Aku membenci waktu-waktu sibukmu. Mereka selalu bisa membuatmu baik-baik saja melupakan aku.
—duatigadesember
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China

seen from Türkiye
seen from Russia
seen from Canada
seen from United States
seen from Ukraine
seen from Russia

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from China
seen from China
seen from Russia

seen from Ireland
seen from Egypt
seen from Australia

seen from Japan
Aku membenci waktu-waktu sibukmu. Mereka selalu bisa membuatmu baik-baik saja melupakan aku.
—duatigadesember
Yogyakarta.
Di sini.
Tempat paling tepat untuk pulang setelah pelukanmu.
Senja nya paling dirindukan, hujan nya paling dinantikan. Dimana hujan paling syahdu hanya ada di langit kota ini. Dan senja paling hangat hanya ada di sudut kota ini.
Dari kota ini, aku paham definisi rindu.
Jika KBBI mendefinisikan rindu sebagai sebuah keinginan dan harapan terhadap sesuatu yang sangat;
Sedang aku mendefinisikan rindu ialah kamu.
Kamu yang menjadi titik dari setiap kalimatku. Kamu yang menjadi terang setelah gelap dari senjaku. Kamu yang menjadi arah dari setiap kepulanganku. Kamu yang menjadi akhir dari setiap pencarianku. Kamu yang menjadi rumah tempat pulang melepas lelahku. Kamu semesta; yang berotasi di kepalaku.
Di sini.
Di Yogyakarta, pada bulan Desember.
Aku mencintai segalamu.
Sebuah perbincangan mengenai kita
@hujansaatsenja dengan @duatigadesember
Tentang Kamu
Selamat datang, kenangan. Saat ini hanya kamu yang aku miliki. Satu-satunya yang tersisa dari kepergiannya tempo hari. Aku yang telah kalah atas ketidaktahuan rasa di antara kami.
Setelah detika kian lalu, aku taklagi bisa menafsirkan semua langkah yang bergerak bisu; jejaknya hilang satu-satu.
Hingga pada akhirnya, aku menjadi bagian yang tertinggal ketika dia mulai menapaki masa depan. Sebab kami yang dulu ada, kini menjadi dua yang terluka.
Buat apa mempertahankan kalau memang seharusnya melepaskan? Luka itu mencipta antara diriku dan realita; satu-dua detik, mataku membuta. Lepaskan. Bila itu melegakan.
Detik kemudian menjadi bagian lain dari diriku yang berontak, seolah ada rusak terkoyak. Lalu, waktu sekitarku mendadak beku. Merelakan memang taksemudah berkata-kata, terlebih perihal kata “kita”. Bahkan untuk menerima semua ini, rasa-rasanya aku seperti mau mati.
Benar, langkah yang kulalui selama ini telah mati; busuk menjadi layu bunga yang pasrah menatapi kepergian itu. Hidupku hanya sekali. Bertahan, hanya akan membunuhku, berkali-kali.
Namun, hidup di dunia yang tidak ada dia di dalamnya rasa-rasanya aku takbisa. Dia sudah menjadi bagian dari diriku. Tanpanya, aku seperti mati tercekik kehilangan udara.
Hadirnya, menjadikan langkahku gugur; satu-satu. Semestaku runtuh tanpanya. Jatuh ke pelukan bumi, bersama kenangan kita. Tapi, aku punya kehidupan. Meski (mungkin) dengan susah payah, aku melangkah.
Semua ini tentang kamu, Hana. Selalu tentang kamu.
Aku menyesal, Hana. Mengapa aku takberani, sepengecut itu. Aku membuatmu menunggu puluhan purnama. Aku terlalu takut dan tenggelam daam imajiku tentang ikatan persahabatan. Aku mencintaimu, dari awal kita bertemu.
Namun, aku ternyata hanya menonton pentas perpisahan kita. Menepuk tanganku di udara. Aku sadar betul perihal kemungkinan-kemungkinan yang datang; perihal tidak ada namaku di dalamnya. Meskipun begitu, aku takpernah mengatakan “pergi” untukmu. Sampai, kamu yang melakukannya.
Meskipun begitu, aku berterima kasih kepadamu. Mencintaimu membuatku menjadi diri sendiri dan kukira kamu juga, Hana. Dengan hadirku kamu bisa tersenyum bahagia. Meski hari ini, aku bukan penyebabnya.
Dan dengan pergi, aku bisa mencipta kemungkinan-kemungkinan yang baru; menerabas masa silam yang tertahan di kamu. Mungkin dengan begini, aku bisa benar-benar hidup kembali.
