Pertemanan Diri Sendiri
Dulu, sebelum usiaku menginjak angka dua. Bergaul adalah investasi paling menyenangkan. Banyak tongkrongan, banyak kenalan. Bonusnya menjadi terkenal. Hehe, banyak sapaan saat kesana maupun kesini.
Lucunya saat itu, Semakin aku banyak menyapa dan tertawa, semakin aku merasa lelah. Sampai rumah, energi terasa terkuras habis. Saat itu, kukenali diri semakin dalam juga. Bahwa, healing ku bukanlah bersama dengan keramaian ramah tamah hahahihi, namun malah sendiri dan menepi. Oh.. jadi ternyata aku introvert ya(?)
Sampai pada usiaku telah menginjak angka dua atau setelahnya, mungkin. Aku menyetujui dari sekian banyak pendapat. Bahwa semakin dewasa, frekuensi pertemanan akan mengecil. Resonansi akan menyempit. Memilih sedikit dari sekian banyak tawaran untuk ngafe. Menjadi ekstrovert dari lingkup pertemanan yang itu itu saja. Namun, mampu membuat kita untuk untuk tampil dengan jujur.
Level selanjutnya mungkin lebih berat, perjalanan dalam sosial mengantarkan kita akan kenyataan bahwa menjadi palsu bukanlah sebuah kesalahan atau dosa. Namun, semacam tuntutan dan akhirnya menjadi kemampuan wajib dalam berhubungan. Saat, kita handal memilih, memilah dan memakai berbagai topeng. Waktu akan membuka tabirnya, bahwa pada saat tertentu kita akan menampilkan diri asli yang lain pada ia yang kita percaya. Atau tak sengaja kita percayai. Pun sebaliknya, semakin kita dipercaya atau setidaknya sampai orang lelah berpura-pura. Tabiat aslinya akan nampak.
Tuhan Maha Adil, baik dan buruk adalah selera. Syukur jika ia atau kita mampu menerima sifat menyebalkan dari setiap manusia. Ingat ya, dalam diri setiap manusia selalu ada sifat menyebalkan. Saat kita membenci sifat menyebalkan setiap orang mungkin disisi lain ada orang yang menerima sifat menyebalkan dari kita. Maka, bijak bijaklah dalam membuka diri.
Level bersosial paling logis adalah saat aku menyadari. Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah diri sendiri. Satu-satunya yang lapang menerima adalah diri sendiri. Bahwa, semakin kita tumbuh, semakin timbul rasa sadar bahwa segala yang datang ialah bantuan, stimulan, atau mungkin semacam makanan bagi diri.
Iya.. diri sendiri.















