Tak pernah terpikirkan sebelumnya, pengalaman sederhana seperti berteman ternyata bisa melahirkan kompleksitas bercabang. Meski pijakan awal kita adalah keluarga, namun proses berteman mengambil andil lebih banyak dalam membentuk pribadi kita karena frekuensi keterlibatan dan keterikatan kita padanya. Saya kembali selalu teringat dengan anjuran untuk berteman dengan pedagang minyak wangi, apabila kita ingin selalu harum. Namun lebih dari sekadar “menjadi”, layaknya hubungan secara general beberapa pertemanan butuh asupan timbal-balik yang rutin.
Kembali saya sadari setelahnya, ternyata, baru bisa dinamakan berteman jika kita sudah bisa saling berkorban untuk saling mengisi, tanpa merasa dikorbankan. Pertemananmu tidak hanya kompleks, namun kompleks dan ada yang rela menyederhanakannya. Tandanya apakah pertemananmu sudah masuk kriteria saya, lihat sisa-sisa rasamu karena yang betul akan meninggalkan set perasaan yang luar biasa indah. Bukan suatu lonjakan kenyamanan sesaat, melainkan menjadi hal yang terpelihara dan selalu bertumbuh menuju pengertian yang lebih mengerti, seperti yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bukankah itu yang tertinggal setelah kita saling berbagi?