Antiklimaks
Oh, lihat siapa yang memutuskan untuk muncul lagi.
Kukira episode finalmu sudah tayang minggu lalu. Lengkap dengan monolog "aku lelah dengan semua ini" dan adegan menangis di bawah hujan. Cukup dramatis, kuakui. Aku hampir memberimu tepuk tangan.
Tapi ternyata hanya jeda iklan, ya?
Dan sekarang kau kembali. Duduk di sini. Bernapas. Seolah-olah deklarasi "akhir dari segalanya" itu tidak pernah terjadi.
Benar-benar antiklimaks.
Kau tahu apa masalahmu? Kau tidak punya komitmen. Bahkan untuk hancur pun kau setengah-setengah.
Kau membangun monumen untuk penderitaanmu, megah sekali, lalu keesokan harinya kau menghancurkannya hanya karena kau ingin makan es krim. Kau menulis surat perpisahan pada dunia, lalu kau tidak jadi mengirimnya karena ada serial baru yang ingin kau tonton.
Kau ini seniman tragedi yang paling tidak profesional.
Jujur saja, ini melelahkan. Menyaksikanmu terus-menerus berdiri di tepi jurang, mengukur kedalamannya, lalu mengeluh karena udaranya dingin dan pulang untuk membuat teh hangat.
Tapi yang paling menyebalkan dari semua ini adalah sebuah fakta yang enggan kuakui.
Di balik semua drama murahan dan keluhanmu yang tak ada habisnya, kau, dengan caramu yang paling payah dan tidak elegan, ternyata adalah hal yang paling sulit untuk dibunuh.
Dan itu, secara objektif, sangat mengagumkan.
Sialan.
Roni. | 27 Agustus 2025