Setelah ini, dunia akan kembali berotasi. Meski duniaku mungkin takkan berotasi padamu. Sekali lagi, terima kasih sudah pernah mencintaiku dan menunggu dengan begitu.
Sebuah dialog antara hati dan kepala,
@duatigadesember dan @ariqyraihan
Yogyakarta — Bogor,
18 Agustus 2017 | #KolaborasiAgustus edisi 7
Hubungan kita hanyalah dua insan yang biasa disebut teman. Meski sebagian dari mereka percaya, dekatnya pria dan wanita hampir takmungkin jika takada apa-apa. Benar saja, entah sedari kapan rasa ini bermula. Yang kutahu, sejak mengenalmu, ada yang diam-diam kusebut dalam doa.
Benarkah ini cinta? Atau sekadar nyaman karena terbiasa bersama? Selalu ada kecamuk yang takbiasa ketika kita berdua berjalan seiringan, menyambangi setiap sudut kota. Bercengkerama, renyah dalam tawa yang meruntuhkan segala dinding pembeda.
Apapun itu, yang kutakutkan sekarang ialah jatuh cinta sendirian. Dengan aku yang menunggu dan kamu yang tidak benarbenar tahu. Namun, aku masih sengaja menyelipkan kata semoga di sela percakapan kita. Semoga kamu merasa, semoga bisa bersama.
Siapa sangka bahwa pada akhirnya rasaku bersambut. Tanganmu terulur menggenggam harapan yang kupeluk dalam senyap. Katamu, kita akan terus bersama sampai esok bahkan ribuan lusa. Jika kata selamanya itu memang tiada batas hingga, seperti itulah janji kita untuk saling menjaga.
Meski mereka masih saja berkata, jarak terjauh yang sulit ditempuh bukan perkara angka, tetapi antara surau dan katedral. Namun, denganmu aku bisa menjadi sebaik-baiknya manusia. Sebab darimu aku belajar arti menghormati, bahwa setiap perbedaan dari kita indah dan bermakna.
Bukankah Sang Pencipta itu Esa, hanya pelafalan nama oleh kita yang berbeda. Baik aku dan kamu sama-sama menguatkan, bahwa perbedaan tidak serta merta merantaskan tali cinta. Perihal dosa biar menjadi rahasia Sang Maha Cinta. Meski kerap dilabelkan oleh mereka untuk kita.
Namun, suatu ketika, entah berlari ke mana toleransi yang selama ini kita agungkan. Hujan bulan Desember melatari sebuah pergi yang takterbantahkan. Diorama perayaanmu yang penuh suka cita, menjelma menjadi belantara dinding pemisah yang arogan.
Lalu, di mana istana bernama tenggang rasa yang sejak lama kita bangun bersama? Apa ia hancur begitu saja ditelan masa? Sehingga kamu dengan mudahnya menyalahkan keadaan. Bahkan pada hal yang sebelumnya tak pernah kita permasalahkan.
Detik itu, aku dan kamu kembali asing, selaiknya persimpangan jalan yang berbeda haluan. Kita berjalan saling memunggungi, menuju alamat Tuhan dengan akidah masingmasing. Mungkin benar bahwa jarak terjauh ialah perbedaan keyakinan; antara salibmu dengan tasbihku.
Kini, di sepertiga malam aku menghamba pada-Nya, memohon ampunan, sebab telah menentang takdir yang telah digariskan. Memaksa untuk menyatukan hal yang sejatinya memang harus ada sekat. Kueja tafsir ayat dalam kitabku dengan seksama, seketika tumpah genangan dari pelupuk mata, aku tersadar bahwa firman Tuhan menyuratkan dengan sangat nyata, jalanku dan jalanmu menuju-Nya tidak akan pernah sama.
Yogyakarta - Tangerang 7 April 2017 @duatigadesember - @hujankopisenja
Berlarilah sejauh yang kamu mau, dan tinggalkan saja hatiku. Kelak kamu akan mengerti. Di titik yang sama kamu melangkah pergi, di situ kita akan bertemu kembali; entah sebagai kenangan atau masa depan.
Duatigadesember
Bersamamu aku benar-benar merasa bahagia. Hingga aku lupa, kau bisa pergi meninggalkanku kapan saja.
Duatigadesember
Jika jatuh adalah satu-satunya caraku untuk mencintaimu, maka biarkan aku jatuh saja, biarkan berdarah-darah terluka, biarkan semua patah. Sebab aku tahu, bangkit berdiri tak lebih baik jika itu tanpa kamu.
Untuk berhenti mencintainya. Kamu hanya perlu mencintai orang lain; dirimu sendiri.