Bye 22, my second twin number.
Bismillahirahmanirrahim...
Ya, segala sesuatu sebaiknya dibuka dengan doa pembuka. Tapi, bukan demikian menjadikan saya orang yang relijius, melainkan orang yang masih percaya sama Tuhan. Sudahlah, Dit, itu bukan bagian yang ingin dicurahkan. Namun doa tersebutlah yang saya ucapkan untuk mengawali saya memasuki umur 22 tahun.
Umur 22 saat itu, setahun yang lalu, merupakan umur yang saya nantikan untuk menutup umur 21 tahun saya yang buruk, ya buruk, suram bisa dibilang. Dan tak terasa dalam hitungan menit lagi angka 22 pada umur saya akan berganti 23.
Disini saya hanya ingin mencurahkan apa yang telah saya lalui dan bahkan saya capai pada umur 22 tahun. Banyak pelajaran berarti yang jelas saya telah gapai. Dimulai dari impian, kenyamanan, kesetiaan, loyalitas, profesionalitas, pendewasaan, kekecewaan, pengharapan, kemaksiatan, kejujuran, ketidakjujuran dan perpisahan. Terdengar sedikit melankolis atau agak sedikit dangdut? haha, biarlah.
Hal-hal bahagia tentunya banyak yang telah saya dapat, namun sayangnya justru hal yang tidak menyenangkanlah yang justru sering teringat. Mungkin untuk mencapai sebuah pendewasaan diri, saya harus dicoba melalui banyak hal yang tidak menyenangkan. Maka beruntunglah kepada kalian manusia yang dapat mengalami pendewasaan tanpa harus dengan cobaan yang datang. Refleksi diri saya akan pendewasaan diri memang belum terlihat, namun sesungguhnya banyak perubahan yang diri saya sendiri lebih tahu dan rasakan akan pendewasaan tersebut. Pendewasaan bagi saya merupakan proses didalam diri saya dimana saya dapat menghadapi masalah yang belum pernah muncul dan mencoba berusaha keras mencari jalan keluar bahkan menyelasaikan masalah tersebut sehingga jika masalah serupa datang lagi, saya tahu apa yang sebaiknya saya lakukan.
Pengalaman-pengalaman baru akan loyalitas dan kesetiaan menjadi headline di umur 22 tahun saya. Banyak kejadian yang langsung saya alami mengenai hal tersebut. Dan kini, sekarang, saya lebih memaknai mendalam akan loyalitas dan kesetiaan. Dua hal tersebut bukan selalu bersingungan dengan kisah percintaan, namun jauh lebih kepada relasi saya dengan banyak orang yang silih berganti mengisi hidup saya di umur 22 tahun.
Kedepannya, di usia yang sudah bukan remaja lagi, 23 tahun, pastinya saya harus menjadi manusia yang lebih baik. Basi terdengarnya, namun apalagi yang mau saya harapkan. Dan lagi pula, saya tak mau lagi mersakan kekecewaan dari harapan yang gagal diraih. Maka dari itu, bismillah, saya akan memulai membangun masa depan saya akan dunia sesungguhnya dari fondasi yang saya dapat selama 22 tahun hidup didunia, kearah yang lebih baik. :))
Menutup refleksi diri saya, ada sebuah kutipan bagus "What we cannot speak about we must pass over in silence." - Wittgenstein.