Salah satu hal yang belum terbiasa bagiku adalah bertamu dan menerima tamu.
Asli, setelah bertahun-tahun mencari akhirnya menyadari dan paham sebabnya. Dari dulu, rumahku jarang kedatangan tamu. Bahkan aku pernah berhari-hari kepikiran ketika teman-temanku mau datang ke rumah. Ditambah di rumah jarang ada makanan. Punya kulkas pun baru akhir-akhir ini. Bukan karena miskin akut, tapi memang jarang nyetok makanan. Beli sekadar untuk kebutuhan hari itu.
Ternyata, setelah kerja, aku baru kepikiran ini. Sering aku bertamu dan paling memorable ketika bertamu di rumah orang Minang, aku dijamu macam-macam bahkan pulangnya dibawain makanan. Sedangkan aku sebagai orang Jawa, bermewah-mewah dalam makanan itu jarang.
Lama aku berpikir tentang ini. Sampai akhirnya aku membuat keputusan dan beberapa rencana. Kelak, jika Allah perkenankan aku punya rumah, aku akan buat rumah yang nyaman untuk tamu. Aku pun akan setok makanan jika sewaktu-waktu ada tamu.
Sekarang -meskipun gak banyak- aku sediakan makanan meski lebih sering untuk diri sendiri. Maksudku, setidaknya rumah gak kosong banget dari makanan meski ya gak boleh berlebihan juga.
Karena kebiasaan ini -jarang bertamu dan didatangi tamu- membuat diriku punya kesulitan untuk menerima orang. Di rumah pun, bahkan ketika aku ingin memanggil mbok mbok pijat, orangtua kebingungan menjamunya. Bukan karena gak ada, tapi ya karena terbiasa tidak ada tamu.
Selain itu aku susah menerima orang asing di rumahku. Susah untuk berbasa-basi. Dan lebih senang menyembunyikan ke-punya-an ku. Sebegitu besar pengaruhnya ternyata.
Akhir kata, salah satu kesadaran lain dari memikirkan ini adalah; seretnya rezeki. Ini mungkin ada hubungannya. Atau kalau mau berusaha lebih, bisa mengaitkan dengan lancarnya rezeki berbanding lurus dengan menyambung silaturahmi.
Wallahu'alam












