih meyakinkan dan bersifat realita.
Di sini lah perjalanan gue mencari arti pernikahan dimulai. Gue percaya dalam Islam pernikahan aja sudah diatur tapi kembali lagi, gue menginginkan jawaban yang meyakinkan hati gue sebagai manusia biasa yang imannya kadang naik kadang turun.
Lalu, tiba-tiba gue udah 25 tahun ketika itu dan masih single. Satu per satu temen-temen gue pun menikah. Ntah udah berapa kali jadi bridesmaid, uhmm 6 kali? Ya selayaknya orang yang sudah menikah, sekarang mereka sudah memiliki anak.
Sekarang usia gue 28, masih tetep sendiri seperti tiga tahun lalu. Satu hal yang gue pelajari tentang pernikahan milenial ini, temen-temen gue yang perempuan rata-rata struggling to express themselves in front of their husbands. Suami-suami mereka punya kecenderungan nyuekin perasaan perempuan. Mungkin karena laki-laki kurang peka dan lebih mengutamakan logika kali ya.
Salah satu temen gue ada yang kalau mau baper pasti ke gue instead of her husband, suaminya kalau dicurhatin jawabannya, “kalau mau ngeluh jangan ke aku. Aku bukan tempatnya” atau ada juga yang suaminya bilang, “positive thinking aja, jangan apa-apa dibaperin”
I was like.. what?? trus istri-istri ini dianggap apa?
Yang gue sadari, as i get older, kita itu semakin baperan bukan semakin santai. Perempuan sih khususnya.
Sampai suatu hari di tahun 2020, gue main Tinder dan ngobrol sama satu cowok. Akhirnya jawaban atas doa gue datang setelah kurang lebih 4 tahun gue meminta kepadaNya.
Eitsss bukan berarti gue menikah dengan dia ya hahaha.
Jadi suatu malam ketika gue swipe right laki-laki ini, berlanjutlah dia menjadi temen chat gue selama sebulan.
Kita memiliki kesamaan, sama-sama bingung dengan karir kita di masa depan. He was close to 30 tapi gak happy dengan kerjaan dia di perusahaan konstruksi.
Malam itu, bayangin aja kita chat dan membicarakan satu dekade kehidupan kita. Ternyata kita memiliki similar penyesalan, achievements dan kegagalan yang we had been through for the past 10 years! Sampai-sampai kita memiliki cara pandang yang sama mengenai sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama hahahaha.
Chat dengan dia membuat gue sadar bahwa, betul wanita hanya ingin didengar. Wanita hanya ingin memiliki pasangan yang bisa membuatnya merasa aman. Wanita hanya ingin bercerita dan membuat dadanya merasa lega.
Dari dia, gue berfikir bahwa suami gue kelak harus melalui hal yang sama seperti yang sudah gue lalui. Kesepian, penyesalan, pengorbanan dan pencapaian.
Dari dia, gue menyadari bahwa, ketika laki-laki mengungkapkan kelemahannya, gue melihat kekuatannya.
Dari dia, gue melihat bahwa laki-laki yang masih bingung dengan masa depannya tidak membuat dia menjadi orang tanpa tujuan. Di situlah gue menemukan semangatnya.
Dari dia, gue menginginkan laki-laki yang bisa menjadi rapuh di depan perempuan bukan karena dia membutuhkan belas kasihan, tapi dia percaya bahwa gue adalah wanita yang membuatnya merasa aman untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
Dari dia, gue belajar bahwa apakah yang dilalui oleh kita dalam kehidupan ini telah membuat kita menjadi orang yang memiliki rasa welas asih dan empati yang tinggi terhadap orang lain.
Dari dia, akhirnya gue menemukan alasan kenapa gue siap menikah.
Kembali lagi ke pernikahan milenial, temen gue akhirnya mengatakan bahwa, “gue tuh dulu gak tau menikah bakal jadi kayak gini. gue gak nyangka ekspektasi suami ke gue tinggi sebagai seorang ibu dan istri. gue gak nyangka ternyata cinta aja gak cukup. Gue mau single kayak dulu lagi, lo puas-puasin ya masa single lo”
Wow to be honest ya, gue udah mikirin itu semua (yang temen gue katakan) dari duluuuu ketika mereka pengen menikah.
Memang gue jago di teori pernikahan aja ya, tapi akhirnya gue tersadar, gak papa kalian belum nikah. Temukan dulu apa makna menikah menurut diri kalian. Rencana Tuhan selalu indah untuk umatnya dan gue percaya itu.
Titik terendah dalam hidup gue di usia 26 dan 27 tahun. Temen-temen gue yang nikah antara 23 dan 25 juga mengalami titik terendah di usia yang sama kayak gue, bedanya dia udah menikah dan suami mereka tidak membantu menyelesaikan masalah-masalah temen gue. Ada temen gue yang sampe nelfon ibunya ketika mengalami post-partum dan secara bersamaan suami kurang peka, “mah aku gak kuat ngurus anak, aku bisa nyakitin diri sendiri kalo begini terus” setelah itu, nyokapnya dateng ke rumah dia dan tinggal untuk sebulan. Gue gak nyangka bahwa tidak didukung oleh suami ketika melalui post partum bisa membuat orang semarah dan seputus asa itu.
Kalau kalian yang baca ini masih di bawah usia 25 tahun, please go find yourself first. Temukan makna kehidupan ini dengan langkah kaki kalian sendiri. Gagal dulu, sedih dulu dan bahagia dulu. Temukan cara kalian keluar dan bertahan dari masalah kalian. Inget, di usia 25 tahun ke atas, masalah itu akan ada di kehidupan kita bukan sebentar tapi bisa berbulan-bulan bahkan menahun.
Gue gak nyuruh kalian buat gak nikah muda ya, tapi beneran deh, temen gue yang nelfon nyokapnya itu menurut gue dari segi agama bagusan dia dibanding gue. Tapi kita gak bisa mengukur orang dari tampilannya. Setiap orang memiliki battle you know nothing about.
Dan ini hal baru yang gue tambahin dalam list kriteria suami gue, mereka harus aware sama mental health issues. Ini bukan hal yang tabu untuk dibicarakan lagi, mental health ini menyerang orang dari berbagai macam latar belakang dan usia. Apalagi kita hidup di zaman sosial media dan pandemi seperti sekarang ini.
Menikahlah ketika kalian udah bisa menerima sifat paling buruknya dia. Menikahlah karena kalian sudah tau hak dan kewajiban kalian sebagai suami/istri dalam agama masing-masing. Menikahlah karena kalian sudah mampu secara emosional dan mental.
Untuk kalian yang sudah menikah dan telah atau sedang melalui masa sulit, kalian hebat. Bertahan dan berjuang untuk keluarga ya!
Untuk kalian yang masih menunggu belahan jiwa, semangat ya! Aku juga kok. Inget ya, menikah ketika kalian sudah bertemu orang yang tepat.
Tiba tiba tadi udah tegar aja liat sesuatu yang dulu selalu berhasil bikin baper menye menye.
Kalau ingat gimana dulu baper menye menye nya, duhhh serasa dunia ini mau runtuh.
Gak tahu gimana dunia berproses dalam memulihkan hati yang menye menye tersebut. Ya tiba tiba tegar aja udah. Menerima bahwa ternyata cerita nya hanya sampai gini doang :)
Ya gitu. Kelar satu masalah, masih ada masalah baru yang nunggu :)
Senyumnya kakaaaa iyaakk, lihat kameraaa