Saat ini cuaca sedang tidak baik ya, rasanya seperti mood seseorang yang naik turun. Kadang senang, kadang sedih. Begitu pun kali ini suasananya sendu sekali. Belum hujan, tetapi gemuruh sudah terdengar. Seperti manusia yang sedang dalam kekacauan, kebingungan, kekalutan, putus asa.
Pandangan ini mengawang terus ke atas sana hanya untuk sekadar mendapat pengharapan. Bahwa aku dapat melalui ini semua. Membawa titik terang pada masa depan yang hampir kacau. Meski sebenarnya harapan itu kecil sekali, tertutupi oleh keputusasaan yang hampir merenggut segalanya.
Lamunanku pecah oleh anak kecil yang tetiba menarik ujung bajuku, menawariku segelas teh hangat. Dengan gerak isyarat menyuruhku untuk cepat meminumnya karena akan segera dingin. Aku tersenyum kecil mengusap kepalanya. Setelah itu, ia duduk disampingku memainkan boneka kelincinya yang sedikit usang.
“Aku ingin cepat dewasa.” Ucapnya tetiba dalam keheningan.
“Biar cepat kerja, dapat uang, bisa beli banyak mainan.” jawabnya.
Aku terkekeh mendengar jawabannya.
“Nanti aku belikan yang baru, ya. Sekarang kamu puas-puasin mainnya. Nikmatin waktu kamu saat ini karena di luar sana banyak orang dewasa yang ingin kembali menjadi anak-anak.” ucapku tanpa sadar membawa topik berat dalam obrolan kali ini.
“Kenapa orang dewasa ingin jadi anak-anak lagi?” tanyanya heran.
“Karena menjadi anak-anak senang tidak banyak yang dikhawatirkan cuman main, lari-lari, gak perlu kerja.” jawabku sekenanya.
“Tapi kan gak punya uang.”
“Iya. Banyak waktu tapi gak punya uang. Orang dewasa banyak uang tapi gak punya waktu untuk bermain atau bahkan sekadar tidur.”
“Kerja capek, ya? sampai gak punya waktu buat tidur.”
“Kalau kamu menyukai pekerjaannya tidak akan terasa capek, kok.”
“Kalau begitu nanti aku mau kerja yang gak capek ah.”
Mendengar jawabannya aku terkekeh, “Tidak ada pekerjaan yang gak capek, dik. Semua pekerjaan itu melelahkan.”
“Terus ngapain kerja kalau capek?”
“Karena kita membutuhkannya. Bukannya kamu juga bilang butuh uang untuk membeli mainan baru. Manusia juga butuh uang untuk hidup, membeli makanan, pakaian, minuman, obat-obatan. Meskipun banyak yang bilang uang bukan segalanya, tetapi faktanya segalanya membutuhkan uang.”
“Ish pusing kali lah. Berdoa saja lah minta pada Tuhan untuk kirimkan uang satu truk. Kata Ibu kalau kita menginginkan sesuatu berdoa saja, nanti Tuhan kabulkan.”
“Haha, iya kamu benar. Berdoa lah dengan yakin bahwa apa yang kamu inginkan akan terkabul, tetapi dengan satu syarat jangan hanya duduk diam tapi juga diusahakan: belajar, bekerja, dan berusaha.”
Obrolan kita memang tidak panjang terkesan sederhana, tetapi memukul diri begitu dalam. Si kecil polos ini nantinya akan tumbuh dewasa yang kuharap tak memikul beban yang cukup berat. Seandainya kepolosan itu menyadari bahwa masa depan atau dunia orang dewasa begitu keras. Mata yang berbinar itu rasanya akan redup. Aku memandangi diri di pantulan jendela.
“Iya, seperti ini. Redup.”